Yang Terhempas

Ada kenyataan kenyataan yang tak bisa diubah.

Mungkin waktu mampu, tapi aku terburu buru.
Aku memupuk apa yang tak perlu di rawat.

Duri, Racun, Kejahatan dalam hati yang akhirnya menggelapkan mataku.

Pada akhirnya yang menjadi lawan dalam perang ku bukan lah dia, atau kamu.
Tapi perasaanku.

Yang memang seharusnya dimatikan saja.
Yang seharusnya aku menyerah saja,
dan tidak merawatnya,
dan tidak menikmatinya.

Terbang,
tanpa persiapan,
terhempas,
jatuh.
Pada akhirnya hanya diriku yang akan remuk redam tinggal serpihan.

Pada akhirnya aku harus berkawan dengan waktu,
menunggu,
tersikut,
terbakar,
tapi tetap diam,
membiarkan dia bersamamu.
Toh aku bukan siapa siapa mu.

Sama seperti lingga lingga sebelumnya.
Seharusnya aku menganggapmu,
bagian dari petualangan yoni yang kesepian.

Yang Orange

Ketika saya bersama orang kantor sedang melawak di sebuah toko buku jogja [eh, jadi saya ini kerja dimana, sebagai apa sih? kok job desc nya pelawak?] saya membeli tiga buah buku, Rumah Lebah, Goloso Geloso dan Orange. [dan percayalah, saat itu saya sedang dihipnotis oleh mbak mbak penjaga tokonya] Setelah cukup kecewa dengan Rumah Lebah, dan Goloso Geloso ternyata terlalu teen lit buat saya, maka saya pun agak ogah ogahan baca Orange.

Tapi setidaknya kutipan di halaman judul bikin saya cukup penasaran. Ya, “bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.”

Orange sendiri bercerita tentang dua orang yang dijodohkan karena orang tuanya adalah sahabat karib dan tentu saja, klise, teman bisnis yang sama sama kaya. Hanya saja, dua orang ini, seperti cerita novel lainnya, punya dua kepribadian yang berbeda, namun tidak ada tanda tanda penolakan dari mereka berdua.

Satu satunya yang “seharusnya” jadi penghalang dua orang ini bersama adalah ambisi. Namun pada sejalan nya cerita, ambisi itu tidak jadi penghalang, hanya jadi bumbu yang ringan. Lalu dimana konflik novel ini? Jawabannya tidak ada.

Orange adalah cerita dua orang naif yang sama sama mudah jatuh cinta, walaupun membatasi diri dengan ambisi pekerjaan dan cinta masa lalu, tapi masalah masalah hanya datang dan pergi begitu saja tanpa memberikan ruang untuk dua tokoh utama berusaha mengejar apa yang mereka anggap cinta. Baik pada pasangan, atau pekerjaan.

Maka, konsep orange adalah bittersweet bikin saya nepok jidat. Novel Orange sendiri cukup manis, naif, kekanakan. Tidak seperti hidup yang sesungguhnya penuh lubang dan duri. Saya sendiri suka dengan novel ini, ringan, lumayan bikin senyum senyum, dan tentu saja bikin mupeng.

“Aduh, kapan ya hidupku hanya sependek novel dengan ending bahagia.” :)