Yang Rumah Dara

Saya yang terlanjur jatuh cinta pada film pendek “Dara” pada film “Takut” merasa sayang untuk melewatkan diri menonton film “Rumah Dara”. Rumah Dara(h) bukan lah sambungan dari film Dara, beda cerita, beda korban, satu Dara.

Cerita di buka dengan enam orang bersahabat, yang sayangnya hanya tiga orang saja yang dijelaskan tokohnya. Ladya (Julie Estelle), adik dari Adjie (Ario Bayu) yang membenci Adjie karena merasa Adjie yang membunuh orang tua mereka, dan istri Adjie yang sedang hamil delapan bulan, Astrid (Sigi Wimala).

Sisanya, yang tiga lagi, saya cuma inget Jimi (Daniel Manantha) pria yang (kayaknya) naksir sama Ladya, Eko (Dendi Subangil) yang playboy (dan main di film Dara) serta Alam (yang dulu main di Dara juga, tapi namanya Adjie).

Anyhow, 20 menit pertama kita bener bener dibawa tenang, ibarat roller coaster, masih di bawah, masih nunggu orang orang pada naik dan mengencangkan ikat pinggang. Adjie dan Astrid akan pergi ke australia (kurang inget kalo sisanya) mereka sedang dalam perjalanan dari sebuah pub di Bandung, menjemput Ladya dan membujuknya untuk mengantarkan Adjie dan Astrid.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang gadis cantik namun misterius yang mengaku kerampokan. Ia mengenalkan dirinya sebagai Maya (Imelda Therinne), Eko yang keganjenan langsung blingsatan menawarkan untuk mengantar dia. Sampai di rumahnya, dikenalkanlah dia pada ibunya, ibu DARA (Shareefa Danish), kakaknya Adam (Arifin Putra) dan Armand (Ruly Lubis)

Di sinilah puncak Roller Coaster berhenti, dan bersiap meluncur turun tanpa pemberhentian untuk bernafas dari ketegangan. Dimulai dari obat tidur dalam masakan, satu per satu nyawa mereka di cabut dengan sadis.

Saya paham, The Mo Brothers mungkin ingin menguatkan karakter Dara dengan membuatnya bersuara lebih berat. Tapi menurut saya, Dara tidak lagi menjadi misterius-sadis-tapi-elegan seperti film Dara. Dara dalam film Rumah Dara hanya menjadi sosok misterius-sadis-tapi-kaku. Namun karakter Dara cukup melunak sih, ketika dia mendapati Maya mati (walaupun masih di hitung sadis juga untuk takaran manusia normal :)) ) dan menunjukkan sisi keibuannya dengan berkata “Adam, bawa kepala mereka!” (yaya, dimana keibuannya??)

Beberapa pilihan kata sedikit tidak konsisten dengan karakter keluarga pembunuh ini, pada awal mereka selalu menggunakan kata baku, namun beberapa kali keceplosan menggunakan bahasa informal. Padahal di film Dara, cara bicara Dara biasa saja namun tetap bernuansa elegan.

Selain itu, pembunuhan yang di lakukan mereka hanya sadis dan cepat. Bukan lambat lambat dan menyakitkan, maka mereka mulai menambahkan tokoh tokoh figuran tidak penting tanpa di perkenalkan hanya untuk datang dan di bunuh. Eko sempat kabur dari Rumah Dara dan bertemu satuan polisi. Saya hanya ingat “bos”nya (atau mungkin atasannya) mengenalkan diri sebagai Syarif. Dan sisanya hanya kesatuan. Itupun hanya satu yang mengenal kan diri, Soni, sebagai bentuk flirting pada Maya. Belum lagi kedatangan Aming yang sebetulnya ga di butuhkan, jika hanya ingin melucu.

Lalu, luka kuping Eko yang sempat terkena crossbow pindah posisi (atau hanya perasaan saya saja?) dan cara Dara mencari alasan “siapakah eko” ketika di interograsi polisi, “anak jakarta yang kos di salah satu kamar di sini.” saya langsung, “heh?? ngekos?? in the middle of no where gini?? kok polisinya percaya ya :))”

Anyhow, Rumah Dara adalah cannibalism-gore-slasher klasik, penuh darah, dan tetap bernuansa Indonesia dengan bumbu mistik nya (bukan penampakan hantu) dan sukses bikin satu bioskop menjerit ketakutan serta bikin beberapa orang yang tidak cukup kuat melihat darah pergi dalam satu jam pertama.

And because it is a gore film, what do we expect from it except blood?

10 thoughts on “Yang Rumah Dara

  1. udah nonton 2 kaliii….😆

    btw, soal obat tidur, emang itu dikasih obat tidur ya ceritanya? bukan karena makan daging manusia (katanya, kalo daging2 eksotik yang gak biasa kita makan, punya efek kuat seperti pusing dan memabukkan) digabung pula sama wine (atau apapun lah itu minuman keras yang disuguhkan) yang jelas2 dari tahun yang sangat lampau jadi sangat keras rasanya…

    CMIIW😀

  2. oh iya tho? aku pikir obat tidur, kalo masalah daging manusia, rasanya kurang lebih kan mirip daging babi, kalo yang eksotis mungkin cuma daging bayi yang di makan ladya. etapi mbuh juga :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s