Yang Perfek

“Why are you giving hard time to yourself?” Seseorang bertanya ketika saya sok sibuk dan sok capek melakukan sesuatu. “You always planning everything. You always be in time, you always obey your own schedule. Are you mad or just perfectionist?”

Hihi, saya langsung ngakak guling guling. “Hon, I am not mad nor perfectionist, I just want to take control. Control about myself.” Buat saya, memiliki standard ganda pada semua pandangan hidup adalah bentuk betapa saya peduli dan sayang pada diri saya sendiri. Toh, saya bikin jadwal ngga se strict jadwal militer, bukan jadwal yang kaku dan berat.

“But, you control just like you have no time to live. You manage yourself just like you will die in hours. Hon, you are still young, you need to have time to have fun, to enjoying yourself.”

“Honey, exactly because I am young and I have so much time to life, I tried to managed it well hon. I’m not planning to work all day or to busy all night. I managed to have fun too.”

Saya makin ngakak sama orang ini. Justru karena saya ini masih muda loh, makanya saya berusaha membuat semuanya terkontrol, biar kita bisa mengukur kemampuan kita. Kalau kemarin dengan jadwal yang sama saya bisa melakukan segini dan hari ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, maka porsi jadwal ini bisa saya tambahkan untuk besok dan seterusnya, sehingga saya bisa menguasai sesuatu dengan mudah, ya to?

Buat saya, orang orang yang mau peduli dengan apa yang “benar benar” dia mau, peduli dengan apa yang akan dia lakukan hari ini, besok dan seterusnya, adalah orang yang sayang sama dirinya sendiri. Kalau orang membiasakan diri dengan “let it flow” atau “yah liat aja dapetnya apa”, dia akan terbiasa malas dan nggak memberikan yang terbaik dari dirinya. Salah? Ya nggak, wong mungkin emang ada orang yang bangga karena mampu bermalas malasan, bukan hak saya toh untuk mengatur kehidupan diaπŸ™‚

Saya hanya orang yang gak mau buang buang waktu untuk hal yang ga jelas. Kalau waktu tersebut bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain yang lebih jelas. Saya mau menerima kesempatan baru dan belajar tentang hal baru, asal jelas arahnya kemana. Orang kayak saya, dalam waktu dekat pasti belum mau belajar bahasa Rusia. Bukan berarti belajar bahasa Rusia itu ga bagus, cuma, pasti belum berguna untuk saya dalam waktu dekat. Daripada saya buang waktu berbulan untuk kursus bahasa Rusia, saya bisa menggunakan waktu saya untuk kursus bahasa yang lain. Begitu maksud saya.

Sama kayak cari pacar, ndak mungkin saya make prinsip “yang penting ada yang mau” buat pacaran. Kalo ga ada yang mau ya sudah, gak perlu di paksain juga toh? Alasan “nanti jadi perawan tua” itu gak masuk akal buat saya sekarang ini. Umur 20 aja belonπŸ˜† Kalau ga dapet yang lokal, yang interlokal juga udah ada yang ngantriin saya kok *pede*

Makanya, ketika ada orang yang bilang “kan semua hal ga mesti harus seperti yang kamu mau chor, let it flow aja, kayak aku nih, aku ini nerima aja dapetnya apa, ga jelek juga kok efeknya,” saya akan ngakak dan bilang “ya itu kan kamu, saya kan punya prinsip, nda perlu merendahkan derajat saya ke level kamu dan menyamakan saya dengan kamu domz ah” *ditabok*

One thought on “Yang Perfek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s