Yang Bumbu Desa

Ibu saya ulang tahun, karena jarang sekali nraktir anak anaknya (karena yang biasa nraktir si bos besar, alias babeh) ditambah sebagai orang berkasta tertinggi di dalam hirearki rumah kami, ibu berinisiatif mentraktir makan, pilihannya dua, Ayam goreng Tojoyo 3 yang terkenal selalu ramai, atau Bumbu Desa. Berhubung Jalan Solo macet ga karuan dan parkiran di dekat Tojoyo 3 penuh, akhirnya kami banting stir ke Bumbu Desa.

Malam itu bumbu desa penuh, ntah memang selalu ramai atau cuma malam itu saja. Kami tidak disambut, menyebalkan, tapi mungkin mereka pada sibuk. Karena bingung mau duduk di mana dan menuhin jalan, seorang staff mendekati kami dan bertanya apa kami sudah memesan tempat? Harusnya sih mereka cukup sadar bahwa orang yang bingung di tengah restoran ya pasti belum memesan tempat.

Dia memberi tahukan bahwa kami duduk di meja 20, dan kami dipersilahkan memesan makanan. Saya dan si adek si belum pernah ke Bumbu Desa, jadi kurang tahu sistem nya gimana. Ternyata ada satu meja display makanan yang siap goreng, kita tinggal tunjuk mau ambil apa yang mana. Nanti akan di bantu oleh 2orang, yang satu mencatat pesanan kita, yang satu mengambil pesanan kita untuk di goreng.

Tapi ada juga beberapa menu yang ga butuh di hangatkan, misalnya sambel terong, ayam kremes, sayur asem, karedok, etc. Saya memesan ayam kremes dan sayur asem, adek memesan ayam goreng bumbu desa, dan ibu ikan patin goreng ples karedok ples terong sambal ples tahu tempe goreng. Tidak apa apa, yang ulang tahun berhak makan banyak.

Kata ibu saya ikan patinnya enak, saya ndak mencoba, jadi kurang tahu. Ini yang di sayangkan dari menu yang tidak di panaskan, ayam goreng kremesnya ngga enak, padahal kremesannya cukup lezat. Ga enak karena ayamnya jadi alot, berminyak dan dingin. Sayur asemnya pun lebih pantas di bilang sayur manis, dan isinya terlalu lembek (kacang, weluh, jagung dan lainnya). Dan kata ibu saya, terong sambalnya basi.

Sambelnya (sambel bawang) cukup pedas, tahunya, walaupun ngga garing tapi cukup asin dan ngga asem. Ples bisa nambah sambel kecap (ngga ada di display). Lalapannya boleh ambil sendiri, tapi cuma selada, timun dan daun kemangi. Padahal lalapan tanpa kubis itu menurut saya kurang afdol.

Minumannya ada berbagai macam pilihan, yang menarik disana juga ada juice therapy (jus buah campuran dan dihidangkan tidak dingin) Saya memesan juice strawberry, timun dan semangka. Tapi rasa strawberrynya ngga ada. Adik saya memesan es klamud leci yang rasanya lucu. Sedang ibu saya memesan es kebut, hmm.. selasih, jeli dan.. ntah apa saja, tapi yang jelas enak. Lalu saya menambah es teh manis, tapi lebih pantas di bilang es gula pake teh karena kemanisan.

Sama halnya seperti warung sunda, kita diberikan teh tawar hangat free. Cocok kalo ngga sengaja kena cabe rawit dan bikin bibir perih seperti yang saya alami.

Jika menurut iklan harga makanan bumbu desa adalah harga orang desa. tolong jangan bayangkan harga yang murah. Mungkin maksudnya harga orang desa adalah bagi para mandor tanah atau orang gedong yang tinggal di desa. Karena harganya cukup mahal. Nasi putih nya 4rb, ayamnya 11rb, tahu goreng 4rb (per porsi, dan satu porsi itu satu tahu yang di belah dua) dan tempe gorengnya 3rb (per porsi, dan seporsi 1) sedang minumannya rata rata 15 ribu (tapi es klamud leci “cuma” 11 rb dan es teh manisnya 4 rb) PLES, harga diatas BELUM termasuk PPN 10%

View bumbu desa sangat cantik. Saat masuk ada semacam band yang memainkan lagu jazz.. atau pop oldies? lupa saya, tapi cukup merdu. Pelayannya banyak, sehingga tidak kesulitan memanggil pelayan dan masakan diantar relatif cepat.

Ada yang menarik hari ini, dua orang tamu berulang tahun dan serombongan pelayan (bukan band yang ada di sana) membawa semacam gendang, sendok, lalu bernyanyi nyanyi selamat ulang tahun pada mereka. Ntah harus pesan dulu atau tidak, tadinya saya mau manggil mereka karena si Ibu juga ulang tahun, tapi saya urungkan karena kalah ramai peserta yang ulang tahun ketimbang tamu lainnya. Masak ya cuma bertiga, ga seru.

Overall.. saya ga mau kesini kalo ndak dibayarin, dan kalo kesini lagi, tolong ingatkan saya untuk jangan memesan ayam kremes dingin lagi.

10 thoughts on “Yang Bumbu Desa

  1. aku tuh pecinta masakan sunda, tapi masakan sunda yang di bumbu desa daerah BSD kurang enak..ga tau ya kenapa tapi beberapa kali kesana makanannya ga fresh..:|

  2. @dita
    *keplak dita pake ayam kremes*

    @niken
    iya, banyak yang ga fresh.. mungkin karena seharian di display diruangan ber ac kali ya?

    @linda
    ya kapan kamu mau?πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s