Yang menilai

Temen saya pernah bertanya gini ke saya, “chor, lu pernah minder ga karena gendut?”

Saya lalu tertawa, “mm.. ndak tuh, kenapa?”

“Ndak sih, beberapa temen gw yang overweight gitu orangnya minderan, tapi kekna lu ceria ceria ajah”

Saya cuma tertawa. Minder is sooooo last millenium ago *halah*. Maksud nya, saya sudah pernah melewati phase itu. Phase saya membenci diri saya sendiri karena omongan orang lain. Ya ya ya, naif memang. Setelah phase membenci diri saya sendiri karena omongan orang lain, saya mengalami phase membenci omongan orang lain, atau istilah lainnya, denying.

Saat SMP,

Yang Celeste

Perempuan itu menuliskan namanya.. ‘Celeste’

“Seleste?” tanyaku.

“Seh-lest, bodoh!”

“Ah tapi aku lebih suka membacanya ‘seleste'”

“Gak pake te!!!” Dia mencubit cubit pipiku dengan gemas.

“Pake te ajah!!”

Itulah awal mula aku memanggilnya “Te”. Cuma perempuan biasa, sebaya denganku. Tapi dia gadis yang kuat, setidaknya dia tidak pernah menangis. Walau dia selalu mensesalkan kantung airmatanya yang selalu kering.

“Ketika aku berusia 12 tahun, aku pernah diperkosa, aku menjerit, menangis habis habisan, tapi tidak ada yang mengasihaniku, tidak ada yang menghentikan 3 pria jahanam itu. Aku melolong sampai serak, sampai tak bersisa suara di kerongkonganku.”

Dia tak terlihat sedih saat menceritakan itu. Dia tak terlihat takut, dia tak beremosi lagi.

“Tapi ketika aku pulang dan mengadu dengan mata bengkak bekas airmata, kedua orang tuaku menyembunyikanku seakan aku aib. Lalu aku sadar, menangis bukan lagi senjata untuk dikasihani. Bahkan, menangis pun sudah tidak ada gunanya lagi. Aku bersumpah aku tidak akan menangis lagi.

Sudah tujuh tahun ini aku tak menangis, Fa. Bahkan ketika ibuku meninggal tahun lalu. Katakan padaku, Fa, apakah aku tak punya hati, jika tak menangis dalam pemakamannya?”

Dia bertanya dengan suara dinginnya. Menusuk mataku yang tak lepas dari keindahan dirinya. Rambutnya indah, bibirnya penuh, kulitnya putih.

“Fa?” dia mengulang namaku.

“Entahlah, Te. Apakah hati dinilai dari air mata?” Aku membelai rambutnya, samar samar tercium bau jeruk, aroma tubuhnya, entah parfum, entah sabun.

“Kamu tidak menjawabku, Fa.” Dia mendengus kesal.

Aku tertawa, “aku tidak tau, Te. Sungguh, aku belum kehilangan ibuku, dan aku tidak tahu apakah aku nanti akan menangis ketika ibuku meninggal. Aku tidak tahu apakah mengeluarkan air mata berarti punya hati atau tidak, aku tidak tahu apakah kamu mencintai ibumu atau tidak.

Kamu itu apa, Te?”

Dia tersentak. “Apa maksud pertanyaanmu, Fa?”

“Mmm.. Jawab saja.”

“Aku Celeste, 19 tahun putri tunggal dari Bapak..”

“Stop!” Potongku, “Celeste itu namamu, bukan kamu, hanya panggilan. 19 Tahun itu umurmu, bukan kamu. Putri tunggal itu sebutan, Te. Definisikan kamu dalam kata yang menunjukkan kamu, Te.”

Dia terdiam, berpikir, “aku menyedihkan.”

“Menyedihkan itu kata sifat, Te.”

“Aku mahasiswi.”

“Itu sebuah pekerjaan, Te.”

“Aku perempuan.”

“Itu jenis kelamin”

“Aku lesbian”

“Itu orientasi seksual, Te.. Eh.. kamu les…?”

“Aku manusia” dia memotongku.

“Itu makhluk hidup”

“Aku.. aku.. aku, aku tidak tahu, Fa”

Aku tertawa. Dia mencubitku dengan gemas. “Aku itu apa, Fa?”

“Entahlah, aku tidak tahu Te. Tapi mungkin, mungkin aku dan kamu sama.”

“Sama? Kamu itu apa, Fa?”

“I am whoever you want me to be, I am whatever you’ve labeled to me.” Kataku sok filosofis.

Dia mencubitku makin gemas, “mungkin itu jawaban paling benar, Fa.”

“Ya, mungkin.. Tapi kita tak pernah tau, Te. Kita ini apa.

Kamu lesbian, Te?”

“Apakah kamu akan menjauhiku? Apakah kamu akan menjadi tuhan tuhan kecil dan menghakimiku dengan surga dan neraka? Apakah kamu akan kasihan padaku?” Dia memberondong dengan sinis.

“Ngga!!” Aku reflek tertawa.

“Aku tidak ingin disentuh pria, Fa. Aku.. entah, mungkin para psikolog psikolog ku mengatakan aku trauma.”

Aku diam. Dia diam.

“Tapi aku masih jatuh cinta, Fa. Hanya bukan pada pria.” Dia menambahkan.

“Kamu sekarang sedang jatuh cinta, Te?”

“Iya. Aku sudah pacaran dengannya dua tahun, Fa.” jawabnya mantap.

Ah.. nyaris aku ingin mengatakan, “aku jatuh cinta padamu, Te.” jika dia menjawab tidak. Atau entah, mungkin aku sedang gila, ingin bilang cinta pada perempuan ini.

Yang mungkin

Beberapa hari lalu saya nongkrong makan Eskrim di McD sudirman sama 2 temen lama saya, Ency dan Jat.

Ency lagi ngeluh kalo pacar barunya possesif abis sama dia. Kalo dia keluar, bahkan sama cewe sekalipun, harus kasih nomer hp temennya dan bisa di crosscheck, kalo ke luar kota, dia ga boleh kopdar sama sekali, bahkan sama saudaranya, kecuali kalo sama ortunya. Trus kalo pergi kalo ga sama dia, dikasih jam malam! Pokoknya strictnya ngalahin bapak saya yang strict abis.

Pas Ency tanya pendapat kita, si Jat mengeluarkan kalimat kalimat sakti menenangkan si Ency.

“mungkin itu tanda sayang kali, cy.. mungkin si cowo lu sayang banget ama lu biasanya cowo kalo kek gitu, ga mau kehilangan elu, cy, dah gitu dia ga pernah jalan jalan ma cewe lain kan, itu tandanya dia setia ama lu, cy, dan dia berharap lu juga setia ama lu cy. mungkin dia kelewatan, kalo lu dah ngerasa tersiksa, lu ngobrol aja, tapi lu tenang cy, lu harus tunjukkin kalo lu dewasa, mandiri dan bisa dipercaya ama dia. percaya deh ama gw cy, gw cowo, gw tau dia kawatir banget ama lu, cy. pasti nanti kalo lu dah sabar ama dia, kerasa deh manfaatnya kalo lu diperhatiin segitunya ama dia.”

Ency sumringah dan menatap dalam dalam mata Jat *halah, kek sinetron aja*. Sedang saya asik ngejilat jilat sendok stroberi sundae. Saya reflek tanya ama Jat, “emang lu dah kenal ama lakinya Ency?”

Jat cuma menggeleng, “ga siy, tapi gw tau lah, biasanya cowo jeles dan ngekang gitu karena takut kehilangan chor.”

Ooh.. mau tau apa pendapat gw?

Yang kehilangan

Hari Jumat kemarin saya ngambil uang via atm Mandiri (padahal atm saya BNI). Soalnya saya lagi ga bawa uang, tapi diajak hedon sama temen temen sma di Galeria. Sebetulnya ga ada masalah di atm itu, saya masukin pin beres, narik uang, uang keluar, slip keluar.. tapiii.. KARTU ATM SAYA GA KELUAR!! 5 menitan saya nunggu, agak ga sabar, tiba tiba layar atm berubah menjadi “Mohon Maaf, Mesin ATM ini Rusak, silahkan gunakan mesin lain”… SAPI!!! ATM SAYA DITELAN!

Panik lah, saya langsung telepon call center Bank Mandiri (yang sebetulnya ga perlu) ternyata saya harus telepon call center Bank BNI. Saya panik sedikit, soalnya ga tau call center BNI *bego kan, nasabah BNI kok ga tau call centernya* tapi untung saya dibantu temen2 disini. Massive hugs for you, mbak Fa!

Setelah nelepon, saya minta blokir kartu ATM dan disuruh membuat surat kehilangan di kepolisian terdekat untuk mengurus pembuatan ATM yang baru.

Berikut tips tips dari saya :
1. Datanglah ke polsekta terdekat! Jangan ke pos polisi polantas, saya ga bermaksud ngelucu, tapi tadi siang dengan begonya saya ke Polantas Jl Sudirman, padahal disana untuk mengurus kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas saja. *ya ya ya, saya bodoh*
2. Bawa KTP.
3. Tetap tenang, membuat surat kehilangan tidak akan membuat anda di interograsi macam macam, hanya nama, nomer rekening, hilang dimana dan keterangan keterangan lain.
4. Jika anda grogi, yakinlah, pasti anda akan berbuat hal aneh, seperti saya, disuruh ngeluarin KTP malah ngeluarin STNK, dan sukses diketawain 3 polisi yang lagi jaga tadi. *lha, ya maaf, habis saya ketemu polisi cuma kalo ada razia sim dan stnk kok, jadi refleknya ya ngeluarin STNK, pak*
5. Siapkan uang “seikhlasnya” untuk biaya administrasi.

Saya agak bete dengan biaya administrasi “Seikhlasnya” inih. Tadi ketika selesai memprint surat kehilangan, si bapak polisi ngeluarin kaleng dan bilang “untuk biaya administrasi, seikhlasnya mbak”
aduh,, pie yo.. akan lebih baik kalo biaya administrasi itu fix, dan tempatnya bukan di kaleng! maaf maaf, tapi,, kok ya seperti berhadapan dengan pengemis..
Saya nyaris ngeluarin uang cuman 1000 saja, tapi untuk meyakinkan, saya tanya, “seikhlasnya itu berapa pak?”
si bapak polisi mesem mesem, “ya seikhlasnya… *uhuk* sepuluh ribu *uhuk*”
halah,, uang seribu tadi masuk lagi ke dompet. Sialnya, saya ga bawa uang 10ribu, cih! Akhirnya melayanglah 20 ribu. Huh! Coba kalo biaya administrasinya sudah fix.. pasti saya ndak akan ngumel ngumel gini.

Atau jangan jangan, sebetulnya layanan kehilangan itu gratsi untuk masyarakat, yah? Dan polisi polisi itu menjadikannya sebagai lahan bisnis? Cih.