Yang Panduan Pria di toilet Wanita

Kurang lebih artinya begitu :DThe men’s guide to the women’s bathroom” adalah buku pertama dari Jo Berett yang diterbitkan tahun 2007 silam dan baru masuk Indonesia di bawah penerbitan gagasmedia May 2009 lalu. Bercerita tentang Claire, post-divorced woman, yang bercerai dari suaminya yang kaya sekali karena si suami berselingkuh. Berusaha mengobati patah hatinya, dia mengikuti program “New Divorced Diving Club” sayangnya, baru sampai pantai, dirinya mengalami infeksi sinus hebat yang membuatnya hanya duduk diam.

Lalu Claire, serambi merutuki penyakitnya, teringat kata kata ibunya “Belajar keahlian baru akan mengalihkan pikiranmu.” Setelah berpikir lama, akhirnya, dia memutuskan untuk menulis, setelah terinspirasi oleh kata kata seseorang di dalam toilet; “laki-laki nggak akan nikahin cewek yang kelihatan terlalu pengen“.

Sejalan dengan kisah cintanya yang baru, proses pemulihan diri dari patah hatinya serta keputus asaannya, Claire terus menulis “kisah kisah toilet” yang dia temukan. Ketimbang menjadi “panduan pria” buku ini lebih mirip cerita si Claire.

Tapi, konsep “daftar toilet” yang dituliskan Jo Berett very creative yet hilarious. Kelebihan dan kekurangan buku ini adalah di karakter, ya, karakter karakter wanita di buku ini adalah wanita wanita putus asa yang menjadikan pria berada di top of the list mereka. Kelebihannya, buku ini indonesia banget! Dimana para wanita di pertengahan 30 dan 40, ketika sudah memiliki karir mantap, dihantui oleh pria, hubungan dan seks. Sedang ini lah kelemahannya, di US sendiri, keadaan “wanita putus asa” ini sudah tidak sinkron di tahun 2009, bagi mereka, buku ini adalah klise klasik awal 80an.

Sayangnya, karena buku ini “Indonesia banget” maka saya jatuh cinta sama buku ini :mrgreen: apalagi cara alih bahasa gagasmedia tidaklah sekaku gramedia. Entah buku ini memang “gaul abis” atau penerjemah dari gagasmedia yang keren.

Banyak sekali kutipan kutipan cerdas (dan memang cerdas) dan witty di buku ini. Bagi saya, membaca buku ini ibarat mendapatkan barang “buy two in one price”. Yap, selain berisi drama Claire, buku ini memang memberi “panduan” mengapa wanita berlama lama di toilet dan apa saja yang mereka bicarakan di sana, seks, gay, patah hati, pernikahan, yang di benci dari toilat, semuanya yang diperlukan untuk memahami wanita secara instan!

Spoiler :

Oke. Tuan-Tuan. Ada hal penting yang harus kalian ketahui. Ketika kalian berkencan dan kebetulan kalian bertemu dengan mantan pacar, mantan pacar kalian akan beranjak ke toilet dengan sahabat-sahabat perempuannya. Bersama-sama, mereka pasti akan menghujat teman kencan kalian, dari ujung rambut hingga ujung ke kaki.

Obrolan mantan kalian dan sahabat-sahabat perempuannya mungkin akan terdengar seperti ini…

‘Lihat nggak cewek yang bareng Scott? Oh. My. God. Dia betul-betul dapat sisa-sisa sekarang, kan? Rambutnya itu loh…, di-dye sendiri pastinya. Ampun, deh. Dia kayak mesan pengantin perempuan dari Rusia via katalog gitu.’

‘Dan bajunya dong. Halooo…, situ pikir situ oke pake pink kayak pemeran Pretty in Pink Molly Rignwald?’

‘Maksudku, ngapain, sih, gini hari pakai baju babydoll dan pakai berlian palsu segala? Pasti belinya di acara Home Shopping Network, deh.’ “

Oh boys, believe me, we are that bitch.

Yang Rose Red

Siapa yang udah nonton Rose Red? Rose Red adalah mini series yang ditulis oleh bapak horor Stephen King.

Diputar awal tahun 2002 di ABC. Miniseries berdurasi 254 menit (4 jam 14 menit) ini menceritakan sebuah rumah (atau mansion?) “Rose Red” yang dibangun oleh John Rimbauer untuk istrinya Ellen Rimbauer. Sayangnya rumah ini dikutuk karena menggunakan tanah Indian (cmiiw) lalu mulailah satu per satu pekerja konstruksi nya meninggal dengan cara yang tidak wajar, bahkan teman kerja, saudara dan John Rimbauer sendiri meninggal di rumah itu. Sampai puncaknya Ellen Rimbauer sendiri menghilang pada tahun 1950. Sampai tahun 1970an (cmiiw) di catat 26 orang meninggal “dimakan” rumah ini. Setelah itu, tidak lagi terdengar adanya gejala psikis dari Rose Red.

Dr. Joyce Reardon adalah seorang dosen Fenomena Psikis di Universitas Beaumont yang terobsesi dengan Rose Red. Dengan biaya kampus yang cukup besar, dia mengundang 6 orang cenayang (atau orang orang yang punya kekuatan psikis lainnya) untuk berekspedisi “membangunkan” Rose Red. Karena bagi Dr Joyce, Rose Red adalah “Sel mati”. Bagi Dr Joyce, ekspedisi ini berbuah seperti apa yang dia inginkan, tapi butuh banyak tumbal untuk itu.

Sudah nonton? Kalo belum, saya cuma ngerekomendasiin 3 jam pertama film ini aja *giggling* Openingnya bagus, kekuatan karakternya begitu di awal dapet semua, penceritaan bagaimana Rose Red memakan penghuninya juga bikin merinding. Sekitar 2 jam pertama nonton ini, saya cuma bisa gigit bantal sambil teriak “keparat kau yang merekomendasikan film ini!” lalu ga bisa tidur dengan lampu mati. Gyaaaaaaaaaaaaa… kalo inget, merinding lagi. Berbeda dengan setan indo yang banyak “penampakan”, setan barat lebih banyak ke arah “peringatan” dengan pintu yang membanting banting sendiri atau lampu mendadak mati atau pintu lemari yang terbuka sendiri yang tentu saja (buat saya) efeknya membuat saya merinding disko. Tapi begitu sejam terakhir atau ketika salah satu dari 6 orang peneliti tersebut mulai “dibunuh” ceritanya mendadak blunder. :mrgreen: apa lagi endingnya bikin sebel dan malah nggak mengerikan. Minta di tabok itu sutradaranya, apa gara gara filmnya 4 jam trus pemainnya jadi lupa karakternya ya?

Houses… are alive. This is something we know. News from our nerve endings. If we’re quiet, if we listen, we can hear houses breath. Sometimes, in the depth of the night, you can even hear them groan. It’s as if they were having bad dreams. A good house cradles and comforts, a basd one fills us with instinctive unease. Bad houses hate our warmth and our human-ness. That blind hate of our humanity is what we mean when we use the word ‘haunted’.” (Ellen Rimbauer)