Yang Undead Part 4 – Laugh

“knock.. knock”

aku selalu benci ketukan berirama sama itu. Pasti hime. atau pengikutnya. mereka sama, sama sama menyebalkan ketika mereka mngetuk berima sama itu.

“krieeett…”

pintu itu terbuka dengan sendirinya, kulihat kaki jenjang mulus itu. Ah, hime rupanya, dan dia sendirian.

“Kenapa ga buka pintunya?” dia duduk di sebelahku. Yang masih pura pura tertidur.

“Dan aku tau kamu ga sedang tidur.” dia membelai keningku, membuatku membuka mata.

Aku tertegun sejenak melihat matanya yang sembab, lalu tersenyumΒ  sinis, “kalau yang punya rumah tak membuka pintunya, artinya yang punya rumah gak mengharapkan tamu.” Lalu aku terduduk setengah malas. “Harus ku hidangkan sesuatu?”

Hime menggeleng kecil, lalu berjalan ke arah dapur, menarik sebuah termos, menyeduh teh. Wangi teh yang sama semenjak 3 tahun lalu, masih dengan jumlah adukan yang sama, dan sendokan yang sama. Masih sama. Dan aku termangu, antara kekaguman dan kemarahan atas ingatanku tentang detail caranya membuat teh.

Dua cangkir teh berwarna sama berada di depanku, merayu hidungku mengingatkan cara dirinya membuat teh. Lagi.

Dia terdiam, aku terdiam. Kami menikmati harumnya teh dan hening dalam diam. Wajahku ku kakukan, menyiapkan segala cacian pedas yang akan ku semburkan tepat di depan wajahnya.

Cintaku tersapu embun.

Aku menghentikan seruputan tehku. Tangan hime bergetar memegangi cangkirnya.

Cintaku tersapu embun pagi
jariku beku terhembus angin subuh
dan ulu hatiku tertusuk ribuan jarum gerimis tajam.

Ganti tanganku yang bergetar, hime tertunduk. Dia menghirup aroma tehnya dalam dalam.

“Itukah alasanmu pergi kemari sendiri?” aku menaruh gelasku ke meja, berdiri dan mencuci mukaku yang tampak tak karuan. “Red eye?”

Hime menengguk tehnya banyak banyak, seakan ikut menelan bibit bibit kejujuran yang akan dia lontarkan.

“Dia meninggalkanku 10 hari lalu. Entah kemana, berbuat apa, sama siapa, untuk apa, kapan pulang.”

Tanganku mengepal keras, kesempatan inikah yang kutunggu? Tapi aku membencinya.

Hime kembali menghirup aroma tehnya dalam dalam, dan menenggak habis seluruh isi cangkir itu seolah menenggak habis semua keluh kesahnya.

“Aku ingin kembali”

Terdengar suara lirihnya lambat lambat menggaung kencang di telinga dan otakku. “Aku.. Ingin.. Kembali… kembali…. kembali…”

Ku banting cangkir di tanganku dengan sekuat tenaga. Hime terkejut dan berdiri meletakkan cangkirnya, lalu terdiam. Dan aku terkejut, karena bukan amarah yang kurasakan, tapi sebuah luapan emosi penuh kegembiraan. Euphoria. Mencintai hime kah aku?

“Muhuhuahhahahahaa…” Tawa ini, jelas bukan tawa kebahagiaan. Lalu mataku menjadi gelap, dan aku merasa, tubuh ini tak lagi berada di bawah kekuasaanku. “Kembali, katamu? karena kamu ditinggalkannya kamu minta kembali??”

Hime terduduk dengat mata terbelalak. Mataku nanar, menatap seperti serigala kelaparan. Dan aku menyeringai. “Dan kenapa aku harus memperdulikanmu, hai sundal keparat!”

“Kasar sekali kata katamu…” Hime menangis, tersengguk sengguk.

“Sepanjang hidupku, tak kan pernah ku temui kebahagiaan seperti ini.”

Hime menangis dan berlari keluar. Dan aku, mengepalkan tanganku dengan sepenuh tenaga penuh luapan euphoria tak tertahan. Kesedihannya adalah kebahagiaanku. Aku terbahak, menyapu pecahan cangkir, dan kembali terpingkal pingkal. “Akhirnya.. Hime ditinggalkan olehnya.” Lalu aku tersenyum simpul dan kembali terlelap. Dalam kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s