Yang rencana

I am not a good planner.

Dulu, saya itu last minute girl, bikin pe er itu subuh2 atau 1 jam sebelum bel sekolah masuk. Kalo berangkat ke luar kota itu saya selalu packing di malam sebelum Hari H.

Bapak ibu saya,, uugh, ampe kesel dan gemes kalo liat saya kelabakan ngerjain sesuatu. Bapak saya tentara yang disiplin dan ibu saya tentara yang berpikiran panjang. Sayangnya di saya tidak mengalir darah itu babar blas.

Sampe suatu hari, ketika saya diajak membuat suatu project dengan temen temen saya pas SMP, euphoria project itu gagal karena saya, mengerjakan in last minute dengan hasil amat sangat berantakan. Saat itu, perasaan saya malu sangat, mau nangis, mengecewakan banyak orang. I was made to satisfying others, you know. Mulai saat itu saya berusaha menjadi seorang good planner. Saya mencatat, disiplin dan berpikir seperti ibu saya, berpikir panjang ke depan.

Suatu hari lagi, pas saya SMA, saya lagi lagi membuat project event bersama beberapa orang bule. Event nya event musik, kecil kecilan aja. Saya excited dan semangat membuat rencana. Tapi sepertinya tidak dengan teman teman saya. Mereka excited saat mendengar akan membuat event tapi ketika rapat hanya, “ya ya ya. aku ikut aja, terserah, bla bla bla.” Menyebalkan. Kenapa si ga mau semangat, ada bule gitu, hellow! Spread your name in international level, guys!

I planned event from A to Z, sampe si pendengar nguap dan bilang “Porno Parnoan banget si lu chor, yang penting hasilnya tauk!” karena saya bikin plan what if. jadi total ada 3 plan kalo ada hal hal yang gagal. Padahal kawanz, ingat kata2 Tom Landry : Setting a goal is not the main thing. It is deciding how you will go about achieving it and staying with that plan.

I present my idea in simplest way, simplest organization dan mereka pun mengikuti. Tapi apa yang terjadi, lagi lagi di hari H semua ketar ketir kelabakan cari barang2 prikitil yang sebetulnya penting untuk detil. Akhirnya acara tersebut menuai kritik2 pedas, terutama bagian sound yang ga jelas dan juga dekorasi yang ngawur.

Leader event tersebut malah menyalahkan saya karena saya sebagai organizernya dianggap tidak bekerja dengan baik. Dalam hati mau saya maki si leader karena dia jarang nongol di rapat apa pun dan susah dihubungi. Beberapa malah bilang sebaiknya saya yang jadi leadernya. Tapi saya ga mau, saya ga punya kekuatan dan kekuasan mengkontrol orang2, and I dont want to control someone.

Lagi lagi saya mo nangis, saya kecewa, saya benciiiii. Saya sampe menyumpah, saya ga mau organize event lagi. Tapi May, seorang bule Belanda – Bangladesh itu, dengan mata lembutnya menggenggam tangan saya dan bilang, “It is hard, to organize something with disorganized people, but girl, a good plan is like a road map, it shows the final destination and usually the best way to get there. Don’t stop, don’t ever think to stop, honey. Always have a plan, and believe in it. Nothing happens by accident.”

And now on, saya selalu punya 2 rencana. Rencana A : apa yang akan saya dan mereka lakukan. Dan B : apa yang akan saya SENDIRI lakukan.

9 thoughts on “Yang rencana

  1. plan itu memang sangat penting untuk dibuat, tanpa plan semua tak akan berjalan lancar.

    Namun, sayangnya kebanyakan orang Indonesia malas untuk planning untuk hari esok dan itu sudah diketahui para bule kalau orang Indonesia itu gak teratur😦

  2. semangat ya chooor…….!!!

    memang,, terkadang apa yang direncanain ga berjalan sesuai rencana…. tapi… justru disanalah seni dalam membuat rencananya..
    nah lho???!! ngomong paan yaa?? heeee….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s