Yang Celeste

Perempuan itu menuliskan namanya.. ‘Celeste’

“Seleste?” tanyaku.

“Seh-lest, bodoh!”

“Ah tapi aku lebih suka membacanya ‘seleste'”

“Gak pake te!!!” Dia mencubit cubit pipiku dengan gemas.

“Pake te ajah!!”

Itulah awal mula aku memanggilnya “Te”. Cuma perempuan biasa, sebaya denganku. Tapi dia gadis yang kuat, setidaknya dia tidak pernah menangis. Walau dia selalu mensesalkan kantung airmatanya yang selalu kering.

“Ketika aku berusia 12 tahun, aku pernah diperkosa, aku menjerit, menangis habis habisan, tapi tidak ada yang mengasihaniku, tidak ada yang menghentikan 3 pria jahanam itu. Aku melolong sampai serak, sampai tak bersisa suara di kerongkonganku.”

Dia tak terlihat sedih saat menceritakan itu. Dia tak terlihat takut, dia tak beremosi lagi.

“Tapi ketika aku pulang dan mengadu dengan mata bengkak bekas airmata, kedua orang tuaku menyembunyikanku seakan aku aib. Lalu aku sadar, menangis bukan lagi senjata untuk dikasihani. Bahkan, menangis pun sudah tidak ada gunanya lagi. Aku bersumpah aku tidak akan menangis lagi.

Sudah tujuh tahun ini aku tak menangis, Fa. Bahkan ketika ibuku meninggal tahun lalu. Katakan padaku, Fa, apakah aku tak punya hati, jika tak menangis dalam pemakamannya?”

Dia bertanya dengan suara dinginnya. Menusuk mataku yang tak lepas dari keindahan dirinya. Rambutnya indah, bibirnya penuh, kulitnya putih.

“Fa?” dia mengulang namaku.

“Entahlah, Te. Apakah hati dinilai dari air mata?” Aku membelai rambutnya, samar samar tercium bau jeruk, aroma tubuhnya, entah parfum, entah sabun.

“Kamu tidak menjawabku, Fa.” Dia mendengus kesal.

Aku tertawa, “aku tidak tau, Te. Sungguh, aku belum kehilangan ibuku, dan aku tidak tahu apakah aku nanti akan menangis ketika ibuku meninggal. Aku tidak tahu apakah mengeluarkan air mata berarti punya hati atau tidak, aku tidak tahu apakah kamu mencintai ibumu atau tidak.

Kamu itu apa, Te?”

Dia tersentak. “Apa maksud pertanyaanmu, Fa?”

“Mmm.. Jawab saja.”

“Aku Celeste, 19 tahun putri tunggal dari Bapak..”

“Stop!” Potongku, “Celeste itu namamu, bukan kamu, hanya panggilan. 19 Tahun itu umurmu, bukan kamu. Putri tunggal itu sebutan, Te. Definisikan kamu dalam kata yang menunjukkan kamu, Te.”

Dia terdiam, berpikir, “aku menyedihkan.”

“Menyedihkan itu kata sifat, Te.”

“Aku mahasiswi.”

“Itu sebuah pekerjaan, Te.”

“Aku perempuan.”

“Itu jenis kelamin”

“Aku lesbian”

“Itu orientasi seksual, Te.. Eh.. kamu les…?”

“Aku manusia” dia memotongku.

“Itu makhluk hidup”

“Aku.. aku.. aku, aku tidak tahu, Fa”

Aku tertawa. Dia mencubitku dengan gemas. “Aku itu apa, Fa?”

“Entahlah, aku tidak tahu Te. Tapi mungkin, mungkin aku dan kamu sama.”

“Sama? Kamu itu apa, Fa?”

“I am whoever you want me to be, I am whatever you’ve labeled to me.” Kataku sok filosofis.

Dia mencubitku makin gemas, “mungkin itu jawaban paling benar, Fa.”

“Ya, mungkin.. Tapi kita tak pernah tau, Te. Kita ini apa.

Kamu lesbian, Te?”

“Apakah kamu akan menjauhiku? Apakah kamu akan menjadi tuhan tuhan kecil dan menghakimiku dengan surga dan neraka? Apakah kamu akan kasihan padaku?” Dia memberondong dengan sinis.

“Ngga!!” Aku reflek tertawa.

“Aku tidak ingin disentuh pria, Fa. Aku.. entah, mungkin para psikolog psikolog ku mengatakan aku trauma.”

Aku diam. Dia diam.

“Tapi aku masih jatuh cinta, Fa. Hanya bukan pada pria.” Dia menambahkan.

“Kamu sekarang sedang jatuh cinta, Te?”

“Iya. Aku sudah pacaran dengannya dua tahun, Fa.” jawabnya mantap.

Ah.. nyaris aku ingin mengatakan, “aku jatuh cinta padamu, Te.” jika dia menjawab tidak. Atau entah, mungkin aku sedang gila, ingin bilang cinta pada perempuan ini.

2 thoughts on “Yang Celeste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s