Posts filed under 'Yang jendela dunia'
Yang Negeri Van Oranje
Beginilah nasib orang yang kurang tidur, jadi bengong kurang kerjaan akhirnya milih untuk doodling nulis
Negeri Van Oranje adalah buku yang di rekomendasikan kang Enade ketika sedang ada lomba kompetiblog. Dengan promosi, “ceritanya SO REAL!” maka saya tertarik untuk beli buku yang dikarang secara keroyokan oleh 4 orang penulis ini.
Bercerita tentang 4 orang mahasiswa Indonesia yang kebetulan bertemu di sebuah kereta yang mogok lalu menjadi sahabat. Sayangnya, seperti kata pepatah jawa “witing tresno jalaran seko raono sing liyo.” Para pria nya, berebut si mahasiswi indonesia yang kebetulan cuma 1 biji di kelompok persahabatan mereka.
Tapi, tema buku ini bukan lah di romance, ending romancenya mah udah ketebak dengan gampang. Yang membuat buku ini sangat sangat “REAL” adalah, tips dan trik serta sekelumit kehidupan belanda, dari mulai perijinan, mencari makan, tempat beli bumbu, tempat wisata, naik kereta, sepeda etc etc. Setidaknya, buku ini bisa jadi guide sementara kalo kita kebetulan nyasar ke belanda *nyasar kok ke belanda, mbok nyasar itu di jogja aja.. jauh byanget je* Karena buku ini ditulis secara fiksi, sehingga penggambaran “belanda” tidak se saklek peta atau travelers guide book. Diceritakannya bener bener secara pandangan mahasiswa, bukan secara komersil atau editorial.
Lha sudah segitu aja reviewnya? Lha memang sudah, abis saya ga pernah ke belanda, mana saya tau kekurangan cerita di NVO? Bagi kalian yang tidak mengejar chick flick, tapi mengejar buku yang memang “berbobot” tapi penuh dengan “keindahan” sepert 5 cm, traveler’s tale dan buku buku andrea hirata maka NVO ndak ada salahnya dijadiin koleksi tambahan
pS : goodluck buat kang Enade yang mau pindah ke Den Haag dari Amsterdam
pS 2 : tidak menerima simpanan dan tabungan ihiii ihiii ;P
7 comments Oktober 12, 2009
Yang Panduan Pria di toilet Wanita
Kurang lebih artinya begitu
“The men’s guide to the women’s bathroom” adalah buku pertama dari Jo Berett yang diterbitkan tahun 2007 silam dan baru masuk Indonesia di bawah penerbitan gagasmedia May 2009 lalu. Bercerita tentang Claire, post-divorced woman, yang bercerai dari suaminya yang kaya sekali karena si suami berselingkuh. Berusaha mengobati patah hatinya, dia mengikuti program “New Divorced Diving Club” sayangnya, baru sampai pantai, dirinya mengalami infeksi sinus hebat yang membuatnya hanya duduk diam.
Lalu Claire, serambi merutuki penyakitnya, teringat kata kata ibunya “Belajar keahlian baru akan mengalihkan pikiranmu.” Setelah berpikir lama, akhirnya, dia memutuskan untuk menulis, setelah terinspirasi oleh kata kata seseorang di dalam toilet; “laki-laki nggak akan nikahin cewek yang kelihatan terlalu pengen“.
Sejalan dengan kisah cintanya yang baru, proses pemulihan diri dari patah hatinya serta keputus asaannya, Claire terus menulis “kisah kisah toilet” yang dia temukan. Ketimbang menjadi “panduan pria” buku ini lebih mirip cerita si Claire.
Tapi, konsep “daftar toilet” yang dituliskan Jo Berett very creative yet hilarious. Kelebihan dan kekurangan buku ini adalah di karakter, ya, karakter karakter wanita di buku ini adalah wanita wanita putus asa yang menjadikan pria berada di top of the list mereka. Kelebihannya, buku ini indonesia banget! Dimana para wanita di pertengahan 30 dan 40, ketika sudah memiliki karir mantap, dihantui oleh pria, hubungan dan seks. Sedang ini lah kelemahannya, di US sendiri, keadaan “wanita putus asa” ini sudah tidak sinkron di tahun 2009, bagi mereka, buku ini adalah klise klasik awal 80an.
Sayangnya, karena buku ini “Indonesia banget” maka saya jatuh cinta sama buku ini
apalagi cara alih bahasa gagasmedia tidaklah sekaku gramedia. Entah buku ini memang “gaul abis” atau penerjemah dari gagasmedia yang keren.
Banyak sekali kutipan kutipan cerdas (dan memang cerdas) dan witty di buku ini. Bagi saya, membaca buku ini ibarat mendapatkan barang “buy two in one price”. Yap, selain berisi drama Claire, buku ini memang memberi “panduan” mengapa wanita berlama lama di toilet dan apa saja yang mereka bicarakan di sana, seks, gay, patah hati, pernikahan, yang di benci dari toilat, semuanya yang diperlukan untuk memahami wanita secara instan!
Spoiler :
“Oke. Tuan-Tuan. Ada hal penting yang harus kalian ketahui. Ketika kalian berkencan dan kebetulan kalian bertemu dengan mantan pacar, mantan pacar kalian akan beranjak ke toilet dengan sahabat-sahabat perempuannya. Bersama-sama, mereka pasti akan menghujat teman kencan kalian, dari ujung rambut hingga ujung ke kaki.
Obrolan mantan kalian dan sahabat-sahabat perempuannya mungkin akan terdengar seperti ini…
‘Lihat nggak cewek yang bareng Scott? Oh. My. God. Dia betul-betul dapat sisa-sisa sekarang, kan? Rambutnya itu loh…, di-dye sendiri pastinya. Ampun, deh. Dia kayak mesan pengantin perempuan dari Rusia via katalog gitu.’
‘Dan bajunya dong. Halooo…, situ pikir situ oke pake pink kayak pemeran Pretty in Pink Molly Rignwald?’
‘Maksudku, ngapain, sih, gini hari pakai baju babydoll dan pakai berlian palsu segala? Pasti belinya di acara Home Shopping Network, deh.’ “
Oh boys, believe me, we are that bitch.
2 comments September 30, 2009
Yang Waktu Aku Sama Mika
Saya jarang banget baca buku yang dari awal sampe akhirnya bener bener menarik emosi dan bikin ga berhenti nangis. Lebih tepatnya, saya ini kurang mudah terharu. Tapi ndak sampe malem ini. Sore tadi saya iseng beli buku ini karena teaser sampul nya keren
“Sugar.. Tau gak, kamu tuh ngingetin aku sama anak-anak du buku Torey Hayden..”
“Karena aku cacat?”
Bukan.. tapi karena kamu spesial“
Buku ini true storynya indi (indian kecil) seorang gadis yang minder karena dirinya menderita cacat tulang belakang (scoliosis) tapi akhirnya menemukan Mika, yang mencintai indi apa adanya dan memberi kekuatan untuk optimis. Trus apa yang spesial? Yang spesial, Mika itu bukan pria biasa, tapi penderita AIDS. Buku ini adalah cerita cerita Indi ketika mengenang Mika, dan setelah ditinggalkan Mika.
Bukunya sedih… Baru halaman 18 dari 145 halaman saya udah nangis bombay ga jelas. Banyak banget quotation yang bagus bagus. Cara penceritaannya pun apa adanya dan polos. Ndak di dramatisasi, kadang kadang lucu tapi lebih banyak yang inspiring *lanjut nangis lagi*
Waktu itu, aku datang ke rumah Mika sambil menangis.
Mika tanya aku kenapa. Aku bilang,
Cliffton ganggu aku lagi.
Mika jadi marah. Mika langsung telepon Cliffton dan teriak-teriak sama dia.
Mika bilang, Cliffton brengsek dan tidak boleh ganggu aku lagi.
Terus, Mika banting teleponnya.
Aku peluk Mika. Kencang. Terus aku bilang,
“Mika, kamu hebat sekali. Kamu memang pahlawanku!”
Padahal waktu itu aku tahu kalau kabel teleponnya tidak dipasang…
Isi blognya kurang lebih sama dengan bukunya, tulisannya cenderung kayak puisi dan postingan lepas, tapi ya itu, menyentuuuuuuuuh banget. Kalo mau baca gratisan ya ke blognya aja. Tapi harga bukunya murah kok, cuma 24 ribu aja, mending beli deh, soalnya buku ini must read banget!! Hihi, saya ndak pernah promosi buku loh sebelumnya, kecuali emang ni buku bagus banget
Ni buku baru terbit april kemarin, tapi agustus ini udah 2x cetak. See… ini buku bagus lah, beli beli beli, trus kita berbagi tangis bersama *maksa*
Penerbitnya, ngasi teaser banyak banget di forum kafe gaul, buat teaser kalian deh
“Sugar… kalau kamu masih bisa hidup 70 tahun lagi, aku akan memilih untuk bisa hidup 70 tahun kurang sehari saja. Supaya gak satu haripun aku hidup tanpa kamu…”
Tapi kamu tinggalkan aku 68 tahun lebih cepat, Mika…
7 comments Agustus 28, 2009
Yang bertanya atau mati
Bukunya sudah lama punya, tapi keberanian buat ngereview nya baru ada sekarang. Banyak blogger jadi penulis, banyak penulis juga jadi blogger, maka menemukan buku dengan sepotong sepotong cerita ibarat postingan ya jadi ndak aneh sekarang. Tapi yang susah, nyari tulisan yang developing sekaligus menghibur, ndak asal ngebanyol sampe garing. Kadang, tertawa sambil berpikir sekarang ini susah.
Isman H. Suryaman bukan orang terkenal di mata saya, cuma saya baru tau kalo dia sudah menelurkan beberapa buku, dan genrenya komedi. Sudah dua bukunya yang saya beli, tapi tetep bertanya atau mati selalu nyantol dan ga bikin bosen untuk dibaca.
Apa itu bertanya atau mati? Cuma buku tentang pertanyaan hal hal remeh, bab nya ada 8. Kerikil emas kehidupan, bayi dan kasih sayang, pengkondisian sosial, olahraga dan kesehatan, tali yang tak kasat mata, dibalik kekuatan angka dan ngalor ngidul. Sepintas daftar isinya lebih mirip buku “teka teki lucu vol 1″ daripada buku ber genre.. eh, ini buku ber genre apa, ndak tau, tapi gramedia jogja narohnya di sub “self developing”.
Lucu? Sangat, tapi juga serius, dan ndak garing. Misalnya, ada sebuah artikel (atau bab) berjudul “Dicari: Orangtua yang bicara seks”. Saru dong? Ndak, tapi di bab ini Isman menjelaskan bagaimana penempatan analogi yang salah ketika seorang anak bertanya “mama, seks itu apa sih?”
Bahkan ndak hanya hal remeh yang ditanyakan dalam buku ini, ada hal hal yang cukup berat, misalnya HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) menyindir secara sarkastik mengapa hak cipta, hak paten, merk dagang dah rahasia perusahaan kurang membumi di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga tidak aneh paten teknologi tempe keburu diambil Jepang, Batik dipegang malaysia dan “Java” diambil sebagai nama software Sun Microsystem. Sayangnya, pengurusan HAKI dinilai lamban, butuh dua sampai empat minggu untuk mengecek pendaftaran HAKI serupa dan butuh setahun untuk kelengkapan administrasi. (Dirangkum dari bab “Pojok Ilmiah, Topik kali ini : Penemuan Ilmiah dan HAKI”)
Komedi Sarkastik. Mungkin inilah genre yang seharusnya dilabeli di belakang buku ini. Semua hal kurang lebih sudah ditanyakan dalam buku ini, mengapa pernikahan menjadi beban? Mengapa orang yang memelihara binata berharap bisa bicara dengan peliharaannya? Mengapa hidup harus jadi marathon dengan pertanyaan “kapan nyusul?”?
Selain isi yang unik, halaman terakhir buku ini bukan lah “tentang penulis” seperti buku biasa, tapi sebuah halaman kosong bergaris dengan judul “tentang pembaca”. Mengapa? Mungkin inilah bentuk penghargaan pada pembaca yang selama ini sudah dilupakan oleh banyak pengarang dan penerbit.
2 comments Agustus 9, 2009

