Yang “mean it!”

Saya orang yang membosankan *dah pernah bilang to*, ketika berhubungan dengan seseorang, saya berusaha se statis mungkin. Sebisa mungkin, walau sering gagalnya, emosi saya ndak naik turun.

Makanya, saya suka bete kalo liad para abege atau adik saya atau mid twenty super alay yang pacaran yang emosional. Itu loh, yang kalo pagi mesra mesra, tapi begitu matahari meninggi malah ngambek ngambekan dan bilang “YA UDAH GA USAH KETEMU LAGI!” atau “KITA UDAHAN AJA DE!” dan seterusnya, tapi saat bulan muncul malu malu, mereka udah saling berpelukan dan mesra lagi. Bukannya sirik liat mereka pacaran “penuh warna”, tapi, sadar ga, kata kata itu kan sebagian dari doa. Atau, sadar dan ga sadar, ucapan (yang diucapkan ketika bibir dibutakan emosi) bisa saja menyakiti orang lain (apalagi, kalo orang yang dimarahi tipe penelan bulat bulat dan sukar mentolerir). Atau, kalo kita terlalu cepat mengganti pikiran, orang akan mudah meremehkan kita karena kita ndak bisa di pegang omongannya.

Please mean what you said.

Nah, pertengahan tahun lalu saya dekat dengan seseorang yang membuat dunia saya kebanting banting. Bukan an, tapi pria yang pada agustus tahun lalu memberikan penawaran menggairahkan yang harus ditukar dengan sebuah rasionalitas *halah bahasanya* pria yang sempat membuat saya ketakutan dengan prinsip saya sendiri. Bukan sebuah hubungan yang berakhir indah. Kurang lebih september tahun lalu, pria itu akhirnya berkata “forget me, erase me from your memory, kalau kamu yang ga sanggup menghapusku, aku yang akan pergi dari kehidupanmu.”

It takes time, to heal the pain, to bear the scar *ce ilaaahhh* sampai saya benar benar “menghapusnya”. Sampe malam tadi, pria ini menelepon saya, yang kebetulan nomornya udah ndak ada di hape lagi, dan tanpa sadar saya nanya “Ini siapa ya?”

MWAKAKAKKAKA..

Reflek pertama saya pas mengenali suaranya yang bete bilang “oh, nomerku dah di hapus?!” adalah ngakak. Haduh.. Salting, serba salah juga. Apalagi dengan nada dia yang bilang “bagus deh, nomerku kamu hapus”. Aduh.. trus dia nambahin “yaudah de,, maaf ganggu, ga lagi lagi nelpon” aeyaaa… bukan gitu maksudnya..

I don’t want to blame your words half year ago, tapi juga ga mau punya guilty pleasure gini. I love to hear your voice again, and feel like winning something when you called me. But feel guilty because you sounds like judging me don’t want to hear you again. Hahahaha..

I still love your voice mas, but when you said “forget me” half years ago. I thought you mean it, I try to “forget you” physically, emotionally. And I can. But it doesn’t mean I don’t want you anymore.🙂

*trus inti postingan ini apa ya? Huahahhahaha*

One thought on “Yang “mean it!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s