Yang komunitas

Sebut saja Indri, adek kelas saya, yang bisa dibilang secetakan sama saya. Sama gedenya, sama bawelnya, sama nyebelinnya tapi sama sama ngangeninnya. Ketika di Jakarta dulu, saya pernah kumpul kumpul bareng di sebuah bistro, kami menyebut diri kami Cozy, karena selalu kumpul di Cozy cafe, yang memang milik kami sendiri. Bisa dibilang, kita udah deket banget, sampe becandaannya mulai “rusuh”. Dari yang mesum sampe yang mengejek fisik. Indri, yang kebetulan tau saya dan komunitas itu, minta ikut gabung. Saya pun mengenalkan Indri sama anak anak lainnya.

Yuki, abang saya, yang memulai memanggil kami “babi kembar”. Mungkin karena sama bentuk pantat nya😀 buat saya dan Indri, panggilan itu bukan masalah. Apalagi saya, sudah terlalu biasa di ejek fisik. Indri pun cuek cuek saja, awal awal pun dia kaget, karena di panggil “babi” yang cukup kasar untuk panggilang cewek. Tapi berhubung, semua selalu tertawa karena panggilan itu, dia pun menerima begitu saja.

Suatu hari, kami berencana jalan jalan ke monas bareng, naik motor rame rame. Karena saat itu saya berpacar, saya bonceng pacar saya, dan Indri, ga sengaja dapet pasangan abang saya Yuki. Entah dengan maksud bercanda atau tidak, Yuki menghardik dan berkata “Entar ban gw kempes!” Indri terdiam dan shock. Kalo saya, biasanya, pasti njawab “ya elah kayak orang susah, beli lagi, berapa duit seh?” dan ngakak ngakak. Karena diam, dan Yuki emang ga peka, mantan saya nyuruh tukeran aja. Di motor, pas saya negur, si Yuki dengan tidak bersalahnya bilang, “ya kan dia tau gw becandanya gimana, lagian, sentimen amad si jadi cewe.”

Puncaknya, ketika kami jalan jalan ke Bogor naik mobil Yuki. Ketika akan berangkat dari Cozy, sebelum Indri sempat naik, Yuki menutup pintu dan bilang “dah penuh, ga muat lu duduk di sini, bagasi aja ye” Indri pun pucat pasi dan lari pulang. Saya langsung menempeleng kepala Yuki, Yuki malah marah dan bilang, “apa sih?! biasa aja, dulu lu juga pernah diginiin tapi ga nangis kayak gitu kan!”

Saya ingat, dulu pernah saya di “usir” seperti ini dan ditinggal, tapi saya nelpon dan maki maki dia sambil ngancem “balik lu kesini nyet, kalo ga gw telponin cewek lu bilang lu selingkuh ama si X loh.” Dan sepengetahuan saya, Yuki emang sengaja pura pura ninggal saya waktu itu dan hanya muter mol (di Jakarta muterin mol aja bisa setengah jam gara gara macet loh😄 )

Saya tempeleng lagi kepala Yuki, dan bilang, “kesian, anak orang, dongo lu.”
Yuki mengelus kepalanya dan bilang, “ya resiko dia lah, kalo ga tahan ama kita yang becandaannya kasar, ga usah ikut gabung kita, ini seleksi alam, coy!”

Saat itu, saya pikir benar apa kata Yuki, walaupun keterlaluan. Ketika saya bertemu dengan Indri setelah itu, dia menangis dan bilang ga tahan, lalu ga pernah ikut kumpul kumpul lagi.

Saat di Jogja, ketika saya main di AA Game House, saya membuat kelompok kecil yang menurut orang yang gamau disebut namanya dalam tiap postingan saya, “kita cuma orang orang yang kebetulan ngumpul pas kebetulan ga ada kerjaan dan kebetulan pengen jalan.” Seorang anak lain, Cha cha pengen ikut kami ngumpul dan jalan, tapi karena perbedaan usia, kedewasaan dan cara bercanda, lagi lagi dia sakit hati dan akhirnya pergi seperti Indri dulu.

Saya jadi teringat kata kata ketuakelas dalam milis CA, “orang yang masuk komunitas harus bisa menerima gaya berkomunikasi komunitasnya.

Bener banget, kalau menurut saya, ketika kita sudah merasa, bercandaan yang diberikan sudah terlewat batas atau menyinggung, ada baiknya kita yang bilang pada anak komunitas, bahwa kita punya pola bercanda yang berbeda, dan merasa kata kata mereka menyinggung.

Siang ini, Indri menghubungi saya setelah sekian lama, dan membuat saya teringat tentang cerita lama ini. Ketika membahas masalah lama, dia berkata, “tapi sebuah lelucon tidak akan lucu lagi, ketika si pelempar lelucon telah menyakiti seseorang, mbak.” Saya manggut manggut di telepon. “Ndri, bukan masalah menyakiti atau nggak menurutku, tapi ketika kita menganggap serius sebuah joke, saat itulah lelucon terasa tak lucu.

Indri hanya terdiam dan berkata pelan, “tapi gw ga pernah tau, mbak, apakah ketika dia berkata seperti itu, bercanda atau serius.”

Selepas telepon Indri, saya diajak conference rapat bersama salah satu komunitas kaskus.

Ada sebuah web yang memiliki sistem auction dengan sistem bid yang “beresiko”. Saat mem bid sebuah barang, kita harus menyerahkan uang di dalamnya (jadi bukan asal bid), dan ketika ada orang lain yang meng outbid kita, maka uang itu akan hilang. Nah, kita bermain auction seperti itu.
Kaskus terbagi 2 komunitas, Leak, yang berisi “senior” (lebih tepatnya, orang yang udah lama berkecimpun dalam permainan web ini) dan Kaskus yang berisi “junior” (masih baru). 2-3 hari lalu, ternyata ada masalah inner Kaskus. Seorang mengoutbid sesama anak kaskus sendiri. Masalahnya, selain yang meng outbid ini anak baru, cara dia pun dianggap “kurang sopan”.

Kronologisnya begini, si A membid sebuah cincin, lalu offline. Ga berapa lama, ada oknum H yang memberi pm pada A untuk minta ijin membid cincin itu. Karena si A ga tau, dia ga bales, dan H mengira si A mengiyakan. Dan ketika A online lagi, *poof* uangnya hilang, barang ga ada karena di outbid. A pun marah dan menegur H, tapi H hanya berkata “lagian aq PM kok ga dibales, sebagai senior kok ga bisa ngalah sih??!!” which is bikin A berang dan akhirnya berantem di dalam Kaskus.

Berhubung saya anak Leak :p jadilah ikut dimintai saran, dalam conference itu, seorang senior, Bagus, berkata “inilah resiko masuk ke dalam komunitas, harus bisa mengalah, kalau udah salip menyalip seperti ini, masalahnya, akan merusak kepercayaan dalam komunitas.

Saya si cuma menanyakan gimana aturan di dalam Kaskus. Dalam Leak, biasanya kalau emang ada barang “panas” kita akan memilih siapa yang akan nge bid barang itu. Ndak salip salipan, lagian menurut saya, alasan “pm ku ga dibalas” dan “senior harus ngalah” itu ga bisa di jadikan tameng. Komunitas yang baik harusnya selain membentuk aturan yang jelas, juga harus membuka komunikasi dua arah, biar ga ada rasa senioritas dan junioritas di dalamnya. Komunitas itu kan kelompok yang bergabung karena sebuah minat yang sama, karena ketertarikan yang sama. Kenapa harus di kelas kelas kan??

Memang anak baru baiknya banyak bertanya, bagaimana komunikasi di dalam sebuah komunitas, bagaimana caranya melebur di dalam. Tidak menyimpulkan ataupun membuat gerakan sendiri. Saat saya bersama Duelist dulu dalam DOMOIndo, kita berusaha membuat jalinan kepercayaan di dalam. Setiap ada anak baru, kita memberi tahu aturan aturan yang ada dengan jelas dan cara berkomunikasi kalo seandainya merasa sakit hati. Sehingga membentuk komunitas yang stabil. Kalo kata Lenny dulu, salah satu teman saya, “anggaplah komunitasmu sebagai rumah keduamu, jadi buatlah komunitas itu senyaman mungkin.

Ketika masuk ke dalam sebuah komunitas, sebaiknya kita segera membaca, bagaimana bercanda di dalam sana, bagaimana tipe tipe orang di dalam sana, dekati lah salah satu orang lama nya dan minta ajari bagaimana caranya berkomunikasi di sana. Dan kalau memang sakit hati, baiknya diomongin🙂 bukan begitu?

PS : Etapi saran di atas tidak berguna kalo situ ikutan gabung komunitas penggosip, dan yang suka nusuk dari belakang, percayalah.

16 thoughts on “Yang komunitas

  1. betul sekali. seperti yang saya alami baru-baru ini karena membentuk suatu…katakanlah grup. banyak yang ternyata kurang bisa masuk ke dalam grup tersebut, karena membernya mempunyai macam-macam perilaku. ada yang becandaan terus, ada yang serius. dan hal ini yang membuat saya agak pusing menghadapi saran-saran meminta agar lebih seriuslah, atau kurangi peraturan yang akhirnya sempat membuat saya menjadi bingung! namun kalau kita mengalah, grup ini malah bisa bubar. jadi akhirnya kita membiarkan seleksi alam. yang bisa bertahan, maka dialah yang berhasil mengikuti “komunitas” tersebut.😀

    siap-siap ansab aja kalau emang gak cocok…😛

  2. *injek danke* ni anak pertamax aja :p

    taunya dari.. kalo ga sengaja mendengar orang orang yang berconference untuk menggulingkan seorang leadernya *lirik janda dan shah* :p

  3. […]Ketika masuk ke dalam sebuah komunitas, sebaiknya kita segera membaca, bagaimana bercanda di dalam sana, bagaimana tipe tipe orang di dalam sana, dekati lah salah satu orang lama nya dan minta ajari bagaimana caranya berkomunikasi di sana. Dan kalau memang sakit hati, baiknya diomongin[…]
    setuju. berdiam diri dahulu, seperti melihat peta di awal perjalanan, memetakan masalah, mengetahui posisi.
    -hanya menambahkan sahaja- hihihi

  4. @danke
    kalo komen pertama di wp kena moderasi, jadi g langsung tampil, di tahan dulu, mo disetujui apa dihapus🙂

    @dodong
    *injek*

    @unclegoop
    makasi paman🙂

  5. […] goop

    […]Ketika masuk ke dalam sebuah komunitas, sebaiknya kita segera membaca, bagaimana bercanda di dalam sana, bagaimana tipe tipe orang di dalam sana, dekati lah salah satu orang lama nya dan minta ajari bagaimana caranya berkomunikasi di sana. Dan kalau memang sakit hati, baiknya diomongin[…]
    setuju. berdiam diri dahulu, seperti melihat peta di awal perjalanan, memetakan masalah, mengetahui posisi.
    -hanya menambahkan sahaja- hihihi […]

    setuju ama paman..!!!!

    *eh,bikin pasor di jogja dimana ya..??? *

  6. Vox populi vox dei?

    Jika kita sudah tidak cocok dgn suatu komunitas, ada 3 hal yg bs kita lakukan:

    1. “Mengubah” kebiasaan dan aturan komunitas itu
    2. Mengikuti kebiasaan dan aturan komunitas itu
    3. Keluar dari komunitas itu
    🙂

  7. @mas zam
    mengubah kayaknya sulit deh mas, apalagi kalo ada sindrom minoritas-mayoritas, otomatis, apabila kita berada dalam kelompok minoritas, kebiasaan mayoritas sulit diubah. jadi ya harus mau ikut atau keluar😀

  8. @chika
    curcoooolllll
    bwahahahaha

    makanya, saya konsisten dgn nyuruh anak baru CA njengking. krn itu gaya becandaan yang sudah berjalan. toh saya ngga pake ngumpat2 :p

    eh kamu dah njengking belum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s