Posts filed under 'Yang jadi pikiran'
Yang menjilat
Saya kasar, dan saya tidak suka basa basi, apalagi bermulut manis dan menjilat orang. Saya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran saya tanpa kepurapuraan. Kata orang naif, kata orang lugu. Tapi saya bangga karena saya jujur. Minimal saya gak pernah punya dendam sama orang karena saya berpamrih ingin dia melakukan sesuatu untuk saya dengan menundukkan kepala saya dan menjilat sepatunya.
Tapi chor, percuma punya kejujuran dan otak pintar tapi tak mampu bermulut manis. Karena semua manusia punya ego yang terlalu tinggi dan tidak ingin ditunjukkan kesalahnnya dengan gamblang. Dan basa basi serta mulut manis adalah kemampuan memanipulasi pikiran manusia lain yang masih menyanjung egonya. Ini skill chor, tak masalah kamu bangga atau tidak menjillat orang lain. Tapi dengan kemampuan bermulut manis, kamu bisa menyedot dan menjadi benalu pada orang lain tanpa harus dimaki maki orang lain tersebut.
Tapi chor, orang orang yang mampu bermulut manis adalah orang orang yang mampu menekan egonya. Dan tau bagaimana cara menilai kemampuannya lalu menjualnya dalam wajah yang berbeda tanpa menyakiti pesaing maupun orang lain.
courtesy image : photobucket
5 comments November 7, 2009
Yang Paten
Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang Paten, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. (UU 14 tahun 2001, ps. 1, ay. 1) (Dari wikipedia)
Setelah reog, angklung, rendang, lagu rasa sayange, batik, wayang kulit, tempe, tari pendet, bahkan pasak bumi dipatenkan oleh negara lain, apakah kita cukup berjuang dengan memaki maki negara itu dan tidak melakukan apa apa?
Sadarkah kita, kita hanya dibesarkan dengan ajaran “Indonesia negeri kaya” tanpa mepelajari apa saja kekayaan kita. Kita, sama sekali ndak berusaha menjaga, merawat maupun mengembangkan kebudayaan kita, tapi selalu mencak mencak kalo orang lain mengklaim kebudayaan kita. Seperti sebuah tulisan Fa dulu :
Why do we mad to lose something we don’t even care about? Why do we mad to lose something that we never protect? Bukannya kasus tempe di-klaim Jepang udah satu dekade lewat? Dan toh kita sendiri nggak belajar dari kejadian itu untuk bener-bener melindungi apa yang kita punya.
Then, why mad?
Dikutip dari (Stolen, But Do We Really Care?)
Sayangnya, Malaysia tau mereka kekurangan kesenian, sedang untuk mencapai target 23 juta turis asing di negara mereka, mereka butuh daya tarik. Sedang kita, yang kaya akan budaya, hanya menargetkan 6 juta turis saja. Lalu kita yang orang indonesia sendiri, lebih bangga jalan jalan ke luar negeri, apalagi denga promo price maskapai penerbangan, atau gratisan ke hongkong dan thailand.
Mengutip kata teman saya Zen :
Tapi mau gimana lagi, jika ongkos dari Jakarta ke Sumba bisa lebih mahal daripada Jakarta-Hanoi apalagi Jakarta-Singapura? Bisa sedikit dimaklumi pula jika lbh banyak dari kita yg memilih pakansi ke Singapura atau Kualalumpur tinimbang ke Waikabubak, Labuhan Bajo atawa Bajawa atau Halmahera atawa Raja Ampat.
Saya bisa sangat paham kenapa jumlah turis2 asing sangat sedikit. Turis2 itu rata2 menginginkan kemudahan dalam banyak hal. Dan itu, kebanyakan, hanya bisa didapatkan dari spot2 yang sudah populer, semisal Bali, Jogja, Toba, dll.Ada banyak tempat2 hebat dan pantai-pantai indah di sepanjang perairan Sumba, kepungan pulau-pulau di Flores dan Maluku, atau tempat surfing di Rote Ndao. Tapi hanya turis2 dg mental backpacker, peziarah dan para petualang saja yang mau “blusukan” ke sana.Infrastruktur di luar2 spot2 populer itu yg njengking bgt. Penerbangan bisa seminggu cuma dua kali, misalnya. Belum lagi soal akses jalan dan penginapan yang representatif. Akses jalan ke Lamalera itu payah banget, ga ada angkutan umum yg memadai, mau ga mau kudu sewa mobil dg budget yang lebih tinggi.Pariwisata itu bth infrastruktur.
Nah, setelah kita sadar bahwa kita kehilangan satu demi satu ciri kita sendiri, mengapa kita ndak segera bertindak dengan mematenkan semua kebudayaan kita yang maha banyak dan super lengkap bahkan sampe kita sendiri nggak hafal? Karena malas? Karena kinerja paten sangat bertele tele dan lambat? Ya sudah, kalo memang kita nggak peduli sama kebudayaan kita sendiri. Kenapa kita harus marah marah? Kenapa kita harus panik kehilangan sesuatu yang kita sendiri nggak tau?
Bahkan, tidak mengherankan buat saya, jika kita nggak segera bertindak, kita akan membayar pada negara lain untuk menampilkan atau memakan makanan tradisional kita
3 comments Agustus 21, 2009
Yang mau dan mampu
Saya punya teman di Filipina, namanya -atau saya mengenalnya dengan nama- Caldvin, dia mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi seni, mengambil jurusan perfilman. Tugas akhirnya adalah membuat sebuah dokumenter film, tentang politik *kalo saya ga salah ingat*.
Malam malam online, cuma liat dia, ga ada kerjaan saya tanya tanya tentang bidang kuliahnya, “do you like it?”
3 comments Mei 30, 2009
Yang Perempuan
perempuan, se tomboy apa pun, se keras apapun, se bebal apapun, se brengsek apapun, tetep aja perempuan, punya hati, sensitif, bisa nangis.
kira kira begitu nasehat dia yang tidak ingin disebut namanya didalam blog saya. nasehat yang ditujukan buat seseorang ketika mencoba melukai saya *halah*
saya bukan perempuan manis dan baik hati. kata bapak saya, perempuan itu harus mandiri, harus siap hidup dengan kakinya sendiri, harus kuat, harus bisa membawa dan membesarkan namanya sendiri. harus bebal dibanting dunia, harus keras supaya siap menahan beban sendiri.
kata temen saya itu berlebihan, nda baik, cewe harus manja, harus bergantung, ndak bakal ada cowo mau cari cewe mandiri, buat apa pacaran sama orang yang ga membutuhkan bantuan orang lain.
tapi saya harus jadi kuat, saya ndak mau jadi wanita yang nantinya terlunta lunta karena prianya tidak bertanggung jawab. tapi toh, jadi wanita yang kuat itu susah, emang enak di cap brengsek? emang enak di cap bebal? emang enak di cap egois?
perempuan sekuat apapun, tetap saja hatinya kaca, rapuh, di sentil dikit hancur, cengeng, still need a shoulder to cry on. saya ndak paham apa yang ada di pikiran orang orang, karena kuat maka bebas menyakiti? karena dia bebal seenaknya aja dimaki maki? karena brengsek maka sepuasnya diludahi?
ah sudahlah, cuma catatan mood swing.
11 comments Maret 14, 2009
Yang menilai
Temen saya pernah bertanya gini ke saya, “chor, lu pernah minder ga karena gendut?”
Saya lalu tertawa, “mm.. ndak tuh, kenapa?”
“Ndak sih, beberapa temen gw yang overweight gitu orangnya minderan, tapi kekna lu ceria ceria ajah”
Saya cuma tertawa. Minder is sooooo last millenium ago *halah*. Maksud nya, saya sudah pernah melewati phase itu. Phase saya membenci diri saya sendiri karena omongan orang lain. Ya ya ya, naif memang. Setelah phase membenci diri saya sendiri karena omongan orang lain, saya mengalami phase membenci omongan orang lain, atau istilah lainnya, denying.
11 comments Februari 27, 2009


