Yang surat untuk Tuan

Kepada Tuan

[masih] di hatiku

Selamat kapan pun tuan membaca surat ini,

Tuan, tak kan kusangka, hanya secepat ini kita kan mengenal. Tak menyangka, akan seperti ini. Tuan, pertama” aku tak kan mencari sebuah pembelaan akan kesalahan, mengecewakanmu.. Aku pun merasa bodoh tuan, tapi, satu hal yang saat itu aku rasakan tuan, tak ada seorangpun di dunia ini senang sendirian. Ah tapi apalah artinya permintaan maaf saat ini?

Saat itu, seperti yang tuan tahu. Aku sedang hancur, tidak tuan, aku tak kan menjadikan itu sebagai alasanku. Aku bodoh tuan, aku menyadari itu, Tapi aku kesepian. Tingkah kekanakkanku, karena aku kesepian, karena aku ingin di manja oleh mu, ingin di perhatikan. Aku ingin merasa di butuhkan. Tapi apalah gunanya, kala kau tak ingin mendengar?

Manja tuan, memang. Saat itu, rasanya aku di tusuk dari dalam, dan penolakanmu, terasa sebagai tusukan dari luar. Tahukah tuan, ketika seseorang depresi, mendapat tambahan tekanan lagi, rasanya dunia seakan runtuh tuan. Seakan tempat berpijak sudah tak ada artinya lagi, dan seakan langit harus di tahan, membebani punggung. Tuan, itu yang namanya pikiran pendek. Aku.

Tuan, kedatanganku ke tempatmu waktu itu, bukan untuk bercinta tuan, kehangatanmu cukup hingga pelukanmu, bukan ketika bibirmu memagut mesra tuan. Dekapanmu yang erat, yang membuatku nyaman, membuatku aman, membuatku merasa… aku di butuhkan, membuatku merasa, aku ingin hidup untuk mu. Ah khayalanku ini tingkat tinggi, tuan.

Saat itu tuan, aku berdandan, menyambut pagi mengingat akan pergi bersamamu. Ah kekanakan, aku hanya bisa tertidur 2 jam, membayangkan betapa akan sangat menyenangkannya pergi bersamamu. Ah bodoh ya tuan.

Dunia berubah begitu cepat, teringat saya kata teman di jauh sana, being too available but not eligible its hard. Dan saya baru merasakannya sekarang. Tuan dan kesibukan tuan, yang tak mampu ku mengerti saat itu. Maafkan aku tuan, yang bukan siapa” mu tapi menuntut waktumu, kebersamaanmu.. Ah maafkan aku tuan..

Saat itu tuan, aku masi mengingatnya, kata”mu.. “Ini cara paling cepat melupakanku” padahal tuan, mengenangmu adalah kebahagiaan..

Ah tuan, ini bukan surat pengeluhan tuan, aku sudah bilang, aku ini wanita tanpa keinginan, pada akhirnya, apapun keputusanmu, aku tak ingin merubahnya, pada akhirnya, tak kan ada bedanya. aku merasa seperti kembali ke masa lampau, ke masa yang kita tak pernah bisa jalani lagi. Dan aku? tetap di sini menanti kebetulan.

Tuan, hanya sepenggal surat tak tersampaikan ini, menatapmu yang membuatku kelu, tak kan sanggup menyampaikannya ke depan matamu. Hanya ini tuan, setetes kejujuran dari tanganku yang hina ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s