Yang Hamil

“Saya ga mau hamil!”

Kalo orang mendengar kata” itu pasti langsung bilang, “Masya Allah, ingat nduk, kata” itu sebagian dari doa, istighfar nduk.” atau langsung berpikir bahwa si pembicara ini sexually active. Oh God..

Bukan, bukan berarti saya literally ga mau hamil, tapi ini saya ucapkan ketika saya nonton sebuah infotainment. Si presenter berkata, “maka mereka tinggal menunggu kehamilan untuk menyempurnakan pernikahan mereka.”

Oh, okay, jadi ketika mereka belum hamil, maka pernikahan itu belum sempurna? Trus kalo sudah punya anak sebelas apakah bisa dianggap sempurna? Tapi kenapa tetap ada orang menikah dan PUNYA anak yang bercerai? Bukannya harusnya mereka merasakan KESEMPURNAAN?

Haduuuuhh.. saya sering sekali mendengar teman teman saya yang sudah menikah dikejar dengan pertanyaan seperti ini. “Kapan hamil?” parah lagi, salah satu teman saya, istri bule yang sudah dua setengah tahun menikah dan BELUM INGIN memiliki anak. Catat, belum ingin! Tapi sodara sodaranya malah mencerca dia mandul, mencerca suaminya mandul. Haduh haduuuuhh.. Plis deh,, hai orang orang di luar sana, apakah seseorang menikah untuk hamil??

Apalagi di hari gini, bayangin ya, berapa duit yang harus disiapkan untuk lahiran, belum kalo harus operasi caesar. Terus biaya membesarkan, merawat, mendidik, menajga.. haduuh ga bisa ya punya anak langsung gede dan kerja, langsung ngasilin duit gitu? *diinjek injek massal*

Saya pribadi, belum mau jadi ibu, saya tidak suka dan tidak siap sama  anak kecil. Ntah face factor, karena wajah saya terlalu seram (eh masa sih? tapi kayaknya saya ini imud imud, lucu dan baik hati deh *ditendang*) atau emang saya sudah mengeluarkan aura benci anak kecil, sehingga kadang sering para anak anak itu juga ga mau mendekati saya. Atau karena, saya merasa tidak sanggup menjadi ibu (hello.. choro? punya anak? kasihan pasti suami dan calon anaknya itu) Atau mungkin karena saya, hidup dalam kebencian pada ibu saya, dan seakan menyalahkan anak anak yang lahir dari seorang ibu nantinya akan menjadi pendurhaka seperti saya. Jujur, saya ga mau jadi ibu saya. Well,  She’s a good mother, an excellent and great mother I ever seen. Truly. Beliau kerja, tapi beliau mengurus anak, dan menghasilkan dua putri yang berguna bagi bangsa dan negara, cantik, imud dan lucu (eh. ga dua deng, cuma satu, adek saya doang, saya mah jatah ampas sisa sisa dan jeleknya aja dah)

Tapi tidak pernah ada kesempurnaan, kan, dalam setiap orang. Saat di Jakarta, ibu saya mengalami stress berat dengan mobilitas kehidupan di sana. (well, aren’t we all) ketika marah, tanpa sengaja beliau akan memaki maki saya dengan hal hal yang cukup kasar. Dalam waktu tujuh tahun, mind set saya terbentuk bahwa saya adalah anak yang seperti beliau maki.

Tapi saat ini saya sadar, itu hanya bentuk emosi sesaat, setidaknya setelah sampai di Jogja, which is lebih tenang, saya bisa melihat kelembutan dan kecantikan ibu dalam raut beliau. Dalam tiap senyumnya dan putih rambutnya, saya sangat amat sadar bahwa saya bisa merasakan kecintaan beliau kepada kami, putri putrinya, yang berguna bagi bangsa dan negara, imut imut, cantik dan lucu. Tapi saya jadi mikir, bahwa ibu saya melahirkan saya saat itu dalam keadaan ditekan keluarganya, dan saat dia harus mengejar karir. Kalau hanya hamil untuk “membungkam” pertanyaan orang orang, bukankah sang anak nantinya akan menjadi korban?

Saya percaya seorang wanita punya kekuatan super untuk bermulti tasking. Tapi saya lebih percaya, mencintai dua hal itu adalah hal yang ga mungkin bisa dilakukan secara sempurna. Dan bila, anak tidak dicintai secara sempurna, percaya lah, anak itu pasti tidak akan menjadi anak yang baik, yang berguna bagi bangsa dan negara, imut imut, cantik dan lucu seperti saya.

Teman saya pernah bilang, kalau perempuan yang benci anak kecil dan anti-hamil (kayak saya misalnya). Adalah seorang simply-stupid-selfish-egoistic girl. Dan dia belum merasakan, nikmatnya hamil. Katanya loohh, kalo sudah hamil, naluri keibuan itu muncul sendiri. Tapi sampe sekarang saya ngetik ini, waahh ampun deh, bergidik saya kalau ditawari nikah dini dan hamil muda. Walaupun Wentworth Miller yang ngajak, saya masih ogah!

Anak harusnya, bukan sesuatu yang kita pakai untuk sekedar melengkapi hidup. Anak (dan segala sesuatu yang kita kerjakan) harusnya kita buat dan kita bina sepenuh hati dan segenap jiwa, dengan membulatkan tekad dan mengumpulkan keberanian, bersama kita bisa! (Eh.. saya lospokus, tadi sampe dmana?) Kalau hanya ingin punya anak demi melengkapi hidup, lihat, ada banyak anak anak terlantar di panti asuhan, yang butuh ibu asuh. Ada anak anak kontrakkan (yang kita cukup membiayai dia selama beberapa tahun, tapi saya lupa dapet berita ini di mana), kita masih bisa jadi orang tua homestay, yang kalo kita sudah bosan dengan anak itu, bisa kita lepas seenak udel sendiri. Ga perlu kita membuat sesuatu yang kita belum tahu, apakah anak itu nantinya hanya kita sesali atau tidak.

pS : eh nganu, posting ini meramaikan postingan di hari ibu ini, karena hari ini saya sama sekali tidak memberi ucapan hari ibu bagi ibu saya ;D

8 thoughts on “Yang Hamil

  1. buat anak itu enak *halah*

    ih enggak ding. aku dulu juga gitu. gak kebayang aku bakal mau merid dan punya anak. tapi… justru ketika secara tidak sengaja dikasih oleh Tuhan, aku berusaha untuk mengucapkan syukur atas anak yg sudah diberikannya. Lagian saat aku mengalami setiap langkah dalam menjadi ibu (dari hamil sampai melahirkan) aku baru sadar bahwa Mama ku adalah orang yg paling berarti dalan hidupku. Mungkin kalau sudah dialami (hamil dan punya anak) kita baru sadar bahwa ibu tuh penting banget deh. T_T *kangen mama*

  2. ketika kehadiran seorang anak saya sendiri begitu bersemangat dalam menikmati hidup karena apa yang saya cari dan saya dapatkan toh kembali buat masa depan anak, satu kebahagiaan yang tidak bisa dibeli oleh uang adalah pada saat kita bercengkerama dengan istri dan anak….

    mungkin ketika mba berkumpul sama ortu apa yang mba rasakan seneng…pastinya itu akan ibu mba rasakan ketika berkumpul dengan mba sebagai anaknya…

    terlepas banyak yang cerai yang kita denger dan lihat tapi masih banyak yang langgeng kok,

    dan buat saya pribadi anak adalah generasi penerus kami berdua…banyak yang kaya harta tapi hampa ketika garta terkumpul tapi bingung buat siapa..??

  3. @mbak ocha
    iya🙂 seorang ibu adalah wanita luar biasa🙂

    @omiyan
    “banyak yang kaya harta tapi hampa ketika garta terkumpul tapi bingung buat siapa..??”
    kenapa bingung? banyak anak yatim, banyak orang miskin, banyak orang2 yang lebih berhak atas harta kita, banyak sekolah yang hancur dan butuh sumbangan, banyak banget yang bisa kita bantu dar “harta yang berlebih” situ bingung apa pelit? ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s