Yang Undead Part 3 – Weak

Aku melemah..!

Geez, kenapa di saat seperti ini, aku terlanda keputus asaan? Ini kah yang hime rasakan saat itu? Ini kah alasan mengapa dia dengan mudah menyalahkan dirinya sendiri dan memilih pintu kehidupannya? Ini kah yang di namakan hidup segan mati tak mampu? Sial! Kenapa aku merasa selemah ini!!

*krieeett* sebuah pintu terbuka, dia datang. Si angkuh menyebalkan itu, melihatku yang tergeletak di lantai mengejang, menatap hina.

“ngapain kesini?” aku berdiri kesal, menarik napas berat

“menikmati saat” dimana aku harus menggantikanmu” dia menatap sinis.

“seenaknya! aku tak kan menyerahkan tubuh ini. lagian, bukannya kau sudah kalah. kau sudah kalah sejak 2 tahun lalu dimana kau akhirnya memilih menemani orang yang tidak berani melangkah dalam kehidupan itu!”

“hee, berkaca lah, bukannya saat ini, yang tidak sanggup melawan kehidupan adalah dirimu? atau jangan” kamu juga, merasa terbuang dan di campakkan” wajahnya mendekatiku sambil tersenyum sinis.

“We’re all alone! aku tidak selemah hime bego itu, yang selalu merasa ingin di cintai, ku katakan dengan tegas padamu, dua tahun!! Dua tahun akhirnya aku membuat kebahagiaan tak semu, bukan seperti yang hima lakukan pada tubuh ini. Dua tahun aku berhasil membuat tubuh ini lupa akan nikmatnya menyakiti diri sendiri untuk merasakan kehidupan! Ku tegaskan kepadamu,,” dia memotong kalimatku

“hahahaha, you said it, jadi kamu mengakui, menyakiti diri sendiri itu bentuk menikmati kehidupan? Hahaha.. bukannya sekarang kita sama” tahu siapa yang lemah?” ia menatap sini, beranjak pergi

“red eye sialan!” aku berjalan mengambil segelas air, memaki” kepergiannya yang angkuh.

*prang!* aku membanting gelas di tanganku, depresi.

“Brengsek, selama dua tahun aku berusaha melenyapkan jejak hime, pergi dari komunitasnya, merajut lingkungan baru, menyembuhkan luka luka kerjaan cewe manja itu, dan akhirnya aku berhasil, bego, kenapa malah jatuh dalam lubang yang sama. cowo lagi cowo lagi.” Aku merutuk kesal

“tapi reaksiku jauh jauh jauhhhhhhh lebih baik dari gadis gila itu. Tak kan kubiarkan perasaan ini berlarut” tubuh ini yang sekarang jauh lebih kuad daripada kerjaan hime. Akan kubuktikan bahwa tanpa sesuatu yang dinamakan cinta itu pun tak kan menghambat jalan hidup ku,”

aku terduduk di samping kasur sambil mengambil gelas lain dan mengisinya dengan air. “aku sendirian kok, selalu sendirian, dan memang ditakdirkan untuk sendirian, dicinta dan mencinta bukan barang ku. bukan seperti hime…”

aku terdiam, menenggak habis isi gelas itu,

“tapi rasanya aku kesepian…”

dan aku kembali melemah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s