Yang menilai

Temen saya pernah bertanya gini ke saya, “chor, lu pernah minder ga karena gendut?”

Saya lalu tertawa, “mm.. ndak tuh, kenapa?”

“Ndak sih, beberapa temen gw yang overweight gitu orangnya minderan, tapi kekna lu ceria ceria ajah”

Saya cuma tertawa. Minder is sooooo last millenium ago *halah*. Maksud nya, saya sudah pernah melewati phase itu. Phase saya membenci diri saya sendiri karena omongan orang lain. Ya ya ya, naif memang. Setelah phase membenci diri saya sendiri karena omongan orang lain, saya mengalami phase membenci omongan orang lain, atau istilah lainnya, denying.

Saat SMP, saya punya temen dekat bernama Endah, yang bukan orang bandung, dan kami berdua di panggil duo hipo. Saat itu saya pikir hipo kepanjangan dari hipopotamus karena bodi kita emang gede gede. Tapi ternyata bukan, dan saya baru tau hari itu. 15 Mei 2003. Saya masih inget banget.

Malam sebelum tanggal itu, saya berantem hebat sama Endah. Gara garanya apa ya.. duh lupa, tapi yang jelas tanggal 15 itu saya menjelek jelekkan Endah di depan beberapa orang. Beberapa teman saya mendengus kesal, saya pikir saya berhasil mempengaruhi mereka, tapi komentar mereka membuat saya diam.

“Lu yakin bukan menceritakan diri elu sendiri, chor?”

“Lu ga punya kaca? Ga ngaca lu ama dia sama2 egoisnya? Sama sama nyebelinnya?!”

“LU HIPO, TAU GA SI?! HIPOKRIT!!!”

Iya iya, saya didamprat di depan umum seperti itu. Saya diam. Dan saya curhat ke abang Yuki sesampainya di rumah. Saya inget banget, pembicaraan saya dan abang saya itu penuh dengan kata “tapi”. “Tapi kan,, tapi kan,, tapi kan..”

“Tuh kan, lu dikasih tau ogah dengerin, gimana lu ga dibilangin egois?”

“Emang gw egois kok!” Saya merutuk sebal.

“Tapi lu ga suka dibilang egois?” Kata dia sambil tertawa

“Tapi kan..”

“Tuh kann.. mulai tapi tapi..”

Setiap saya mulai menyangkal, saya akan berkata “emang gw ini kok, emang gw itu kok” *ini dan itu silahkan di ganti dengan variabel kata sifat yang menyebalkan*

“You don’t know yourself, dear” kata abang “lo harusnya mendengar apa kata orang lain.”

Abang lalu memberi saya sebuah kertas folio. Kertas itu dilipat dua. Sisi kiri ditulis positif dan sisi kanan negatif. Saya harus mengisi sifat saya sampai semua garis penuh, jadi ga cuma 1 2 sifat yang harus saya tulis, tapi sebanyak banyaknya. Lalu, setelah penuh. Kertas itu digilir ke anak anak Cozy. Iya, 20 an orang menilai penilaian saya akan diri saya sendiri. Dan ketika kertas itu balik, semuanya penuh coretan. Ya, saya belum mengenal diri saya dengan baik.

Loh, kok mengenal diri kita dari penilaian orang lain?
Ooh, ya jelas, cermin kita itu ada pada orang lain. Kadang, kita terlalu tinggi menilai diri kita sendiri. Atau kadang terlalu rendah. Sadar gak? kadang orang lain bilang kita bitchy, padahal kita ga ngerasa gitu. Nah, harusnya kita menelaah, kenapa orang bisa bilang gitu, ya ga sih?

Nah, dari kertas itu, saya sempet ngedumel dumel “Iiigghh gw ga gini kook!!” Tapi saat itu saya salah besar. Setelah saya disuruh merenung beberapa hari, akhirnya saya sadar saya gimana gimana.

Ketika kita mengenal diri kita sendiri, kita paham kenapa orang bilang tentang kita a b dan c. Saya orangnya lebay, dan terlalu tepat waktu. Sometimes it’s annoying. Sometimes it’s fun. Saya tahu, kapan saya harus tidak memperdulikan apa kata orang dan kapan saya harus belajar memperbaiki diri.

Penilaian orang itu batas, batas apakah kita sudah kelewatan dalam melakukan sesuatu. Penilaian orang itu penting, bukan untuk menjadi orang yang baik di mata orang lain, tapi untuk mengalahkan ego. We are not a holy saint. I am not a holy saint. Kadang apa yang kita pikir baik itu cuma baik buat kita. Dan buat orang lain itu buruk. Kita ga mesti menelan bulat bulat apa kata orang lain. Ketika kita tau siapa diri kita, dimana kemampuan kita, kita akan berani berbuat walau kata orang lain buruk. But still, kita harus menelaah kenapa orang lain bilang kita buruk.

Penilaian orang itu batas yang tidak membatasi. Ketika publik sudah merasa terganggu dengan apa yang kita lakukan, kita harus sadar, di sana batas kita. Tapi, ketika kita tau kita mampu untuk mempertanggung jawabkan apa yang kita katakan dan lakukan, go on. Omongan orang bukan halangan lagi. Prove to them you can do it and you will make them amazed.

So, dear. Do you know yourself well? Do you know why people get annoyed by you? Do you think you are a holy saint that never can be wrong and ignored people’s opinion? Or do you think people judged you so hard so you can’t move at all?

Understand yourself dear.. Know yourself. Jangan cuma blow up tentang diri kita sendiri tapi tidak mengerti batas kita. Jangan lupa mendengar apa kata orang, nilai kita ada pada mereka, harga kita ada pada mereka, tapi jangan jadikan mereka sebagai fondasi kita.

11 thoughts on “Yang menilai

  1. I always said to my self..to others..gw ya gw..
    I’m learn to be a woman..
    Being mature is a process..isn’t right??
    Kadang kita kekeuh bilang…’gw udah dewasa’
    tapi justru kata2 itu yang nunjukkin..kita blum cukup dewasa..

    Everything in life changes u some way
    even in smallest things

    Sometimes u need to leave to get away from it all
    But u may return to find everything has changed

    life must go on…
    sure there are bumps on the road but i wont trade any of it..
    never know what hapenned tomorrow..just live my life to the fullnest

    ^___^v hope english gw beres😀

  2. smart posting. . .

    aq memamng kadang gak tau tentang diriq ini sendiri. . kadang terlalu melebihi kemampuan yang q miliki. . .melebihi batas maksimal yang kupunya. . .

    memnag kita itu harus mengerti diri kita sendiri. . .sebelum kita menilai orang lain. . .

    jangan sampai ketika kita menilai orang lain ternyata yang kita nilai itu kita punyai juga. . .

  3. Cara yang dilakukan untuk menilai diri kita itu (yang pake kertas dan diputerin ke temen2) itu bagus juga, Chor. Duh mesti kuat mental itu untuk menbaca hasil akhirnya.

  4. Pingback: Yang Menilai Kita « comotan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s