Yang berpisah dengan baik

Salah satu cara berpisah dengan baik tanpa harus menyakiti sang pacar adalah… :

Tinggalkan dia selama 20 hari tanpa kabar, tanpa telpon, tanpa sms, dan biarkan dia terbiasa kehilangan dirimu, dan mulai merasa bahwa hubungan kalian mengambang dan 99% pasti akan putus, lalu pada hari ke 21, sms lah dia dan bilang,  “I’m sorry.. I can’t”

Yang Kopdar

14 Desember kemarin akhirnya kejadian juga kopdar DOMOsan jogja.  Al Ihwal dicetuskannya acara kopdar ini, merayakan Charlie yang liburan dan pulang ke Jogja dari Malaysia. Rencana awalnya adalah jam sepuluh kumpul di Kebon Pisang, Babarsari. Tapi Tuhan sepertinya ga suka sama acara ini, di jatuhkannya hujan sejak pagi. kekeke.. Saya janjian sama diyaz buat njemput saya di rumah, berhubung deked rumahnya.

Erika_Ayanami (Nest), cicak (Surya), Re.../Chastity (Diaz), cHoRo (choro), Charlie (Charlie)

ki ke ka : Erika_Ayanami (Nest), cicak (Surya), Re.../Chastity (Diaz), cHoRo (choro), Charlie (Charlie)

Charlie (lagi), Rency, Deshane (Dicky), Ruu-chan

Charlie (lagi), Rency, Deshane (Dicky), Ruu-chan

Sekitar jam 9 pagi, Charlie menelepon saya yang masih asyik masyuk memeluk guling di pagi dingin itu.

Charlie : halo, choro ya?
cHoRo : ha? hm,, iyah,,
Charlie : eh.. masi tidur ya? sorry sorry?
cHoRo : Ga kok, dah bangun, napa napa? (padahal aslinya masih merem)
Charlie : eh chor, nganu, hujan nih, mau di jemput ga?
cHoRo : lah, aku kan emang ikut kamu (saya pikir saat itu yang telepon si diyaz)
Charlie : hah? tenane? ya uwes, rumahmu di mana?
cHoRo : (baru sadar, sejak kapan diyaz ga tau rumah saya?) eh nganu, ini sapa?
Charlie : ini charlie
cHoRo : halaaaahhh.. ga usah char, nanti aku bareng diyaz aja, tak pikir iki diyaz.
Charlie : tapi hujan loh
cHoRo : iyo paling telad..

Habis itu saya mandi dan esemes si diyaz, dari rumah jam 10 an, ke atm dulu, ambil motor diyaz dulu (dia jemput pake motor temennya) dan dikabari, kalo kopdarnya pindah ke sego penyetan. Sampe di sana jam setengah 12 an, pesen makan dan ngobrol ngalor ngidul. Sampe jam 4. Asyik banget, dari ngebahas domo, nge gosipin GM, bahas skill, ngomongin orang (teteup yaaa. mentang2 check and byecheck branch head, jadi dimana mana teteppp gosip) sama potok potok, kekeke.. Jam setengah empat an saya pamit, soalnya mau latihan vokal dan makan pancake di rumah Herman Saksono.

Sampe di rumah nya Herman, masak pancake, yey~ saya masak lohhh 😀

ada tikabanget, alle, ekowanz, gage batubara, mba utet, senafal, antobinal, sandal, dina aceh, eh siapa lagi yah,, duh ingatan saya lemah sekali.. pokoknya itu yang saya ingat.

terus besoknya ke happy puppy buat nyanyi. anehnya, seharian di kampus saya, operator keparat memutar lagu yang sama berulang2. lagunya F4 yang Jue Bu Neng Shi Qu Ni, Iklim yang Suci dalam Debu, dan lagu ostnya kuch kuch hota hai yang Koe Mili Ge Ya…

Dan malam itu ketika sudah akan pulang, seseorang memilih lagu koe mili ge ya,, yang membuat saya tidak tahan untuk nyanyi! walopun suara jelek dan lirik ga apal ples jaim tingkat tinggi… inilah potok ketika saya nyanyi.. tapi kok kaya orang nahan sakit perut ya.. ah sudah lah, jangan protes :p

Ohh beteweeee,, gosiipp.. si diyaz ngajakin saya nonton twilight, cuma masalahnya, kalo saya nonton senengane megang tangan orang sebelah saya, saya si seneng yas,, tapi kasihan kamunya *kabur*

Yang Kenangan

Kenangan. Kira kira itu yang saya rasakan ketika menjenguk Osa. (hore. akhirnya janji itu tertepati)

“emang kita pertama ketemu di acara ichigo yah?” Dia bertanya

“Yep! Aku bahkan masih ingat bajumu. Rambutmu sepinggang dengan kaos putih dan rok batik. Aku masih ingat, kita berkejar kejaran ketika aku mengerjaimu waktu itu. Hahaha.” Pikiranku kembali ke keadaan tiga setengah tahun lalu.

“Iya iya! Ya ampun, dah lama banget tuh! Kita masih imud imudnya waktu itu chor, masih es em a. Masih ya ampyuuuunnn.. Dah lama banget ya.” Lalu kami kembali pada kenangan kami.

Kenangan, apa itu kenangan? Pemanis kehidupan? Penjara yang tak nampak? Pelajaran seumur hidup? Guru tanpa tanda jasa sesungguhnya? Sebuah time machine?

Kenangan bagi saya adalah sejarah. Sebuah waktu yang readable, tapi tidak writeable. Dulu saya membenci kenangan. Saya merasa kenangan adalah mimpi. Yang hanya membuat kita terhibur, atau mungkin terkungkung.

Apa yang saya kenang 4 tahun lalu? Ketika saya masih di Jakarta, menunggu detik detik meninggalkan kota penuh kerlip itu dan mengunjungi Jogja. Kesedihan, bukan hanya karena saya harus meninggalkan terlalu banyak kenangan dari Jakarta, tapi juga memasuki kenangan lama tentang Jogja.

1996. Dua belas tahun lalu saya menginjakkan kaki pertama pada tanah jogja. Pindah dari kota sunyi, Malang. Dua tahun cukup membuat saya membenci Jogja. Tak ada alasan signifikan, hanya saya menjadi korban bullyed. Dan penuh kebahagiaan saya meninggalkan kota ini.

Sekarang? Saya jatuh cinta pada Jogja, another memories has been created. Hampir empat tahun saya di sini dan saya menjadi tergila gila pada Jogja. Kenangan pada akhirnya bisa membuat kita melabelkan sesuatu.

Ketika teman saya memiliki memories di gigit anjing, dia akan melabelkan semua anjing di dunia ini ganas. Maka saya membenci kenangan, yang dulu bisa membuat seseorang terkungkung pada kenangannya sendiri. Tapi tidak untuk sekarang, ketika saya bisa memilah kenangan yang menyenangkan dan menyedihkan. Ketika seseorang menyadarkan saya, apapun kenangan itu, baik dan buruk, hanya ada sebagai kenangan. Dan akhirnya menjadi sesuatu yang berharga bagi kita.

But you know, there’s something I believe.
I want to try living my life carrying all my memories with me.
And even if those memories are painful,
Even if it did nothing but hurt me,
I want to keep them.
Even if those memories I sometimes wish I could forget,
As long as I carry them with me,
As long as I keep holding on,
Then someday, someday I’ll be strong,
And those memories won’t hurt me anymore.
And I’ll be glad that I have them.
That’s what I believe, with all my heart.
That’s why all my memories are precious to me.
I wouldn’t think it will be okay to forget a single one…

Momiji Sohma – Fruit Basket – Ep 15

Yang Undead Part 4 – Laugh

“knock.. knock”

aku selalu benci ketukan berirama sama itu. Pasti hime. atau pengikutnya. mereka sama, sama sama menyebalkan ketika mereka mngetuk berima sama itu.

“krieeett…”

pintu itu terbuka dengan sendirinya, kulihat kaki jenjang mulus itu. Ah, hime rupanya, dan dia sendirian.

“Kenapa ga buka pintunya?” dia duduk di sebelahku. Yang masih pura pura tertidur.

“Dan aku tau kamu ga sedang tidur.” dia membelai keningku, membuatku membuka mata.

Aku tertegun sejenak melihat matanya yang sembab, lalu tersenyum  sinis, “kalau yang punya rumah tak membuka pintunya, artinya yang punya rumah gak mengharapkan tamu.” Lalu aku terduduk setengah malas. “Harus ku hidangkan sesuatu?”

Hime menggeleng kecil, lalu berjalan ke arah dapur, menarik sebuah termos, menyeduh teh. Wangi teh yang sama semenjak 3 tahun lalu, masih dengan jumlah adukan yang sama, dan sendokan yang sama. Masih sama. Dan aku termangu, antara kekaguman dan kemarahan atas ingatanku tentang detail caranya membuat teh.

Dua cangkir teh berwarna sama berada di depanku, merayu hidungku mengingatkan cara dirinya membuat teh. Lagi.

Dia terdiam, aku terdiam. Kami menikmati harumnya teh dan hening dalam diam. Wajahku ku kakukan, menyiapkan segala cacian pedas yang akan ku semburkan tepat di depan wajahnya.

Cintaku tersapu embun.

Aku menghentikan seruputan tehku. Tangan hime bergetar memegangi cangkirnya.

Cintaku tersapu embun pagi
jariku beku terhembus angin subuh
dan ulu hatiku tertusuk ribuan jarum gerimis tajam.

Ganti tanganku yang bergetar, hime tertunduk. Dia menghirup aroma tehnya dalam dalam.

“Itukah alasanmu pergi kemari sendiri?” aku menaruh gelasku ke meja, berdiri dan mencuci mukaku yang tampak tak karuan. “Red eye?”

Hime menengguk tehnya banyak banyak, seakan ikut menelan bibit bibit kejujuran yang akan dia lontarkan.

“Dia meninggalkanku 10 hari lalu. Entah kemana, berbuat apa, sama siapa, untuk apa, kapan pulang.”

Tanganku mengepal keras, kesempatan inikah yang kutunggu? Tapi aku membencinya.

Hime kembali menghirup aroma tehnya dalam dalam, dan menenggak habis seluruh isi cangkir itu seolah menenggak habis semua keluh kesahnya.

“Aku ingin kembali”

Terdengar suara lirihnya lambat lambat menggaung kencang di telinga dan otakku. “Aku.. Ingin.. Kembali… kembali…. kembali…”

Ku banting cangkir di tanganku dengan sekuat tenaga. Hime terkejut dan berdiri meletakkan cangkirnya, lalu terdiam. Dan aku terkejut, karena bukan amarah yang kurasakan, tapi sebuah luapan emosi penuh kegembiraan. Euphoria. Mencintai hime kah aku?

“Muhuhuahhahahahaa…” Tawa ini, jelas bukan tawa kebahagiaan. Lalu mataku menjadi gelap, dan aku merasa, tubuh ini tak lagi berada di bawah kekuasaanku. “Kembali, katamu? karena kamu ditinggalkannya kamu minta kembali??”

Hime terduduk dengat mata terbelalak. Mataku nanar, menatap seperti serigala kelaparan. Dan aku menyeringai. “Dan kenapa aku harus memperdulikanmu, hai sundal keparat!”

“Kasar sekali kata katamu…” Hime menangis, tersengguk sengguk.

“Sepanjang hidupku, tak kan pernah ku temui kebahagiaan seperti ini.”

Hime menangis dan berlari keluar. Dan aku, mengepalkan tanganku dengan sepenuh tenaga penuh luapan euphoria tak tertahan. Kesedihannya adalah kebahagiaanku. Aku terbahak, menyapu pecahan cangkir, dan kembali terpingkal pingkal. “Akhirnya.. Hime ditinggalkan olehnya.” Lalu aku tersenyum simpul dan kembali terlelap. Dalam kebahagiaan.