Yang Paten

Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang Paten, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. (UU 14 tahun 2001, ps. 1, ay. 1) (Dari wikipedia)

Setelah reog, angklung, rendang, lagu rasa sayange, batik, wayang kulit, tempe, tari pendet, bahkan pasak bumi dipatenkan oleh negara lain, apakah kita cukup berjuang dengan memaki maki negara itu dan tidak melakukan apa apa?

Sadarkah kita, kita hanya dibesarkan dengan ajaran “Indonesia negeri kaya” tanpa mepelajari apa saja kekayaan kita. Kita, sama sekali ndak berusaha menjaga, merawat maupun mengembangkan kebudayaan kita, tapi selalu mencak mencak kalo orang lain mengklaim kebudayaan kita. Seperti sebuah tulisan Fa dulu :

Why do we mad to lose something we don’t even care about? Why do we mad to lose something that we never protect? Bukannya kasus tempe di-klaim Jepang udah satu dekade lewat? Dan toh kita sendiri nggak belajar dari kejadian itu untuk bener-bener melindungi apa yang kita punya.

Then, why mad?

Dikutip dari (Stolen, But Do We Really Care?)

Sayangnya, Malaysia tau mereka kekurangan kesenian, sedang untuk mencapai target 23 juta turis asing di negara mereka, mereka butuh daya tarik. Sedang kita, yang kaya akan budaya, hanya menargetkan 6 juta turis saja. Lalu kita yang orang indonesia sendiri, lebih bangga jalan jalan ke luar negeri, apalagi denga promo price maskapai penerbangan, atau gratisan ke hongkong dan thailand.

Mengutip kata teman saya Zen :

Tapi mau gimana lagi, jika ongkos dari Jakarta ke Sumba bisa lebih mahal daripada Jakarta-Hanoi apalagi Jakarta-Singapura? Bisa sedikit dimaklumi pula jika lbh banyak dari kita yg memilih pakansi ke Singapura atau Kualalumpur tinimbang ke Waikabubak, Labuhan Bajo atawa Bajawa atau Halmahera atawa Raja Ampat.

Saya bisa sangat paham kenapa jumlah turis2 asing sangat sedikit. Turis2 itu rata2 menginginkan kemudahan dalam banyak hal. Dan itu, kebanyakan, hanya bisa didapatkan dari spot2 yang sudah populer, semisal Bali, Jogja, Toba, dll.
Ada banyak tempat2 hebat dan pantai-pantai indah di sepanjang perairan Sumba, kepungan pulau-pulau di Flores dan Maluku, atau tempat surfing di Rote Ndao. Tapi hanya turis2 dg mental backpacker, peziarah dan para petualang saja yang mau “blusukan” ke sana.
Infrastruktur di luar2 spot2 populer itu yg njengking bgt. Penerbangan bisa seminggu cuma dua kali, misalnya. Belum lagi soal akses jalan dan penginapan yang representatif. Akses jalan ke Lamalera itu payah banget, ga ada angkutan umum yg memadai, mau ga mau kudu sewa mobil dg budget yang lebih tinggi.
Pariwisata itu bth infrastruktur.

Nah, setelah kita sadar bahwa kita kehilangan satu demi satu ciri kita sendiri, mengapa kita ndak segera bertindak dengan mematenkan semua kebudayaan kita yang maha banyak dan super lengkap bahkan sampe kita sendiri nggak hafal? Karena malas? Karena kinerja paten sangat bertele tele dan lambat? Ya sudah, kalo memang kita nggak peduli sama kebudayaan kita sendiri. Kenapa kita harus marah marah? Kenapa kita harus panik kehilangan sesuatu yang kita sendiri nggak tau?

Bahkan, tidak mengherankan buat saya, jika kita nggak segera bertindak, kita akan membayar pada negara lain untuk menampilkan atau memakan makanan tradisional kitaπŸ™‚

3 thoughts on “Yang Paten

  1. saya sangat mendukung usaha filing dan beresin database budaya Indonesia dulu, kita sumbangin deh ke departemen kebudayaan dan pariwisata kita. soalnya database di pemerintah kita aja belum beres, jadi kalo budaya kita diklaim orang lain, kita susah punya bukti. coba bayangin yang kasus lagu rasa sayange? pemerintah sampe kesusahan nyari bukti kalo itu lagu maluku.

  2. Memangnya, seberapa jauh kita mengenal budaya kita sendiri? Saya tidak yakin perihal budaya turut diajarkan di sekolah. Gak heran kalau kita memandang agak rendah budaya sendiri. Menyedihkan. Kalau ada yang diklaim, baru protes.
    Berapa banyak sih yang masih suka dengerin keroncong?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s