Yang Orange

Ketika saya bersama orang kantor sedang melawak di sebuah toko buku jogja [eh, jadi saya ini kerja dimana, sebagai apa sih? kok job desc nya pelawak?] saya membeli tiga buah buku, Rumah Lebah, Goloso Geloso dan Orange. [dan percayalah, saat itu saya sedang dihipnotis oleh mbak mbak penjaga tokonya] Setelah cukup kecewa dengan Rumah Lebah, dan Goloso Geloso ternyata terlalu teen lit buat saya, maka saya pun agak ogah ogahan baca Orange.

Tapi setidaknya kutipan di halaman judul bikin saya cukup penasaran. Ya, “bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.”

Orange sendiri bercerita tentang dua orang yang dijodohkan karena orang tuanya adalah sahabat karib dan tentu saja, klise, teman bisnis yang sama sama kaya. Hanya saja, dua orang ini, seperti cerita novel lainnya, punya dua kepribadian yang berbeda, namun tidak ada tanda tanda penolakan dari mereka berdua.

Satu satunya yang “seharusnya” jadi penghalang dua orang ini bersama adalah ambisi. Namun pada sejalan nya cerita, ambisi itu tidak jadi penghalang, hanya jadi bumbu yang ringan. Lalu dimana konflik novel ini? Jawabannya tidak ada.

Orange adalah cerita dua orang naif yang sama sama mudah jatuh cinta, walaupun membatasi diri dengan ambisi pekerjaan dan cinta masa lalu, tapi masalah masalah hanya datang dan pergi begitu saja tanpa memberikan ruang untuk dua tokoh utama berusaha mengejar apa yang mereka anggap cinta. Baik pada pasangan, atau pekerjaan.

Maka, konsep orange adalah bittersweet bikin saya nepok jidat. Novel Orange sendiri cukup manis, naif, kekanakan. Tidak seperti hidup yang sesungguhnya penuh lubang dan duri. Saya sendiri suka dengan novel ini, ringan, lumayan bikin senyum senyum, dan tentu saja bikin mupeng.

“Aduh, kapan ya hidupku hanya sependek novel dengan ending bahagia.” :)

Yang Rumah Lebah

Ketika seekor ratu lebah menetas dia akan menjerit dengan lengkingannya yang kuat. Siapa pun lebah betina yang ikut menetas bersamanya menjawab lengkingan itu maka dia telah membuat kesalahan. Sama saja dia memanggil kematiannya sendiri. Hanya boleh ada satu ratu lebah. Dan sang ratu akan membunuhi siapapun saingannya.

Sangat sulit menemui novel bergenre thriller di Indonesia. Tapi beberapa novel thriller yang saya baca dan buatan lokal selalu membuat saya deg degan intensitas kata kata yang bikin saya haus untuk segera menuju halaman belakang. Sebut saja Joker, XX ataupun Pintu Terlarang yang walaupun saya sudah menonton filmnya tetap saja novelnya bikin puas.

Tapi tidak untuk Rumah Lebah.

Mala, seorang anak yang tidak jelas apakah autis ataukan indigo atau hanya jenius biasa, dapat melihat orang orang yang Nawai dan Winaya (orang tuanya) lihat. Wilis, beruang hijau basah. Tanta Ana Kayana, perempuan genit yang selalu sibuk dengan riasannya. Abuela, nenek perfeksionis yang selalu berbicara bahasa spanyol. Dua kembar yang bisu dan tuli. Dan Satira, lelaki jahat yang ingin mengontrol mereka semua yang tinggal di Rumah Lebah. Tapi siapa sangka, orang orang yang dianggap teman teman khayalan Mala justru menjadi sebuah kunci tentang pembunuhan yang nantinya akan terjadi di Bukit Mata Kaki.

Amat disayangkan, karena sebetulnya Rumah Lebah punya alur maju mundur yang apik dan pergantian point of view yang halus. Akan tetapi pergerakan nya terlalu lambat sehingga emosi untuk misterius berkesan menguap dan jadi membosankan. Terutama awal hingga tengah. Itupun saya bertahan membacanya karena terlanjur mengintip sebuah halaman pembunuhan. Saya langsung terkejut dan berpikir bagaimana memasukkan motif pembunuhan ke alur pembukaan yang selambat ini?

Untunglah Ruwi Meita tidak melakukan cacat dengan mengaduk terlalu banyak tokoh ke motif pembunuhan. Hanya saja setelah pembunuhan itu terjadi (yang tentu saja makanan utama novel ini) alur kembali melambat, dan ending langsung tertebak.

Saya tidak tahu apakah ending Rumah Lebah cukup bagus atau tidak. Saya berpendapat seperti ini, ending Rumah Lebah seperti sebuah lubang yang menganga. Ruwi Meita hanya menjabarkan dengan kembali ke belakang, tanpa memberikan epilog dan after-event-effect. Semua terkuak tapi ya sudah. Seperti lubang menganga dan kita hanya bisa melihat kebawah lalu berkata “oh, sudah? lalu kenapa?”

Yang Penindasan

Yak, saya mau mereview buku sekaligus melacur, (melan melan curhat).

Jadi, beberapa hari yang lalu saya membeli bukunya Jenny Alexander yang berjudul Bullies, Bigmouths & So-Called Friends, yang diterbitkan di Indonesia menjadi “Penindas, Pembual, dan Teman Palsu” oleh Penerbi Matahati.

Ada satu kutipan yang menarik dari buku ini, ketika mereka (penindas) mendapat kecaman dari kekuasaan yang lebih tinggi dari mereka, misalnya guru atau kepala sekolah, “Kami hanya ingin bercanda, kami nggak tau kamu tersinggung” (hal 33)

Yeah yeah, joking my ass. [curhat mode : on] Saya tidak tahu, apakah dengan “mengetahui” kami (korban) tersinggung, akan menghentikan “bercanda” mereka. Ini lah yang dilakukan anak anak jaman sekarang, ngeles “kami cuma bercanda” adalah ultimate holy reason yang paling aman.

Saya pernah berdiskusi bersama seorang teman, “how much is too much?” yang kami sepakat dengan jawaban “when you can’t handle it anymore.” Tapi jika dalam standar komunikasi dua arah (iya lah, masak situ mau menindas dinding?) takaran kemampuan (dalam hal ini) bercanda memiliki tingkat yang berbeda, lalu tidak akan ada kesinambungan. Misalkan, saya menindas X. Anggap saya menyilet nyilet dadanya si X lalu si X merasa saya sudah keterlaluan, tapi bagaimana jika itu memang gaya bercanda saya? Wong saya orangnya sadistik dan keji kok. Alasan ini tidak akan terbantahkan, karena menurut perspektif saya, ini “bercanda” bukan serius. Kalau serius, mungkin saya memotong motong tubuhnya.

Maka, jika saya mendengar mereka (penindas) mengungkapkan alasan diatas, ya ya, joking my ass, kalo saya tersinggung, memang situ peduli? [curhat mode : off]

Jenny Alexander yang memang sering menerbitkan buku edukasi, dalam buku ini menegaskan, bahwa bersikap tidak peduli, cuek atau menghindari tempat penindasan bukan lah cara aman, “Gimana bisa bersikap kuat dan tegas kalau kamu ngerasa seperti agar-agar?” (hal 12)

Jenny memberi banyak saran “pintar” bagaimana menghilangkan atau mengurangi penindasan tanpa mengasihani diri sendiri ataupun berlatih tinju. Juga bagaimana meminta bantuan orang ketiga (atau, bagi bahasa mereka, mengadu) tanpa memperburuk suasana.

Ada satu bab, yaitu menendang kucing (kick at the cat; istilah teknis kalau kamu nggak berani memarahi orang yang mengganggumu sehingga kamu melampiaskan kemarahanmu pada orang lain [hal 102]), yang mengingatkan saya pada kutipan Umineko episode 25

“Your past self is right in front of you. You feel better now, don’t you? You used to be there, but now you’re over here. Isn’t this fun?!

It’s fun to torment other people like this. Isn’t it pleasant to take something that was done to you when you were weak and do it to someone who’s even weaker?!

Yes. Doing that will ease your pain. Defile it even more. Look down on her and humiliate her. Teach her the pain of having your dignity trampled on. Pain and suffering can only be healed by forcing them on someone else!”

Buku ini sangat cocok bagi remaja dan pra-remaja (eh pra-remaja itu dimulai dari usia berapa?) yang dalam usia nya banyak menemukan penindasan dan masalah masalah persahabatan yang masih kacangan. Ada satu tips dari saya, ultimate tips ketika saya SD dan dibully karena berasal dari jogja (yang buat anak jakarta itu ndeso dan norak). Jadilah pintar. Iya, bagi anda para ibu yang mungkin ketakutan anak nya akan ditindas, atau bagi kamu yang sedang ditindas, jadilah pintar dengan tenggelam di buku buku pelajaran mu itu. Saya, saat itu, ketika menjadi pintar, saya bisa melihat bahwa, mereka (penindas) hanya mau menindas kita (korban) yang terlihat lemah di mata mereka. Dengan menunjukkan kita punya “kekuatan” yang tidak bisa mereka dapatkan dan tentu saja, mereka butuhkan (dalam hal ini kepintaran), percayalah, mereka akan memohon. Yes, begging with their knees.

Jika anda tidak pintar, ya mari berdoa, semoga orang tua anda punya “kekuasaan” yang bisa bikin mereka bungkam atau para guru menjilat dan melindungi anda.

Yang Doubt

There’s a game going around Japan called ‘Rabbit Doubt’. The premise of the game is that all of the players are rabbits in a colony, and one amongst them is randomly chosen to be a wolf that infiltrated the group of rabbits. Every round, the wolf kills off a rabbit, and every round, the group tries to figure out which of the rabbits is actually a wolf in disguise. Sometimes the kids who play this game decide to meet up in person, and Yuu, Mitsuki, Rei, Hajime, Eiji, and Haruka have done just that. Unfortunately, one of them has decided to take on the mantle of the wolf and has already killed once. Who is the wolf, and can they be stopped before everyone meets a very unpleasant end? — (Onemanga Review)

atau jika dalam bahasa indonesia :

Dalam game Rabbit Doubt yang sedang trend di Jepang, para pemain menjadi sekelompok kelinci dan satu di antara mereka akan dipilih sebagai serigala untuk menyusup dan membunuh para kelinci satu per satu sampai dia tertangkap. Namun game ini berubah jadi mimpi buruk ketika lima pemainnya, Yu, Eiji, Haruka, Rei, dan Hajime, memutuskan untuk bertemu dan terseret dalam permainan mematikan. Bisakah mereka mengungkap identitas serigala sesungguhnya sebelum semuanya terlambat? — (Level Comics Sinopsis)

Doubt adalah miniseri yang hanya ber volume 4 saja dan sudah diterbitkan secara legal di Indonesia di bawah naungan penerbit Level. Bercerita tentang permainan Rabbit Doubt. Rabbit Doubt adalah permainan dimana ada 1 serigala yang di susupkan, pemain harus bisa menebak siapa identitas serigala itu sebelum serigala membunuh mereka semua.

Saya sudah membaca nomer 1 nya, dan tidak tahan karena penasaran dengan ceritanya. Sebetulnya mencari spoilernya gampang, bukalah wikipedia :mrgreen: tapi walaupun sudah tau siapa serigala sesungguhnya, saya masih bisa menikmati alur cerita ini. Setiap chapter, saya dibuat merinding dengan kesadisan dan manipulasi mental di dalam komik ini. Bagi yang sudah terbiasa menonton thriller barat, sejak awal manga ini pasti mudah menebak siapa serigalanya.

Doubt sangat cocok bagi anda penggemar Koroshiya Ichi, atau Saw yang penuh darah. Asyiknya bagi yang belum nyari spoilernya, setiap chapter kita bakalan mudah berganti ganti pemikiran siapa serigala itu, karena serigala nya cukup licik sehingga semua orang bisa menjadi serigala.

Mumpung cuma 4 volume (20 chapter) saja, manga ini asyik dinikmati. Jangan lupa beli yang originalnya ya *tapi kalo saya sih baca online di onemanga soalnya penasaran mampus, hihihi* Endingnya tidak terduga, walau terduga, kikiki.. Ga tahan pengen spoiler, tapi tapi tapi, belum tentu semua orang masih bisa menikmati spoiler seperti saya, hihihi.. Selamat Membaca Doubt :mrgreen:

Yang Negeri Van Oranje

Beginilah nasib orang yang kurang tidur, jadi bengong kurang kerjaan akhirnya milih untuk doodling nulis :D

Negeri Van Oranje adalah buku yang di rekomendasikan kang Enade ketika sedang ada lomba kompetiblog. Dengan promosi, “ceritanya SO REAL!” maka saya tertarik untuk beli buku yang dikarang secara keroyokan oleh 4 orang penulis ini.

Bercerita tentang 4 orang mahasiswa Indonesia yang kebetulan bertemu di sebuah kereta yang mogok lalu menjadi sahabat. Sayangnya, seperti kata pepatah jawa “witing tresno jalaran seko raono sing liyo.” Para pria nya, berebut si mahasiswi indonesia yang kebetulan cuma 1 biji di kelompok persahabatan mereka.

Tapi, tema buku ini bukan lah di romance, ending romancenya mah udah ketebak dengan gampang. Yang membuat buku ini sangat sangat “REAL” adalah, tips dan trik serta sekelumit kehidupan belanda, dari mulai perijinan, mencari makan, tempat beli bumbu, tempat wisata, naik kereta, sepeda etc etc. Setidaknya, buku ini bisa jadi guide sementara kalo kita kebetulan nyasar ke belanda *nyasar kok ke belanda, mbok nyasar itu di jogja aja.. jauh byanget je* Karena buku ini ditulis secara fiksi, sehingga penggambaran “belanda” tidak se saklek peta atau travelers guide book. Diceritakannya bener bener secara pandangan mahasiswa, bukan secara komersil atau editorial.

Lha sudah segitu aja reviewnya? Lha memang sudah, abis saya ga  pernah ke belanda, mana saya tau kekurangan cerita di NVO? Bagi kalian yang tidak mengejar chick flick, tapi mengejar buku yang memang “berbobot” tapi penuh dengan “keindahan” sepert 5 cm, traveler’s tale dan buku buku andrea hirata maka NVO ndak ada salahnya dijadiin koleksi tambahan ;)

pS : goodluck buat kang Enade yang mau pindah ke Den Haag dari Amsterdam

pS 2 : tidak menerima simpanan dan tabungan ihiii ihiii ;P