Yang mau dan mampu

Saya punya teman di Filipina, namanya -atau saya mengenalnya dengan nama- Caldvin, dia mahasiswa tingkat akhir sebuah perguruan tinggi seni, mengambil jurusan perfilman. Tugas akhirnya adalah membuat sebuah dokumenter film, tentang politik *kalo saya ga salah ingat*.

Malam malam online, cuma liat dia, ga ada kerjaan saya tanya tanya tentang bidang kuliahnya, “do you like it?”

Tentu saja dia menjawab sumringah betapa dia menyenangi film, bahwa film tidak hanya membutuhkan acting dan drama, tapi juga mengemas sebuah kenyataan menjadi sesuatu yang menarik, dan mendidik. Ah, iri, mengerjakan sesuatu yang kita senangi. Saya jadi kelepasan curhat, betapa depresinya saya mendalami pendidikan akuntansi yang jadi calon gelar saya.

“Since highschool, my accounting score is bad! Really bad, if english, math, even my science score can reach 7 for minimum grade, than my economic and accounting only 4. Well sometimes it 5, but really, I don’t know why I choose accounting as my department. It is frustrating to struggle with something you don’t think you capable of.”

“But you do like it, rite?”

“Nah, I don’t think so, I am a super ego person who won’t let something turn me down. And something I think I won’t capable, is something I hate. Guess I hate to see myself loose.”

“Lol, but you let it come to you, and.. say, it has been a year you school in accounting program. And, you not surrending.”

Tapi itu bukan karena saya mauuuuu!! Caldie bilang, menurutnya, saya berpikir bahwa saya mampu mengatasai ketidak mampuan saya dan hmm.. apa ya, berusaha mengalahkan ketakutan saya akan ketidak mampuan saya dalam mempelajari akuntansi. Bukan suka, tapi, butuh, butuh pengakuan bahwa saya bisa mengalahkan pikiran saya.

Mungkin benar, haha. Tapi depresi, frustasi dan sangat amat membuat saya malas melihat tumpukan buku seperti Financial Management atau Modern Audtiting yang setebal gajah.

Speaking of “mau” dan “mampu”, saya selalu ingat apa kata ayah saya, kemauan dan kemampuan itu harus bersinergi, ketika orang bilang, ndak berbakat asal berminat aja cukup, maka orang itu salah besar.

Kalo cuma mau, semua orang juga bisa bilang mau, “saya mau ke bulan!” ga usah pake mikir disana mau ngapain pun, kata2 mau itu gampaaaaaang banget keluarnya.

Begitu juga dengan orang yang mampu tanpa punya kemauan, katakan situ punya bakat, mampu membuat foto yang bagus, atau, cantik dan berbakat jadi model, tapi anda ndak mau, percuma kan? Bakat yang anda ga mau salurkan ya ndak bakalan diliat orang, dan kalaupun anda menyalah gunakan bakat itu, misalnya, anda tau anda cantik lalu jadi model dengan tarif 100juta per frame, siapa yang mau nyewa? Toh banyak orang yang lebih cantik atau lebih reachable daripada anda, kan.

Ada yang lucu ketika sebuah team melakukan team-job dimana mereka sadar, hanya sebagian kecil dari mereka yang MAU melakukannya, dan, ironisnya, sebagian besar yang lain lah yang harus dan memang MAMPU melakukannya. Salah satu kasus nyata yang saya alami,

Gala dinner bersama alumni. Easy kan, cuma datang, makan, spending 1-2 hours for chitchat trus udah de, pulang, kelar, finish. Apalagi beberapa bulan sebelum hari H, semua nya sangat bersemangat mau berkontribusi. Tapi semakin berjalan waktu semangat itu luruh, bahkan menentuka tema dan tempat makannya saja pada blank. Masalahnya, dari 40 orang lebih susunan panitia, kurang lebih 70% nya malas untuk menghadiri acara tersebut, ada yang malas lah, mau tidur lah, ada acara di luar lah, malas lah, diajak pacaran lah, malas lah, mendadak sakit lah, malaslah.. Eh, kok banyak yang malas ya. Kalo ditilik, apa mereka mampu? Ya mampu, wong kebanyakan kosnya ga sampe 1 km dr kampus, tapi mau? Hmm.. Susah kan. Bisa dipastikan acara tersebut, tidak sesuai dengan harapan *kalau ga mau di bilang gagal*. Setelah itu, 30% sisanya yang mau.. dan sebetulnya tidak mampu menghandle keseluruhan acara *karena otomatis pekerjaan 70% sisanya di timpakan pada mereka*Β  marah. Well, mungkin ga marah, tapi menyindir.

“gw kira kita smua punya euforia solidaritas dan kekeluargaan karena kita minoritas. Tapi ternyata euforia ya cuma euforia, semua akhirnya lepas tangan dan ga mau tau tentang urusan ini, kita tau kok beberapa, atau sebagian besar dari kalian malas melakukan ini, tapi dimana semangat beberapa bulan lalu ketika kita merencanakan ini? Kenapa ilang semua?”

Lha saya yang kebetulan orang yang ga mau dan kepaksa mampu, *itu loh, yang ikutan jadi seksi repot tapi di hari H ga dateng* ya cuma senyum2 aja, well, siapa yang berharap kudu siap sakit kan?

“Ga mampu ya ga mampu aja, ga usah ngeblame yang lain”

Lhaaa.. kok tiba2 si Te nyaut, ooh saya ga sadar nyeplos2 sama si Te, haha. Kata Te, 30% dari kami belum mampu, bukan menghandle acara, tapi memotivasi yang lain. Dan kita dengan pedenya ngambil semua tanggung jawab tanpa memaksa mereka ikut bertanggung jawab dengan acara yang kita ingin bangun BERSAMA.

jadi gimana yang lain mau sempat merasanya sense of togetherness kalo kita ngebiarin mereka nggak bertanggung jawab dengan euforia nya? lagian menurut saya, ketika kita tau dan sadar bahwa orang orang yang kita ajak kerja team tidak memiliki motivasi dan kemauan yang kuat, rencana jangka pendek kita bukanlah bagaimana memaksakan rencana tersebut tetap berjalan dengan menimpakan semua pekerjaan yang tidak diinginkan oleh anggota team kepada anggota yang lain, tapi bagaimana kita memaksakan keinginan anggota team lain untuk mencintai pekerjaannya.

Yang saya tahu, dan yang saya pahami dari apa yang saya pelajari dari ayah saya, ketika kita memilih untuk bekerja pada suatu team *dengan asumsi berarti kita menyadari kita MAMPU berada dalam pekerjaan itu*, kita mau tidak mau harus MAMPU MEMAUI pekerjaan tersebut.

Lha kalo dari awal sadar ngga mampu dan maksa mau melakukan pekerjaan itu, ya namanya nggak tau diri. Dalam hidup, keinginan besar saja tidak akan cukup kalo kita belum mampu mengerjakannya.

eniwe.. kok jadi panjang ya ketikannya? *gali lobang*

3 thoughts on “Yang mau dan mampu

  1. berasa baca rich dad poor dad versi terjemahan:D
    btw, iya. saya pemalas. sebenernya banyak talenta yg saya miliki. entah apapun alasannya, kalu saya malas ya malas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s