Yang Berubah

Bermain di social network ibarat menyapu memori. Kadang kita ga tau kita bisa menemukan apa. Ada banyak cerita hal hal mengejutkan yang banyak orang temui di social networking. Saya, hanya bagian dari cerita klise, melihat perubahan.

Ibarat bunglon mencari warna, ketika abege saya juga mencari jati diri dengan mengenal orang orang sisi kiri, kanan, atas, bawah, tenggara, barat daya, barat laut, dan timur laut. Eh, sekarang juga masih abege ding ya πŸ˜€Β  tapi seperti para abege lainnya, keseringan ada barang baru, barang lama saya lupakan. Tapi di sini, di dalam social networking world, saya bisa mengais memorti saya, melihat.. perubahan..

Mungkin mereka yang berubah, mungkin saya yang berubah. Tapi pada akhirnya, saya menyadari, kami merenggang…

Saya teringat, dulu untuk bergabung pada sebuah kelompok, saya mati matian sedikit berubah untuk menyesuaikan diri. Tapi setelah sekian lama bersama, saya lompat ke kelompok lain dan berubah lagi. Bunglon, tidak punya pendirian atau memang mencari kesempatan memperluas koneksi. Kata teman saya, perubahan adalah proses pendewasaan. Dan setiap manusia pasti akan mengalam fase fasenya tersendiri, fase religius, fase atheis, fase anti cinta, fase pemuja kahlil gilbran, fase mendewasakan atau fase kekanakan.

Tapi setelah saya lelah melompat, saya tersadar, tak ada rumah di belakang sana, tak ada tempat pulang, tak ada yang menunggu saya di sana. Siapa saya? Artis? Kok berharap banyak di puja. Hanya saja, ketika saya ingin kembali bersama mereka, rasa nyaman yang dulunya sudah saya bangun hilang.

Saya ketar ketir berubah, mencari rasa nyaman yang lain. Tapi saya lupa, semua hal akan berubah secara konstan. Mungkin saya berubah. Mungkin mereka yang berubah. Sedang saya bingung akan berubah ke arah mana, mereka telah meninggalkan saya. Mungkin mereka yang datang dan pergi, atau mungkin saya yang datang dan pergi begitu saja.

“jadilah dirimu sendiri!”

ini bukan masalah apakah saya akan menjadi diri saya sendiri atau bukan. Ini adalah masalah saya.. saya.. saya kesepian. Dan saya tahu, butuh kerja keras untuk mengusir sepi, bukan hanya dengan menjadi diri saya sendiri, tapi juga menyesuaikan bersama orang lain. Karena, hidup tidak hanya tentang diri kita sendiri kan? Karena ketika kita bertengkar dengan seseorang kita ga pernah mendengar orang lain berteriak “kamu si ga jadi dirimu sendiri!” tapi seringkali mendengar “kamu si ga ngertiin aku!”

Lalu. kemana saya akan berubah?