Yang Barongsai

Dua tahun lalu, dalam Episentrum Art Summit 2007, Komunitas Tikar Pandan beserta seluruh konstituen yang tergabung dalam Liga Kebudayaan, yakni Sekolah Menulis Dokarim, Metamorfosa Institute, Jurnal Kebudayaan Gelombang Baru, Toko Buku Dokarim, Episentrum Ulee Kareng, Aneuk Mulieng Publishing, TV Eng Ong dan United Nothing for Dokarim Committe (UN-DoC) sebagai pihak-pihak yang selama ini berkonsentrasi dalam kerja membangun gerakan kebudayaan di Aceh menyelenggarakan pekan kebudayaan rakyat.

Episentrum Art Summit 2007 ini akan mengetengahkan Dialog Kebudayaan pada tanggal 12 Desember 2007 yang melibatkan Pemda NAD, Instansi Terkait, Pelaku Seni, NGO, Komunitas Tiongoha Aceh, IPONAD (Ikatan Pedagang Obat Nanggroe Aceh Darussalam) dan Perwakilan Kabupaten/Kota NAD.

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=EPISENTRUM+ART+SUMMIT+2007+DIGELAR+%281%29&dn=20071217103746

Lalu apa yang terjadi dua tahun kemudian?

Sejumlah warga Aceh etnis Tionghoa beragama Buddha, kecewa tak bisa menampilkan atraksi budaya, Barongsai saat menggelar doa bersama dalam memperingati lima tahun tsunami di Banda Aceh, Minggu (20/12). Atraksi tersebut masih dilarang oleh Departemen Agama di Aceh.

http://tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/12/20/brk,20091220-214684,id.html

Jika kondisi dianggap tidak memungkinkan, mengapa dua tahun lalu barongsai dibiarkan? Padahal sejak dulu tidak pernah ada konflik agama, berarti alasan memancing kerusuhan agama justru gak masuk akal, bukan? Lalu, bukankah dengan melarang barongsai justru akan memicu kerusuhan agama, karena setahu saya barongsai adalah kebudayaan, bukan ritual keagamaan, pun apabila ritual keagamaan, agama Buddha sudah dilegalkan di Indonesia. Dan seingetan saya Aceh belum merdeka, pun tidak memiliki keistimewaan sebagai provinsi Islam. Semua penganut agama lain masih berhak tinggal di sana kan?

Lalu saya jadi penasaran, apakah orang orang yang kerja di Departemen Agama memang khusus bagi orang Islam saja? Mayoritas tidak berarti absolut. Hukum yang ada di Indonesia adil, bukan hukum rimba, bukan siapa yang kuat itulah yang menang. Apa tidak malu membawa bawa nama Islam untuk intimidasi pada agama lain? Malu dong, kadang, intelejensia sama pentingnya dengan moral. Beragama tapi goblog bisa jadi seperti penghuni Departemen Agama, MUI, FPI, FBR dan semua komunitas barbarian. Ngga tau apa apa main larang main haram. Dasar Gila.

Advertisements

Yang Doubt

There’s a game going around Japan called ‘Rabbit Doubt’. The premise of the game is that all of the players are rabbits in a colony, and one amongst them is randomly chosen to be a wolf that infiltrated the group of rabbits. Every round, the wolf kills off a rabbit, and every round, the group tries to figure out which of the rabbits is actually a wolf in disguise. Sometimes the kids who play this game decide to meet up in person, and Yuu, Mitsuki, Rei, Hajime, Eiji, and Haruka have done just that. Unfortunately, one of them has decided to take on the mantle of the wolf and has already killed once. Who is the wolf, and can they be stopped before everyone meets a very unpleasant end? — (Onemanga Review)

atau jika dalam bahasa indonesia :

Dalam game Rabbit Doubt yang sedang trend di Jepang, para pemain menjadi sekelompok kelinci dan satu di antara mereka akan dipilih sebagai serigala untuk menyusup dan membunuh para kelinci satu per satu sampai dia tertangkap. Namun game ini berubah jadi mimpi buruk ketika lima pemainnya, Yu, Eiji, Haruka, Rei, dan Hajime, memutuskan untuk bertemu dan terseret dalam permainan mematikan. Bisakah mereka mengungkap identitas serigala sesungguhnya sebelum semuanya terlambat? — (Level Comics Sinopsis)

Doubt adalah miniseri yang hanya ber volume 4 saja dan sudah diterbitkan secara legal di Indonesia di bawah naungan penerbit Level. Bercerita tentang permainan Rabbit Doubt. Rabbit Doubt adalah permainan dimana ada 1 serigala yang di susupkan, pemain harus bisa menebak siapa identitas serigala itu sebelum serigala membunuh mereka semua.

Saya sudah membaca nomer 1 nya, dan tidak tahan karena penasaran dengan ceritanya. Sebetulnya mencari spoilernya gampang, bukalah wikipedia :mrgreen: tapi walaupun sudah tau siapa serigala sesungguhnya, saya masih bisa menikmati alur cerita ini. Setiap chapter, saya dibuat merinding dengan kesadisan dan manipulasi mental di dalam komik ini. Bagi yang sudah terbiasa menonton thriller barat, sejak awal manga ini pasti mudah menebak siapa serigalanya.

Doubt sangat cocok bagi anda penggemar Koroshiya Ichi, atau Saw yang penuh darah. Asyiknya bagi yang belum nyari spoilernya, setiap chapter kita bakalan mudah berganti ganti pemikiran siapa serigala itu, karena serigala nya cukup licik sehingga semua orang bisa menjadi serigala.

Mumpung cuma 4 volume (20 chapter) saja, manga ini asyik dinikmati. Jangan lupa beli yang originalnya ya *tapi kalo saya sih baca online di onemanga soalnya penasaran mampus, hihihi* Endingnya tidak terduga, walau terduga, kikiki.. Ga tahan pengen spoiler, tapi tapi tapi, belum tentu semua orang masih bisa menikmati spoiler seperti saya, hihihi.. Selamat Membaca Doubt :mrgreen:

Yang Bumbu Desa

Ibu saya ulang tahun, karena jarang sekali nraktir anak anaknya (karena yang biasa nraktir si bos besar, alias babeh) ditambah sebagai orang berkasta tertinggi di dalam hirearki rumah kami, ibu berinisiatif mentraktir makan, pilihannya dua, Ayam goreng Tojoyo 3 yang terkenal selalu ramai, atau Bumbu Desa. Berhubung Jalan Solo macet ga karuan dan parkiran di dekat Tojoyo 3 penuh, akhirnya kami banting stir ke Bumbu Desa.

Malam itu bumbu desa penuh, ntah memang selalu ramai atau cuma malam itu saja. Kami tidak disambut, menyebalkan, tapi mungkin mereka pada sibuk. Karena bingung mau duduk di mana dan menuhin jalan, seorang staff mendekati kami dan bertanya apa kami sudah memesan tempat? Harusnya sih mereka cukup sadar bahwa orang yang bingung di tengah restoran ya pasti belum memesan tempat.

Dia memberi tahukan bahwa kami duduk di meja 20, dan kami dipersilahkan memesan makanan. Saya dan si adek si belum pernah ke Bumbu Desa, jadi kurang tahu sistem nya gimana. Ternyata ada satu meja display makanan yang siap goreng, kita tinggal tunjuk mau ambil apa yang mana. Nanti akan di bantu oleh 2orang, yang satu mencatat pesanan kita, yang satu mengambil pesanan kita untuk di goreng.

Tapi ada juga beberapa menu yang ga butuh di hangatkan, misalnya sambel terong, ayam kremes, sayur asem, karedok, etc. Saya memesan ayam kremes dan sayur asem, adek memesan ayam goreng bumbu desa, dan ibu ikan patin goreng ples karedok ples terong sambal ples tahu tempe goreng. Tidak apa apa, yang ulang tahun berhak makan banyak.

Kata ibu saya ikan patinnya enak, saya ndak mencoba, jadi kurang tahu. Ini yang di sayangkan dari menu yang tidak di panaskan, ayam goreng kremesnya ngga enak, padahal kremesannya cukup lezat. Ga enak karena ayamnya jadi alot, berminyak dan dingin. Sayur asemnya pun lebih pantas di bilang sayur manis, dan isinya terlalu lembek (kacang, weluh, jagung dan lainnya). Dan kata ibu saya, terong sambalnya basi.

Sambelnya (sambel bawang) cukup pedas, tahunya, walaupun ngga garing tapi cukup asin dan ngga asem. Ples bisa nambah sambel kecap (ngga ada di display). Lalapannya boleh ambil sendiri, tapi cuma selada, timun dan daun kemangi. Padahal lalapan tanpa kubis itu menurut saya kurang afdol.

Minumannya ada berbagai macam pilihan, yang menarik disana juga ada juice therapy (jus buah campuran dan dihidangkan tidak dingin) Saya memesan juice strawberry, timun dan semangka. Tapi rasa strawberrynya ngga ada. Adik saya memesan es klamud leci yang rasanya lucu. Sedang ibu saya memesan es kebut, hmm.. selasih, jeli dan.. ntah apa saja, tapi yang jelas enak. Lalu saya menambah es teh manis, tapi lebih pantas di bilang es gula pake teh karena kemanisan.

Sama halnya seperti warung sunda, kita diberikan teh tawar hangat free. Cocok kalo ngga sengaja kena cabe rawit dan bikin bibir perih seperti yang saya alami.

Jika menurut iklan harga makanan bumbu desa adalah harga orang desa. tolong jangan bayangkan harga yang murah. Mungkin maksudnya harga orang desa adalah bagi para mandor tanah atau orang gedong yang tinggal di desa. Karena harganya cukup mahal. Nasi putih nya 4rb, ayamnya 11rb, tahu goreng 4rb (per porsi, dan satu porsi itu satu tahu yang di belah dua) dan tempe gorengnya 3rb (per porsi, dan seporsi 1) sedang minumannya rata rata 15 ribu (tapi es klamud leci “cuma” 11 rb dan es teh manisnya 4 rb) PLES, harga diatas BELUM termasuk PPN 10%

View bumbu desa sangat cantik. Saat masuk ada semacam band yang memainkan lagu jazz.. atau pop oldies? lupa saya, tapi cukup merdu. Pelayannya banyak, sehingga tidak kesulitan memanggil pelayan dan masakan diantar relatif cepat.

Ada yang menarik hari ini, dua orang tamu berulang tahun dan serombongan pelayan (bukan band yang ada di sana) membawa semacam gendang, sendok, lalu bernyanyi nyanyi selamat ulang tahun pada mereka. Ntah harus pesan dulu atau tidak, tadinya saya mau manggil mereka karena si Ibu juga ulang tahun, tapi saya urungkan karena kalah ramai peserta yang ulang tahun ketimbang tamu lainnya. Masak ya cuma bertiga, ga seru.

Overall.. saya ga mau kesini kalo ndak dibayarin, dan kalo kesini lagi, tolong ingatkan saya untuk jangan memesan ayam kremes dingin lagi.

Yang Sang Pemimpi

Hore saya sudah nonton!! Pemutaran pertama hari pertama Sang Pemimpi main di Jogja.

Film di buka dengan sebuah scene sunyi, seorang bapak (Mathias Muchus) menaiki sepeda onthel tuanya. Lalu disambung dengan narasi (yang menurut saya) agak lebay dari Ikal (Lukman Sardi). Film ini menceritakan, bagaimana kehidupan Ikal muda, awal mimpinya dan juga perjalanan nya menggapai mimpi itu.

Dimulai dari kisah SMP Ikal, yang setelah kehilangan sahabat nya, Lintang, malah bertemu dengan sahabat sekaligus saudara baru bernama Arai. Arai yang kehilangan orang tuanya menunggu di suatu pedalaman untuk dijemput Ikal dan Ayahnya. Saat dimana Ikal seharusnya menghibur Arai, Arai malah menghibur Ikal dengan keluguannya. Disanalah dia sadar, Arai bukan lah pria biasa.

Arai adalah pengaji terbaik di surau, tapi Arai jugalah yang sering mengajak Ikal membolos untuk menonton TV di kelurahan (eh, bener ga?) Disanalah, mereka bertemu sahabat baru lagi, Jimbron, sang obsesif kuda. Yang juga mengajarkan kita indahnya toleransi beragama.

Sepanjang kisah SMP, cerita berkutat pada karakter 3 orang itu. Arai yang mengejutkan, dan Jimbron yang setia pada impian kuda Australianya. Selulus SMP, mereka pindah ke Manggar, karena di sana lah SMA Negri pertama se Belitung.

“Jelajahi kemegahan Eropa hingga Afrika yang eksotik! Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne.” Julian Balia (Nugie), seorang guru di SMA itu memberi mereka semangat baru, mimpi. Julian Balia selalu mengakhiri pelajaran mereka dengan meneriakkan kata kata yang menginspirasi, untuk menjaga anak anak itu bermimpi.

Sorbonne. Ya, PARIS! Kesanalah mimpi mereka harus berlabuh. Arai lalu menyiapkan ide jenius, “Kita lulus dengan nilai sempurna, kita kerja keras, lalu menabung untuk ke Jakarta, kuliah di Universitas Indonesia dan mencari beasiswa ke Paris!” Ah, andai impian memang semudah itu.

Endingnya? Ah, jika anda sudah membaca bukunya, maka alurnya mudah ditebak, hanya saja, realisasinya begitu memukau, walaupun banyak angle kamera yang men zoom wajah, alam lingkungan sekitar belitung yang indah tidak kekurangan porsi. MENYENANGKAN! Film berdurasi 2 jam ini membuat saya cukup puas dengan penceritaan yang kurang lebih sama dengan bukunya.

Banyak adegan menyentuh di sana sini, yang cukup bisa menguras air mata. Mathias Muchus bermain apik sebagai ayah yang dramatis. Sandy Pranatha dan Rendy Ahmad juga bermain menyenangkan sebagai Arai yang penuh ide. Sayang, menurut saya Nugie masih terlalu kaku, hehehe.

Ada satu hal yang mengejutkan di film ini, berhubung saya ngga begitu aware dengan trailer ataupun iklan Mira Lesmana di media, kehadiran Ariel Peterpan a.k.a Nazril Irham membuat saya menjerit.. “alah maaaaaaaaaakkk GANTEEEEEEEEEEEEENGGGGGGGGGG!!!!”

Eh iya loh, saya dulu menganggap Ariel biasa biasa saja, malah ga begitu suka, tapi di film ini, dengan zoom in beberapa kali, akhirnya meleleh juga saya dikursi. Sayang akting Ariel porsinya kurang banyak, semoga jika Edensor difilmkan, ada Ariel lagi di sana 😀

”Eropa boy, eropa!!”

Yang Nasrudin Khoja

Siapa yang tidak tahu Nasrudin Khoja? Jika disuruh jujur, saya juga baru tahu tentang sufi lucu ini kurang lebih agustus lalu, saat dibahas oleh mbak memeth. Nasrudin adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol.

Sewaktu masih sangat muda, Nasrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah. Maka gurunya yang bijak bernubuwat: “Kelak, ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu.”

Seperti yang ditulis kan wiki :

Nasrudin’s actions can be described as illogical yet logical, rational yet irrational, bizarre yet normal, foolish yet sharp, and simple yet profound. What adds even further to his uniqueness is the way he gets across his messages in unconventional yet very effective methods in a profound simplicity.

Kisah tentang Nasrudin Khoja pada awalnya ditemukan dalam beberapa manuskrip pada awal abad ke-15. Cerita pertama ditemukan dalam Ebu’l-Khayr-i Rumis Saltuk-name (1480). Dalam buku tersebut dikatakan bahwa nasrudin merupakan murid sufi dari Seyyid Mahmud Hayrani di Aksehir, barat laut Turki modern.

Di Turki, berdiri patung Nasrudin Khoja bersama keledainya, digambarkan Nasrudin selalu tersenyum. Jika suatu hari nanti saya ke Turki *ce ilah* poto di atas bakal saya ganti poto saya bersama si sufi ini. Hehe..

Ada banyak cerita jenaka dan mendidik jika mau dicari, salah satu favorit saya adalah :
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,

“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”

Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

cerita ini punya versi lain dengan inti yang kurang lebih sama :

Suatu hari Nasrudin jatuh sakit karena terlalu keras bekerja.
Mendengar kabar tersebut, Raja menyempatkan diri menjenguknya ketika
melakukan perjalanan melewati daerah kediaman Nasrudin.

Raja bertanya kenapa Nasrudin harus bekerja sedemikian keras hingga
sakit, Nasrudin menjawab bahwa dia membutuhkan uang agar menjadi
sedikit lebih kaya.

Raja tertawa lalu berkata, “Nasrudin, tak perlu kamu bekerja keras
mencari harta. Lihatlah aku, setelah sangat kaya ternyata hatiku belum
puas juga. Aku rasa uang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan
kebijaksanaan. Karena itulah aku tadi menemui Guru yang tinggal di
kota sebelah untuk belajar tentang kebijaksanaan.”

Sedikit tersinggung, Nasrudin menjawab sambil tersenyum, “Di dunia ini
semua orang memang mencari hal-hal yang tidak ada pada dirinya, wahai
Raja”.

Itulah kebijaksanaan seorang Sufi. Belajar tidak melulu dari kitab suci yang berat dan menghafalkan ayat-ayat. Kebijaksanaan Islam bisa ditemukan di balik makna simbolis kebodohan dan kelucuan Nasruddin.

Nasrudin adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol. Sewaktu masih sangat muda, Nasrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah. Maka gurunya yang bijak bernubuwat: “Kelak, ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu.”

Yang Koin buat Prita

Sudah tahu kah kelanjutan kasus Ibu Prita Mulyasari? Kasus yang sempat memblunder Juli lalu karena putusan bebas Prita dibatalkan karena jaksa ehm, nggak puas dan ingin meneruskannya lagi. 3 Desember lalu, beliau divonis bersalah dan dikenakan denda sebesar 204Juta dan diharuskan melakukan permintaan maaf di media massa.

wah, dua ratus juta tentu bukan angka yang sedikit, maka dari itu beberapa orang berhati besar, membuat sebuah gerakan [lagi] yang bernama Koin Keadilan.

Bukan berarti mendukung Ibu Prita bersalah, tapi tentu saja untuk membantu meringankan ibu yang justru lebih banyak dirugikannya itu. Gerakan ini sudah dimulai di jakarta dan bandung :

  • JAKARTA: Wetiga (Warung Wedangan W-Fi), Jalan Langsat 1/3A, Kramat Pela, Jakarta Selatan. Sore sampai dini hari (Minggu tutup). Peta
  • BANDUNG: Tobucil & klabs,  Jalan Aceh 56 Bandung 40113 t/f. +62 22 4261548. Kontak; Wiku Baskoro – 022-4261548. Jam 9 pagi hingga jam 8 malam.  Peta & panduan arah

Lokasi lainnya juga bisa dilihat di sini. Jogja juga tidak ketinggalan dong, AngkringQ Cafe siap untuk menjadi Dropping Point Koin Keadilan HELP FREE PRITA

Koin dapat dikumpulkan mulai Selasa, 7 Desember 2009 @ AngkringQ Cafe selama jam buka Kafe (10.00 – 23.00 WIB)

Alamat :
AngkringQ Cafe
Jl. Pandega Satya No.10 Jl. Kaliurang Km 5,3 Jogjakarta (gang di Sebelah Dazzle Phone Accesories masuk ke arah timur)

CP :

0817441165 (Fachry)
081804166735 (Nana)
0274-586266 (AngkringQ Cafe)

mengutip apa kata ndorokakung : Hidup adalah pilihan bukan? Tapi pilihan akan menunjukkan siapa sampean sesungguhnya.