Yang bertanya atau mati

Bukunya sudah lama punya, tapi keberanian buat ngereview nya baru ada sekarang. Banyak blogger jadi penulis, banyak penulis juga jadi blogger, maka menemukan buku dengan sepotong sepotong cerita ibarat postingan ya jadi ndak aneh sekarang. Tapi yang susah, nyari tulisan yang developing sekaligus menghibur, ndak asal ngebanyol sampe garing. Kadang, tertawa sambil berpikir sekarang ini susah.

Isman H. Suryaman bukan orang terkenal di mata saya, cuma saya baru tau kalo dia sudah menelurkan beberapa buku, dan genrenya komedi. Sudah dua bukunya yang saya beli, tapi tetep bertanya atau mati selalu nyantol dan ga bikin bosen untuk dibaca.

Apa itu bertanya atau mati? Cuma buku tentang pertanyaan hal hal remeh, bab nya ada 8. Kerikil emas kehidupan, bayi dan kasih sayang, pengkondisian sosial, olahraga dan kesehatan, tali yang tak kasat mata, dibalik kekuatan angka dan ngalor ngidul. Sepintas daftar isinya lebih mirip buku “teka teki lucu vol 1” daripada buku ber genre.. eh, ini buku ber genre apa, ndak tau, tapi gramedia jogja narohnya di sub “self developing”.

Lucu? Sangat, tapi juga serius, dan ndak garing. Misalnya, ada sebuah artikel (atau bab) berjudul “Dicari: Orangtua yang bicara seks”. Saru dong? Ndak, tapi di bab ini Isman menjelaskan bagaimana penempatan analogi yang salah ketika seorang anak bertanya “mama, seks itu apa sih?”

Bahkan ndak hanya hal remeh yang ditanyakan dalam buku ini, ada hal hal yang cukup berat, misalnya HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) menyindir secara sarkastik mengapa hak cipta, hak paten, merk dagang dah rahasia perusahaan kurang membumi di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga tidak aneh paten teknologi tempe keburu diambil Jepang, Batik dipegang malaysia dan “Java” diambil sebagai nama software Sun Microsystem. Sayangnya, pengurusan HAKI dinilai lamban, butuh dua sampai empat minggu untuk mengecek pendaftaran HAKI serupa dan butuh setahun untuk kelengkapan administrasi. (Dirangkum dari bab “Pojok Ilmiah, Topik kali ini : Penemuan Ilmiah dan HAKI”)

Komedi Sarkastik. Mungkin inilah genre yang seharusnya dilabeli di belakang buku ini. Semua hal kurang lebih sudah ditanyakan dalam buku ini, mengapa pernikahan menjadi beban? Mengapa orang yang memelihara binata berharap bisa bicara dengan peliharaannya? Mengapa hidup harus jadi marathon dengan pertanyaan “kapan nyusul?”?

Selain isi yang unik, halaman terakhir buku ini bukan lah “tentang penulis” seperti buku biasa, tapi sebuah halaman kosong bergaris dengan judul “tentang pembaca”. Mengapa? Mungkin inilah bentuk penghargaan pada pembaca yang selama ini sudah dilupakan oleh banyak pengarang dan penerbit.

4 thoughts on “Yang bertanya atau mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s