Yang dibawah pohon

Under the tree, sebuah film Indonesia yang kabarnya akan di putar Oktober lalu kini sudah bisa dinikmati di twenti wan. Saya mendapat kesempatan traktiran dari mas Iman, bersama Kang Dodong, Celo, Senafal dan Mbak Dian (temen kok kang dodong yang baik hati serta tidak sombong *menjilat karena mbak Dian satu2nya orang yang berinisiatif beli pop corn*)

Sebelumnya, saya sudah membaca review dan menonton trailernya, membuat saya excited untuk nonton film ini, tema yang dibawa tidak kacangan dan tidak mainstream. Sekitar jam 19:20 saya masuk ke studio 5, terlambat dan berisik! Grusuk2 nyari tempat duduk dan rebutan kursi, ga penting memang, tapi mengganggu yang lain. Oh penonton dikala itu, maafkan kami.. Saat itu adegan sudah dimulai dengan seorang “aneh” (yang ternyata dukun) menggunakan bahasa bali menyuruh Marcella Zalianty (yang ternyata nama tokohnya adalah Maharani) untuk mencari penari itu (yang ternyata saya ga tau siapa *halah*).

Bisa dibilang satu jam pertama film under the tree adalah penderitaan batin yang amad sangat, ibarat anda sedang mengalami haus yang amat sangat, begitu mendapatkan air ternyata airnya adalah air laut yang membuat kerongkongan makin gatal dan membuat otak kacau untuk berpikir. Maksudnya? Ga ada. Biar keliatan keren aja pake perumpamaan begini *disambit kolor*.

Twenti wan jogja bisa dibilang mengecewakan, satu jam pertama suara hilang dan rusak *juga terjadi pas saya nonton madagascar kemarin*, gambar video naik turun ga jelas dan sekitar jam 19:45an lampu nyala, dan layar menjadi merah karena seseorang menjadi mayat dan bersimbah darah di depan layar bertuliskan “Sorry for your Inconvenience” Satu jam selanjutnya juga ga ada perbedaan, grafik tidak bermasalah tapi sound masih mengalami gangguan, ada suara “drrt drtt” yang cukup mengganggu di dalam setiap adegan.

Under the tree *yang tadinya mau diganti judul menjaid Fallen Seeds* dibagi menjadi 3 sesi, perkenalan/pembuka, bibit jatuh dan berbunga. Tapi mohon maaf saya ga nangkep maksudnya apa, kalo mo protes tolong protes sama twenti wan, saya ga konsen nonton gara2 yang muter filmnya ga profe! Film ini kurang lebih menceritakan tentang para wanita yang tidak saling berhubungan yang berada di pulau Bali, dengan latar belakang dan tujuan nya masing masing dan tidak berhubungan hingga akhir. Ibarat menonton banyak cerita dalam 1 film.

Maharani seorang wanita yang merasa dijual oleh ibunya, pergi ke Bali untuk mencari “penari itu” dan mencari tahu apakah ibunya mencintainya. Alih alih mendapat jawaban, dia malah mendapat brondong *lho?* yang juga ternyata membenci ibunya.

Nian, artis muda anak anggota parlemen ini liburan di bali, mencari pria yang “mampu meniup jantungnya menjadi bunga” (ada yang tau komik pengantin demos, mirip nih! jantungnya berubah menjadi serbuk gergaji.. apakah Garin terinspirasi komik ini? *disamplak pake kompor*) tapi daripada memilih mencari brondong, Nian mengikuti seorang seniman (yang belakangan ketauan namanya Ikranegara) kemanapun dia pergi. Endingnya si Nian ini aneh, karena ternyata ayahnya ditangkap KPK karena kasus korupsi serta si Ikranegara pergi meninggalkan dia, Nian pun bunuh diri. Sayang, padahal brondong sixpek di bali kan banyak! Kenapa ga coba pdkt dulu? At least kan memberi pandangan segar bagi wanita haus penglihatan lelaki sixpek seperti saya! *ditusuk linggis*

Ayu, seorang new mom yang harus mendapati kenyataan anaknya mengalami cacat otak (ini mengingatkan saya sama Mommy Yenny yang ceritanya booming di dunia perblog dan permilisan. *silahkan gugling “Ancilllo Dominic” nama si baby* betewe, cerita mommy Yenny ini nyata loh, karena dokternya eksis dan sudah memberikan kesaksian) dan dia lebih memilih melahirkan si ksatria yang hanya hidup 10 menit ketimbang menggugurkannya sejak dini.

Soka, seorang wanita polos dan rendah diri, mencari pengakuan dari Kelar lelaki yang dia cintai tapi nampak terlalu jauh untuk dia gapai. Dari keputus asaan dan kecemburuan yang terpendam didalam dirinya, akhirnya dia memberanikan diri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dari Kelar.

Menonton film ini, menyimpan berbagai pertanyaan. Cerita yang tdiak berujung menurut saya. Dalam kasus Nian misalnya, siapa Ikranegara? Kenapa Nian berminat dengannya? Kenapa dialog mereka aneh? Sebentar2 seperti percakapan orang yang baru kenal, sebentar2 seperti orang yang sudah kenal lama. Atau pada kasus Maharani, siapa “penari itu”, kenapa dia merasa ibunya menjual dia? Kenapa ketika dia membenci ibunya saat dipenjara dia malah mencari ibunya tapi pada ending dia kembali mempertanyakan apakah ibunya mencintainya? Ketika seorang anak ragu apakah orang tuanya mencintainya atau tidak, dia tidak akan lari menuju ibunya ketika dia berada dalam masalah.

Soka adalah penggambaran karakter favorit saya, cara dia menyimpan cintanya, memandang dengan rasa cemburu tapi tidak sanggup meraih si Kelar, cara dia meminta pengakuan Kelar akan cintanya, cara dia bahagia ketika Kelar mengaku sebagai calon suaminya, bener2 bagus. Menunjukkan wanita yang bener2 polos dan jujur dengan perasaannya.

Sedang penokohan Kelar justru yang paling buruk, apakah dia memang gagap? Apa dia genit? Apa dia cuma numpang lewat? Padahal Kelar adalah pangeran Soka.. Sayang banget ga digali..

Atau si Ayu, siapa bapak dari anak yang dia kandung? Bagaimana pekerjaan dia setelah dia hamil? Apa dia resign? Kenapa tidak di jelaskan? *okay, saya ga penting*

Karakter2 under the tree mendapat porsi yang maksimal (kecuali karakter bu Dewi.. yang harusnya juga ditambah) walaupun banyak berkutat pada cerita Maharani. Nadia Saphira (Nian) berperan bagus sekali di film ini. Sumpah, saya suka banget nadia di film ini!!

Untuk musik dan suara saya no komen, jujur saya ga bisa nikmati karena “Drrt dtrtttrr” itu..

Akhirnya, saya seperti makan duren tapi bijinya terlalu besar. Tidak nikmat. Entah karena otak saya ga sampe dalam “simbolisasi” Garin yang pada akhirnya saya ga paham apa maksud cerita ini, atau karena servis twenti wan menyebalkan.

6 thoughts on “Yang dibawah pohon

  1. itu keknya krn peran si Joni. itu lho, pengantar kopi pilem, apa tuh namanya kok lupa.

    jd pilemnya ga mulus gt.

    ah twentiwan jogja kok menurun gt kualitasnya, bahkan pd saat madagascar ? mending nonton di home theatre dewe dung. *nabung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s