Yang bias gender

Jadi awal nya gw mo nulis ini gara” plurkna si dkazuma, bukannya bermaksud membela cewe perokok, tapi terlalu banyak hal” yang masi berbias gender di Indo.

Dikutip dari sini,

Bias Gender adalah Kebijakan/program/kegiatan atau kondisi yang menguntungkan pada salah satu jenis kelamin yang berakibat munculnya permasalahan gender.

Bisa di bilang topik inih basbang sangad, tapi tetep aja masi mengganjal hati saya kalo nda di tulis *ce ilah, kek apa aja*

Seperti kata temen saya itu, secantik”nya cewe, begitu merokok hilang deh 90% kecantikannya. Kenapa yah? Padahal banyak banget cowo” yang malah bangga merokok. Masa cewe ga boleh ikutan bangga. Sodara sepupu saya sendiri bilang, cewe” perokok itu dasarnya karena kesepian dan melarikan diri ke rokok. Lah, sedang laki” kalo merokok, nda akan di bilang pria kesepian.

Sama sekiranya dengan air mata, cewe itu ibaratnya menangis itu wajar, sedang buat cowo, pasti kalo nangis akan di anggap cengeng. Dulu, ketika saya SD, temen saya yang cowo, tiap ketauan nangis sama ayahnya pasti akan di pukul dengan rotan. Jadi, seakan” menangis itu prohibited banget buat anak cowo. Padahal, menangis itu sebetulnya menyehatkan. Di sini di sebutkan ada 11 Manfaat Menangis. Terlepas dari gendernya.

Sebetulnya kenapa sih banyak kebiasaan kebiasaan di negara kita yang di genderkan? Hukum di Indonesia juga bias gender loh, salah satunya tentang kekerasan dalam rumah tangga. Pernah ga ada sejarahnya suami mengadukan istri ke Komisi itu? Ndak ada to, karena entah kenapa hukum itu dibuat seolah” untuk kaum hawa. Lha, misalkeun di katakan suaminya yang salah karena nda mau melaporkan istrinya, tapi kira” apa yang akan masyarakat lihat dari suami yang melaporkan istri?

1. Bisa jadi suaminya di anggep nda becus ngedidik istri.

2. Bisa jadi suaminya di anggap terlalu lemah/banci

3. Bisa jadi suaminya di anggap memfitnah

Apalagi bagi penganut aturan istri di bawah suami, pasti nda bisa menerima kenyataan banyak wanita beringas di luar sana, yang siap main tangan bahkan penggorengan ketika esmosi.

Dan di kutip dari suara merdeka 9 Juli 2008

Bias Gender

Berbagai produk hukum di Indonesia, secara substansi, selalu didominasi dan lebih berpihak pada kepentingan laki-laki. Standar yang digunakan untuk mengatakan: apakah suatu perbuatan melanggar hukum atau tidak, juga standar laki-laki. Seakan-akan, jenis kelamin hukum di Indonesia adalah laki-laki.
Keberpihakan hukum terhadap laki-laki itu, sangat terlihat dalam Hukum Positif (hukum yang berlaku) di Indonesia.

Dalam kasus perkosaan, misalnya. Yang dianggap sebagai perkosaan dalam pasal 285 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) adalah jika terjadi pemaksaan persetubuhan terhadap perempuan yang bukan isterinya. Padahal, perkosaan juga bisa terjadi terhadap isteri, yaitu yang sering disebut dengan marital rape.

Namun pasal 285 tentang perkosaan ini tidak bisa dipergunakan. Bahkan tidak satu Pasal pun dalam KUHP yang bisa digunakan menjerat pelaku. Baru pada tahun 2004, yaitu sejak dikeluarkannya UU No. 23 tentang Penghapusan KDRT, marital rape (perkosaan terhadap isteri/perkosaan dalam perkawinan), pelakunya dapat dijerat pidana, meski sifatnya masih delik aduan.

Demikian pula dalam Hukum Perdata. Sebagai contoh, seorang isteri tidak bisa mengakses kredit perbankan apabila tidak ada persetujuan suaminya. Dalam Hukum Ketenagakerjaan, pekerja perempuan yang sudah berkeluarga, dianggap sebagai lajang, sehingga dia tidak mendapatkan tunjangan keluarga.

Dalam UU Perkawinan, perempuan selalu ditempatkan di ranah domestik, sebagai ibu rumah tangga dan dibuat tergantung secara ekonomi. Sementara suami adalah kepala keluarga, sebagai pencari nafkan utama.

Status ini tetap melekat, bahkan ketika fakta menunjukkan bahwa perempuan lah penopang utama ekonomi. Ia tetap dianggap sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaan yang dilakukannya adalah dalam rangka membantu suami mencari nafkah tambahan.

Diskrimasinasi terhadap perempuan juga terlihat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dalam kasus perceraian, apabila yang mengajukan perceraian adalah isteri (cerai gugat), maka isteri tidak berhak mendapatkan Kiswah, Maskan, Mut’ah dan nafkah Iddah. Isteri berhak atas semua itu, apabila suami yang menceraikan.

Contoh lain yang sangat diskriminatif terlihat dalam masalah poligami. Salah satu syarat poligami adalah jika seorang isteri tidak dapat memberikan keturunan atau sakit yang tidak dapat disembuhkan. Sehingga laki-laki mempunyai hak istiewa, yaitu boleh berpoligami.

Padahal sekarang jamannya kesetaraan gender, yang melahirkan bibit bibit wanita cerdas dan feminis, dan laki laki yang belajar akan kelembutan dan melunak. Tapi pada hakikatnya bias gender ini masih banyak banget kita temui di kehidupan. Ga perlu melihat dari sesuatu yang besar, tapi hal hal kecil seperti rokok, nangis, salon. Ya tho?

2 thoughts on “Yang bias gender

  1. Wakakakaak… gag nyangka sampe ditulis disini. Panjang pulak. Well, call me an idiot, tapi kayaknya semua yang kamu tulis kena semua di aku. Jadi walaupun di dunia ini sudah dibilang kalau lelaki dan perempuan itu sama… well, it’s not. At least for me. Ada hak dan ada kewajiban masing2 lelaki dan perempuan. Walaupun memang ada beberapa diskriminasi yang aku juga gak setuju, misalnya poligami.

  2. wakakaka, gag nyangka juga ngelirik kesini😀

    saya cuma sebel, kenapa rokok jadi mengurangi kecantikan cewe, padahal terlepas dari attitude si cewe, rokok ga akan mengurangi apa”

    kecuali kalo gaya ngerokoknya sambil ngangkang trus di warteg ada segelas kopi sama gorengan, trus bajunya pake kemjea di buka, jeans belel, dan di tangan satunya ngelempar” recehan

    nah kek gitu bisa di bilang 90% kecantikannya kurang dan berubah jadi kegarangan,,

    misalnya zaskia mecca, dia emang ngerokok, tp ya cantiknya begitu”aja, nda bakal mengurangi apapun,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s