Yang Tempat Nongkrong di Jogja

Sebetulnya bahasan ini tanpa sengaja ter-kultwit-kan jam 2 tadi pagi. Iseng aja mungkin nulis ulang di blog biar lebih rapih.

Jadi, awalnya bahasan beginian muncul gara-gara nonton Dharma for Music di Skybar Lounge di All Seasons Hotel. Dharma sendiri adalah band indie yang lagi ngehits – ngehitsna di teman – teman online jogja dan punya regular show di Skybar Lounge. (Sila cek soundcloud mereka, blog, ataupun akun twitternya)

Karena regular, otomatis saya dan teman-teman jadi sering menyambangi Skybar Lounge. Skybar Lounge sendiri belum lama hadir di Jogja, mungkin sekitar kuartal akhir 2011 kemarin lah. Masalahnya, semakin lama, harga minuman di sana melambung terlalu pesat. Jadi, dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan, harga punch drink yang awalnya hanya 11 ribu rupiah saja, sekarang menjadi 18 ribu rupiah, belum termasuk pajak. Pajaknya sendiri 10% + 10%, jadinya 21%. Untuk konsumen langganan tentu saja jadi mengejutkan, karena kenaikan harganya beneran njemplang sejak “perkenalan”. Kesannya kita dikenalkan dengan wajah ramah, e ternyata penguras dompet juga.

Nah, berbekal dengan pengalaman saya sebagai anak gaul jogja keren banget dan sangat eksis fakir wi-fi, saya jadi menyimpulkan hal-hal apa saja yang bisa bikin sebuah tempat nongkrong itu rame banget di jogja. Memang secara keseluruhan, tipe penongkrong di jogja itu bermacam-macam, (mungkin postingan lama teman saya Ivan bisa membantu) tapi ada beberapa karakteristik besar yang bisa membantu tempat nogkrong di jogja menjadi populer.

1. Murah! MURAH! MURRAAAHHHH!!!

Satu karakter anak nongkrong jogja yang harus dipahami oleh manajemen adalah, KAMI INI MAHASISWA. Dan sialnya, kebanyakan pelanggan jogja lebih betah berlama-lama di tempat yang kurang nyaman sambil nyeruput teh poci sembilan ribu yang bisa buat ber tiga, ketimbang nongkrong di tempat yang harga minumannya 30ribu tapi nyaman. Satu tempat yang sukses dengan konsep murah ini adalah Semesta Kafe. Kalo saya sih, kurang suka dengan pelayanannya dan tempatnya yang ‘agak jorok’, tapi memang masalah harga sangat ramah pada dompet.

Atau Raminten, dengan konsep restoran (bukan kafe) dengan lokasi yang luas, range harga murah dan pilihan makanan beragam bikin Raminten ini sampai punya ‘waiting list’ setiap harinya. Alias ngantri untuk bisa makan di sana.

Tapi, banyak juga yang memilih tempat yang lebih mendingan dan harga diatas situ, namun masih juga tetap murah. Misalnya Rumah Cokelat. Rumah Cokelat itu punya range harga dari di bawah sepuluh ribu, sampai dua puluh ribu saja, namun bersih dan nyaman. Gak heran Rumah Cokelat ini sering penuh dan bagi yang ingin mampir jadi kehilangan tempat.

Selain Rumah Cokelat, ada juga Kedai Kopi, kafe yang punya tiga cabang di jogja ini juga terkenal. Punya range harga yang juga tidak kejam dengan kantong, tempat nyaman dan agak besar. Walau dua lantai juga masih suka penuh.

Nah, tempat seperti semesta, raminten, cokelat, dan kedai kopi ini punya satu kesamaan. Murah. Jadi walau nongkrong bisa lebih dari tiga jam, untuk pesan lagi itu gak ragu.

2. Kualitas Pelayanan

Tahukah, bahwa ada satu tempat di jogja yang interiornya asik banget, harga masih masuk akal, tapi pelayanannya super bego? Namanya, Discovery Cafe, entah kenapa setiap pesan makanan itu bisa datang beberapa jam kemudian dan tidak dalam keadaan hangat lagi. Pelayanan jelas salah satu bagian yang penting dalam membuat pelanggan betah berlama-lama di satu tempat.

Nah, itulah salah satu alasan kenapa saya bisa betah di Peacock Coffee, baristanya ramah dan ga rese. Sehingga saya merasa berada di rumah kedua. Ada banyak kafe yang pelayanannya kacrut banget, beberapa diantaranya barisan kafe di daerah Nologaten (yang saya ga ingat namanya karena emang ga spesial). Namun biasanya, kekurangan kualitas pelayanan begini mampu ditutupi dengan harga murah (yang makanya saya pasang di nomer satu, alasan kenapa tempat nongkrong bisa ramai).

3. Wi Fi dan Colokan

Dua hal ini opsional tapi memang diusahakan kalau bisa ada. Biasanya membantu banget buat yang nongkrong sendirian dan berakhir membuka pekerjaan di kafe sambil menyesap espresso. Untuk yang nongkrong beramai-ramai, kekurangan wi fi dan colokan ini ga jadi masalah. Toh nyolok ga nyolok asal ngumpul, kok.

4. Komunitas

Kalau memang tidak mampu memasang harga yang murah sekali (karena beban biaya perawatan dan pelayanan misalnya), maka gandenglah komunitas, supaya mau berpromosi gratis. Word of mouth di jogja ini pengaruhnya cukup besar. Ambil contoh Geronimo Cafe yang mau menggandeng komunitas Stand Up Jogjakarta, sehingga setidaknya ketika anak stand up mau ngumpul, geronimo menjadi opsi yang cukup besar untuk dipilih. Geronimo Cafe sendiri punya range harga lima belas ribuan sampai tigapuluh ribu, jadi tidak terlalu murah, namun masih masuk akal.

Dixie juga bisa jadi contoh tempat yang mau pedekate pada komunitas, sehingga banyak komunitas merujuk Dixie sebagai tempat yang bisa dipakai untuk membuat event kumpul-kumpul. Saya sendiri jika ditanya sebaiknya kalau mau bikin event di mana, biasanya akan merujuk ke Dixie. Karena selain mampu menyediakan tempat dan makanan, mengurusnya tidak terlalu rumit.

Nah, kembali ke Skybar Lounge tadi. Skybar Lounge punya banyak kekurangan yang seharusnya diperbaiki sebelum mereka mau menaikkan harga (lagi). Masalahnya, Skybar Lounge punya konsep yang muda dan dinamis yang lebih cocok menembakkan pasarnya ke mahasiswa. Sayang, konsep ini tidak dibarengi dengan isi dapur yang mumpuni. Pilihan menu Skybar Lounge tidak memberi banyak pilihan, kualitas rasa dengan harga yang ditawarkan tidak berbanding lurus, malah cenderung mengecewakan.

Kalau alasannya adalah karena ini di Hotel, maka Jogja punya Quality hotel yang punya dimsum corner dengan selalu diskon 50% (+10% kalau bisa menunjukkan KTM), dan tax nya hanya sekitar 15%. Selain itu, walau harga makanannya cukup mahal, namun kualitas makanannya bisa diacungi jempol. Mereka punya menu nasi goreng kare yang harganya 50ribu tapi lumayan menggoyang lidah, atau fettuccine cream yang harganya 72ribu namun porsinya bisa untuk bertiga dan rasanya enak. Sehingga, jika memang Skybar mau menargetkan pasar pada mereka yang lebih dewasa, setidaknya buat kualitas makanan dan minuman yang juga ‘dewasa’. Serius, siapa yang mau membayar es susu coklat encer dengan harga dua puluh dua ribu? Kami mahasiswa mungkin ga masalah minum es susu coklat encer dengan harga tujuh ribu, sih. Jika Skybar masih ingin berkonsep gaul dan mahal, gandenglah komunitas DAN supportlah mereka supaya mereka menjadi betah dan loyal di sana.

Jangan seperti Myoozik atau Own Cafe yang sebetulnya punya harga diatas rata rata (di mana sekali nongkrong mungkin bisa habis empat sampai lima puluh ribu seorang), namun tidak juga menggandeng komunitas. Sebetulnya dulu Myoozik sempat mengadakan event reguler dan pedekate dengan banyak komunitas, sayang, entah kenapa, hubungan ini dilepas dan sekarang mereka menjadi sepi.

Bisnis tempat nongkrong di Jogja ini menjamur, jadi tingkat persaingan di sini tinggi. Namun, Jogja bukanlah Jakarta, konsep mahal, enak, fancy dan memuaskan bisa saja dipakai di jogja, tapi bukan sebagai tempat nongkrong harian anak mudanya. Ada beberapa orang yang merindukan bisa menikmati tempat yang nyaman, enak, menyenangkan dan mereka rela membayar lebih untuk itu. Tapi, tidak untuk setiap hari.

Nah, begitu sih kurang lebihnya isi kultwit tadi pagi. Saya sendiri masih bertahan main ke Skybar Lounge selama ada Dharma for Music di sana. Karena saya di sana menikmati suara dan pemandangan sih, tidak menikmati makanan atau minuman di sana. :)

8 thoughts on “Yang Tempat Nongkrong di Jogja

  1. keiko juga harganya naik.. mbuh buat biaya buku menunya yang sekarang pake album keren itu. tapi ya naiknya gak sampe setengah harga sih, cuma seribu-dua ribu ajah.

    tp tep ga kebayang klo daerah malioboro ada tempat nongkrong yg murah lha daerahnya udah “berasa” mahal gitu sih :p

  2. Aku lupa pernah nulis blog tentang nongkrong :))
    Aku baru sekali ke Sky Bar Lounge. Ada yang aneh sama konsep yang diangkat. Salah satunya adalah, Sky Bar ini open for Public di tempat yang sebenernya nggak cocok untuk orang umum: “Kolam renang hotel”. Andai aku menginap di sana, dan pengen berenang, pasti nggak bakal nyaman karena banyak orang di area tersebut yang nggak dateng untuk berenang. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s