Yang Kenangan

Kenangan. Kira kira itu yang saya rasakan ketika menjenguk Osa. (hore. akhirnya janji itu tertepati)

“emang kita pertama ketemu di acara ichigo yah?” Dia bertanya

“Yep! Aku bahkan masih ingat bajumu. Rambutmu sepinggang dengan kaos putih dan rok batik. Aku masih ingat, kita berkejar kejaran ketika aku mengerjaimu waktu itu. Hahaha.” Pikiranku kembali ke keadaan tiga setengah tahun lalu.

“Iya iya! Ya ampun, dah lama banget tuh! Kita masih imud imudnya waktu itu chor, masih es em a. Masih ya ampyuuuunnn.. Dah lama banget ya.” Lalu kami kembali pada kenangan kami.

Kenangan, apa itu kenangan? Pemanis kehidupan? Penjara yang tak nampak? Pelajaran seumur hidup? Guru tanpa tanda jasa sesungguhnya? Sebuah time machine?

Kenangan bagi saya adalah sejarah. Sebuah waktu yang readable, tapi tidak writeable. Dulu saya membenci kenangan. Saya merasa kenangan adalah mimpi. Yang hanya membuat kita terhibur, atau mungkin terkungkung.

Apa yang saya kenang 4 tahun lalu? Ketika saya masih di Jakarta, menunggu detik detik meninggalkan kota penuh kerlip itu dan mengunjungi Jogja. Kesedihan, bukan hanya karena saya harus meninggalkan terlalu banyak kenangan dari Jakarta, tapi juga memasuki kenangan lama tentang Jogja.

1996. Dua belas tahun lalu saya menginjakkan kaki pertama pada tanah jogja. Pindah dari kota sunyi, Malang. Dua tahun cukup membuat saya membenci Jogja. Tak ada alasan signifikan, hanya saya menjadi korban bullyed. Dan penuh kebahagiaan saya meninggalkan kota ini.

Sekarang? Saya jatuh cinta pada Jogja, another memories has been created. Hampir empat tahun saya di sini dan saya menjadi tergila gila pada Jogja. Kenangan pada akhirnya bisa membuat kita melabelkan sesuatu.

Ketika teman saya memiliki memories di gigit anjing, dia akan melabelkan semua anjing di dunia ini ganas. Maka saya membenci kenangan, yang dulu bisa membuat seseorang terkungkung pada kenangannya sendiri. Tapi tidak untuk sekarang, ketika saya bisa memilah kenangan yang menyenangkan dan menyedihkan. Ketika seseorang menyadarkan saya, apapun kenangan itu, baik dan buruk, hanya ada sebagai kenangan. Dan akhirnya menjadi sesuatu yang berharga bagi kita.

But you know, there’s something I believe.
I want to try living my life carrying all my memories with me.
And even if those memories are painful,
Even if it did nothing but hurt me,
I want to keep them.
Even if those memories I sometimes wish I could forget,
As long as I carry them with me,
As long as I keep holding on,
Then someday, someday I’ll be strong,
And those memories won’t hurt me anymore.
And I’ll be glad that I have them.
That’s what I believe, with all my heart.
That’s why all my memories are precious to me.
I wouldn’t think it will be okay to forget a single one…

Momiji Sohma – Fruit Basket – Ep 15

4 thoughts on “Yang Kenangan

  1. iya yah,
    terkadang orang sibuk sendiri dalam kenangan yang dimilikinya
    kemudian heboh sendiri membayangkan ketakutan kenangan itu terulang di masa depan
    sampe lupa kalau sebenarnya kita hidup dalam masa kini

    hidup masa kini !!!!!!!!

  2. kenangan itu seperti harta yang kita miliki sendiri,my precious katanya smeagol.ya,dibilang time machine cocok juga.separah apa pun kenangan,suka membuat berpikir kenapa tidak berbuat lebih. lebih baik,lebih sabar,lebih santai,lebih tertib. buat saya lho. btw,ini ga kelamaan to? ini masih tertatih2 dan terbata2 di dunia blog,hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s