Yang Nasrudin Khoja

Siapa yang tidak tahu Nasrudin Khoja? Jika disuruh jujur, saya juga baru tahu tentang sufi lucu ini kurang lebih agustus lalu, saat dibahas oleh mbak memeth. Nasrudin adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol.

Sewaktu masih sangat muda, Nasrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah. Maka gurunya yang bijak bernubuwat: “Kelak, ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu.”

Seperti yang ditulis kan wiki :

Nasrudin’s actions can be described as illogical yet logical, rational yet irrational, bizarre yet normal, foolish yet sharp, and simple yet profound. What adds even further to his uniqueness is the way he gets across his messages in unconventional yet very effective methods in a profound simplicity.

Kisah tentang Nasrudin Khoja pada awalnya ditemukan dalam beberapa manuskrip pada awal abad ke-15. Cerita pertama ditemukan dalam Ebu’l-Khayr-i Rumis Saltuk-name (1480). Dalam buku tersebut dikatakan bahwa nasrudin merupakan murid sufi dari Seyyid Mahmud Hayrani di Aksehir, barat laut Turki modern.

Di Turki, berdiri patung Nasrudin Khoja bersama keledainya, digambarkan Nasrudin selalu tersenyum. Jika suatu hari nanti saya ke Turki *ce ilah* poto di atas bakal saya ganti poto saya bersama si sufi ini. Hehe..

Ada banyak cerita jenaka dan mendidik jika mau dicari, salah satu favorit saya adalah :
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,

“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”

Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

cerita ini punya versi lain dengan inti yang kurang lebih sama :

Suatu hari Nasrudin jatuh sakit karena terlalu keras bekerja.
Mendengar kabar tersebut, Raja menyempatkan diri menjenguknya ketika
melakukan perjalanan melewati daerah kediaman Nasrudin.

Raja bertanya kenapa Nasrudin harus bekerja sedemikian keras hingga
sakit, Nasrudin menjawab bahwa dia membutuhkan uang agar menjadi
sedikit lebih kaya.

Raja tertawa lalu berkata, “Nasrudin, tak perlu kamu bekerja keras
mencari harta. Lihatlah aku, setelah sangat kaya ternyata hatiku belum
puas juga. Aku rasa uang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan
kebijaksanaan. Karena itulah aku tadi menemui Guru yang tinggal di
kota sebelah untuk belajar tentang kebijaksanaan.”

Sedikit tersinggung, Nasrudin menjawab sambil tersenyum, “Di dunia ini
semua orang memang mencari hal-hal yang tidak ada pada dirinya, wahai
Raja”.

Itulah kebijaksanaan seorang Sufi. Belajar tidak melulu dari kitab suci yang berat dan menghafalkan ayat-ayat. Kebijaksanaan Islam bisa ditemukan di balik makna simbolis kebodohan dan kelucuan Nasruddin.

Nasrudin adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol. Sewaktu masih sangat muda, Nasrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah. Maka gurunya yang bijak bernubuwat: “Kelak, ketika engkau sudah dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu.”

5 thoughts on “Yang Nasrudin Khoja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s