Yang Undead part 5 – Payung

Malam itu hujan. Hanya itu yang kuingat. Kepalaku sakit, seperti dipukuli palu. Aku mengerjap kan mata berusaha mengembalikan kesadaranku. Tiba tiba aku merasa nyeri di lengan atasku. Aku berusaha menggerakkannya tapi seperti tertahan. Lalu, kurasakan ada belaian rambut di lenganku itu.

“Pagi..” ada sebuah bisikan lembut di bawah leherku. Dengusan nafas berat menampar kesadaranku. Aku segera melompat dan terjatuh dari kasur. “HEI!” dia menahan jemariku, “kamu nggak papa? ngapain pake kaget gitu sih?”

Aku menatap nya, ada seorang.. perem.. eh.. laki laki? ehh…??? Aku menatap bingung, ada seorang berambut panjang, wajahnya cantik tapi.. dadanya rata? Tapi, suaranya halus sekali?

“apa pun yang kamu pikirkan, aku bukan keduanya!” dia tersenyum, bangkit lalu memasang kaos putih sedikit longgar. Aku memandanginya lama, punggungnya cantik seakali, tegak, lurus, lekukan pinggangnya membuatku menahan nafas seakan Tuhan menciptakan lekukan pinggang paling sempurna sepanjang sejarah manusia. Aku ingin mengabadikannya.

“Gak baik bengong, kesambet entar. hihi”

“Kamu siapa?”

“Hihi, secepat itu ya kamu melupakanku. Sana mandi dulu, segarkan kepalamu dari efek aspirin yang kamu tenggak berlebihan semalam.”

Aku menurut, mengambil handuk dan mandi. Dari dalam kamar mandi, aku mendengar dia bersenandung sambil menggoreng sesuatu. Lagu itu.. rasanya aku pernah mendengaranya. Tapi entah dimana.

“I never know
The umbrella that was too small for the both of us
The umbrella that shielded us from the cold world
Now seems much to big and awkward”

“Omelet omelet, kesukaanmu kan?” Sambutnya ketika aku keluar dari kamar mandi.

“Kamu..” aku ingin bertanya, tapi dia memotong “aku kan menjawab ketika kamu makan”

Lagi lagi aku menurut. Kekuatan apa yang dia miliki hingga aku menurut? atau efek aspirin yang membuatku malas membantahnya?

“Aku tahu kamu bingung, aku ini ya kamu. Aku, kamu, hime, hanya bagian dari pemilik tubuh ini.”

“Huh, ku pikir anak ini hanya punya 2 kepribadian”

“Well, aku menjawab 2 pertanyaanmu kan. Siapa aku dan kenapa aku bisa masuk ke sini” katanya tersenyum.

“Aku cuma ingin memberikan payung ini.” lanjutnya sambil menunjuk sebuah payung berukuran sedang berwarna hitam di pojok pintu. “Tapi semalam kamu tidur karena aspirin. Ya sudah berhubung tanggung, sekalian saja aku numpang tidur di sebelahmu. Karena tugasku selesai, aku mau pergi setelah ini.”

“Tugas? Tugas dari?”

“Ah, anggap saja dari langit, hihi. Tadi malam sudah mulai turun hujan” lalu tiba tiba dia menhilang. Aku berdiri mendekati payung itu lalu membukanya. Sontak lagu tadi terngiang di kepalaku, dalam versi yang lebih lengkap.

“The sound of the clock in an empty room
The sound of the rain hitting the roof and my lips
The ring inside the coat I haven’t worn in a while
The gathering memory
The city I haven’t seen in a few days
The gathered rain are like little mirrors
Within them I struggle because it hurts
Without you I’m like a chair with a short leg

I never know
The umbrella that was too small for the both of us
The umbrella that shielded us from the cold world
Now seems much to big and awkward.

Now all thats next to me is the rain and wind
not a person that will hold my umbrella for a while
and I cry

You are the umbrella above my head
The cold rain falling above my shoulders in night
You next to me has become a habit
I cant be without you
alone in the rain

Because you are not next to me
I waited outside with an umbrella
outside your house
I cry

The ground has gathered the tears of the sky
I can see the moon behind the star blocking clouds
The sound of lonely shoes echo down the alley
I turn around
Its just heart wrenching night
A shadow that looks just like me
The us that couldn’t see us
Are we two now?
The answer is lonely
The picture in my mind and my response is vague

The umbrella that was too big in my eyes
The umbrella I close facing the world that made me cry
The umbrella that I opened with the promise of forever
Under the now ripped umbrella are two hearts
I guess even though I turn you wont be there
I put my two hands deep inside my pockets
Even though I walk carefree
My two cheeks will easily become wet

Suddenly the rain has gathered at my feet
The tears that I held in are welling around my eyes
I cry

You’re the umbrella above my head
You are my shadow, I am your shade
You’re the umbrella above my head
I opened the door of my heart
you’re the umbrella above my head
You are my shadow, I am your shade
You’re the umbrella above my head”

Ah.. mungkin sudah saatnya, aku membutuhkan payung yang lain..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s