Yang rasisme

“Ma.. aku mo nikah sama bule” Saya iseng ngomong gitu sama emak saya, tapi di jawab dengan mata mendelik dan suara meninggi, “GAK BOLEH! kan agamanya beda! Bisa sakit nanti bapakmu!” Omaigat.. Saya terhenyak, bukan karena saya ga boleh menikah sama bulenya, tapi karena ibu saya mengira semua orang bule itu beragama non Islam.

Ya ampyun bunda, islam kan bukan agama milik asia, setap orang di seluruh pelosok bumi dari ujung Antartika sampai Australia kan boleh memeluk agama Islam. “Ih mama rasis amad! Kayak melarang orang padang memeluk agama hindu dan tidak percaya orang bali memeluk katolik, agama kan bukan eksklusifitas sebuah suku, ras atau negara manampun! Israel itu di timur tengah, tapi toh mereka Yahudi.”

Lha iya to? Kalau memang Tuhan di pakai sebagai alat mengkotak kotak kan manusia, bukankah lebih baik menjadi seorang Atheist? Masa agama menjadi hal pemicu peperangan? Lalu dimana ajaran damai atau kasih sayang yang diajarkan pada setiap agama?

Jadi teringat percakapan saya dengan mogri tentang “Cinta”, cinta itu seperti.. posessivitas dalam skala kecil yang jika di biarkan membesar akan menjadi obsessivitas dan menjadi kotak untuk mengelompokkan orang lain. Secara general menurut saya loh. Pada prakteknya toh cinta tidak sebatas saling sayang saling berbagi dan saling cup cup mwah mwah. Cinta pada negara misalnya, karena kita merasa memiliki negara ini dan membanggakannya. Tapi jika cinta ini terlalu dalam bisa menjadi obsesif mengerikan dan menjadikan dirinya yakin bahwa hanya apa yang dia cintai yang paling baik paling benar ataupun paling lainnya. Hal seperti ini lah yang membuat peperangan buncah, saking cintanya pada rakyat, Bush mengalami ketakutan luar biasa dan menyerang membabi buta pada negara timur tengah. (mungkin cuma sebatas alasan)

Back to rasis, temen saya di Jerman pernah ada yang cerita, ada banyak orang gundul (yang saya pikir sepertinya mereka ini komunitas skinhead – komunitas musik sub cultural yang sering dituduh rasis dan neo-nazi) yang melempar batu dan meneriakkan “pulang kau orang asing!” karena merasa negara Jerman paling baik dan ras ras lain adalah rendahan. DI belanda juga ada orang” seperti itu dalam pemerintahan, yang menetapkan aturan pekerjaan akan diberikan kepada orang Belanda lebih dahulu (which is, masi bisa di pahami, karena setiap negara pasti pengen SDM nya lebih baik to? Ga kayak di indo, asal ada bule, malah di dahuluin) dan di Prancis (kata temen saya juga, maklum saya ini belom go international) ketika duduk di sebuah bis atau kereta, orang” Asia / Timur Tengah akan di jauhi, walaupun kereta itu penuh pasti ga ada yang mau duduk di sebelah si orang asing ini.

Mengutip salah satu orang

ALL countries and cultures have racism and prejudice. Ones opinion as to the extent of the racism or prejudice is determined mostly by whether you are the majority or minority.

Semua negara dan budaya memiliki rasisme dan prasangka. Pendapat tentang persoalan rasisme dan prasangka akan menentukan apakah anda orang mayoritas atau minoritas.

Bahkan mengeluarkan pendapat negara mana yang paling rasis, akan mengotakkan kita sebagai orang major atau minor. Orang” western akan menunjuk orang” eastern sebagai orang paling rasis, dan sebaliknya orang” eastern akan menunjuk orang” western sebagai orang paling rasis.

Di asia, malaysia di tuduh sebagai negara paling rasis, di sana ada sebuah tempat yang hanya boleh di datangi melayu lokal, bagi yang berwajah kurang melayu, bakalan langsunh ditagih passport. Parah” di usir dengan tidak sopan. Etnis India dan china di paksa menggunakan bahasa Melayu dan di sana di tetapkan aturan aturan yang membatasi para kaum minoritas, dan sama seperti orang Indo, orang malay benci amad sangad terhadap orang Indo. Temen saya cerita di Singapore dan Malay, sekali anda ketahuan masyarakat sana anda orang Indo, niscaya anda akan di perlakukan seperti sampah. Entah apa karena kita banyak ekspor TKW atau masalah lain saya kurang tahu.

Di barat, Jerman, Swedia, Prancis, Italia, saling serang 1 ras ke ras lain. Misal orang Spanyol dan Italia tidak menyukai orang Amerika dan sering tawur, atau orang” swedia yang membenci Muslim, orang” Jerman yang mengalami xenophobia dengan orang” Turki. Begitu begitu lah.

Rasisme sudah ada jauh lebih lama daripada Jaman Hitler (yang di anggap sebagai orang yang menebar rasisme dengan slogan “deutsch ist uber alles (German is about everything)”nya padahal menurut sejarah ada bangsa Romawi dan Mesir yang jauh jauh lebih rasis.

rasisme itu semua bermula karena kebanggaan yang berlebih terhadap ras nya atas ras yang lain.. jadi, mulai ada kebencian gitu.. yang mengakar, trus.. akhirnya sampe baku hantam dee.

Begitu kira” kesimpulan semua pendapat teman teman saya,

lalu bagaimana dengan Indonesia?

Di indonesia, kasus rasisme paling mencuat adalah etnis cina dengan pribumi. Yang sampai sekarang masih terasa. Mungkin karena kasus Mei 98, maka orang” etnis china menarik diri dari kaum pribumi. (tapi di kampus saya banyak kok yang chinese dan mereka asyik” aja.) Suami saya chinese medan bercerita di medan sana, orang” chinesenya lebih prefer bergaul sama sesama chinese, lebih pilih bahasa hokkien daripada indon (tapi kalo sama saya tetep indon lar, lah saya ga bisa bahasa hokkien XD) DI padang, bahkan di pecinannya orang” chinese nya malagh fasih bahasa minang, kata ibu saya kalo orang chinese di padang ga bisa bahasa minang, bakal di jauhin, itulah alasan kenapa orang” muda chinese padang kabur ke Jakarta dan Medan.

Di riau, penduduk pribumi menamakan dirinya putra daerah dan pemerintahan mempersulit etnis china di sana. Di tempat lain? Ah entah, saya belum tahu banyak.

Sepengalaman saya, untuk kasus etnik gini saya lom merasakan banget. Emang si beberapa temen chinese terasa lebih sombong, tapi buat saya itu karena mereka emang tajir”. Orang pribumi juga kalo punya duit sombong” toh. Tapi yang kerasa banget adalah rasis untuk Agama. Kasus FPI, lingkungan saya, dan banyak non muslim yang menjauhi muslim karena ketakutan, wuigh kerasa deh kalo orang” banyak membanggakan Islam daripada Agama lain. Padahal Allah sudah berkata Tuhanmu Tuhanmu, Tuhanku Tuhanku, kenapa kita masih menghina Tuhan lain yah?

Ah pegel saya ngetik.. Bagi yang merasa punya pengalaman di rasisin, sok atuh cerita, curhat. Mungkin tulisan ini akan saya apdet, sekarang lagi di warnet kabur dari dosen bolos dan nungguin kelas lain.

Advertisements

7 thoughts on “Yang rasisme

  1. Gw smpe skr ngalamin rasisme bgd dr ce gw.. Gw ne slh 1 ktrunan chinese,tp gw Islam.. Gw udh 1thn stg jdian sm dy,dan backstreet.krn bkapnya org padang,nyokapnya Smarang. Jujur gw trkdg sk bgg bgd ngadepinnya.udh brkali2 gw d minta pts sm dy.tp gw gmw.. Gw syg bgd sm ce gw. Kr2 gw msti ngmg apa sm ce gw ya,biar dy th ngerti rasisme th udh ga jaman lg. N hdp Anti Rasisme.thx.

    • hmmm, gimana ya.. rasisme itu masih kental sih 🙂 butuh pikiran terbuka dan tentu saja wawasan luas untuk “anti-rasis”. kaena kita dilahirkan sebagai orang yang judgmental

  2. sumpah……….. aku yang akan hancurkan china di indonesia……bagiku bangsaku harus lebih mapan dengan orang2 pendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s