Yang Sang Pemimpi

Hore saya sudah nonton!! Pemutaran pertama hari pertama Sang Pemimpi main di Jogja.

Film di buka dengan sebuah scene sunyi, seorang bapak (Mathias Muchus) menaiki sepeda onthel tuanya. Lalu disambung dengan narasi (yang menurut saya) agak lebay dari Ikal (Lukman Sardi). Film ini menceritakan, bagaimana kehidupan Ikal muda, awal mimpinya dan juga perjalanan nya menggapai mimpi itu.

Dimulai dari kisah SMP Ikal, yang setelah kehilangan sahabat nya, Lintang, malah bertemu dengan sahabat sekaligus saudara baru bernama Arai. Arai yang kehilangan orang tuanya menunggu di suatu pedalaman untuk dijemput Ikal dan Ayahnya. Saat dimana Ikal seharusnya menghibur Arai, Arai malah menghibur Ikal dengan keluguannya. Disanalah dia sadar, Arai bukan lah pria biasa.

Arai adalah pengaji terbaik di surau, tapi Arai jugalah yang sering mengajak Ikal membolos untuk menonton TV di kelurahan (eh, bener ga?) Disanalah, mereka bertemu sahabat baru lagi, Jimbron, sang obsesif kuda. Yang juga mengajarkan kita indahnya toleransi beragama.

Sepanjang kisah SMP, cerita berkutat pada karakter 3 orang itu. Arai yang mengejutkan, dan Jimbron yang setia pada impian kuda Australianya. Selulus SMP, mereka pindah ke Manggar, karena di sana lah SMA Negri pertama se Belitung.

“Jelajahi kemegahan Eropa hingga Afrika yang eksotik! Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne.” Julian Balia (Nugie), seorang guru di SMA itu memberi mereka semangat baru, mimpi. Julian Balia selalu mengakhiri pelajaran mereka dengan meneriakkan kata kata yang menginspirasi, untuk menjaga anak anak itu bermimpi.

Sorbonne. Ya, PARIS! Kesanalah mimpi mereka harus berlabuh. Arai lalu menyiapkan ide jenius, “Kita lulus dengan nilai sempurna, kita kerja keras, lalu menabung untuk ke Jakarta, kuliah di Universitas Indonesia dan mencari beasiswa ke Paris!” Ah, andai impian memang semudah itu.

Endingnya? Ah, jika anda sudah membaca bukunya, maka alurnya mudah ditebak, hanya saja, realisasinya begitu memukau, walaupun banyak angle kamera yang men zoom wajah, alam lingkungan sekitar belitung yang indah tidak kekurangan porsi. MENYENANGKAN! Film berdurasi 2 jam ini membuat saya cukup puas dengan penceritaan yang kurang lebih sama dengan bukunya.

Banyak adegan menyentuh di sana sini, yang cukup bisa menguras air mata. Mathias Muchus bermain apik sebagai ayah yang dramatis. Sandy Pranatha dan Rendy Ahmad juga bermain menyenangkan sebagai Arai yang penuh ide. Sayang, menurut saya Nugie masih terlalu kaku, hehehe.

Ada satu hal yang mengejutkan di film ini, berhubung saya ngga begitu aware dengan trailer ataupun iklan Mira Lesmana di media, kehadiran Ariel Peterpan a.k.a Nazril Irham membuat saya menjerit.. “alah maaaaaaaaaakkk GANTEEEEEEEEEEEEENGGGGGGGGGG!!!!”

Eh iya loh, saya dulu menganggap Ariel biasa biasa saja, malah ga begitu suka, tapi di film ini, dengan zoom in beberapa kali, akhirnya meleleh juga saya dikursi. Sayang akting Ariel porsinya kurang banyak, semoga jika Edensor difilmkan, ada Ariel lagi di sanaπŸ˜€

ο»Ώ”Eropa boy, eropa!!”

16 thoughts on “Yang Sang Pemimpi

  1. choro said:

    kehadiran Ariel Peterpan a.k.a Nazril Irham membuat saya menjerit.. β€œalah maaaaaaaaaakkk GANTEEEEEEEEEEEEENGGGGGGGGGG!!!!”

    ohemji… ARIEL ganteng????? O__O *colok mata choro*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s