Yang Kebahagiaan Kecil

Once upon a time in a country far far away
a boy lived, very different from all the others.
His name was Eftichis.
Everything ran smoothly in his life until one day,
many many years ago an incident made him…
see life from a different perspective.

And then, a big secret was revealed.
The solution to a riddle,
that humans have been trying to solve for centuries now.
He discovered the meaning of life.
He now knows.. that happiness is nothing more than moments,
small and invisible moments.

Like when someone covers you up at night.
Dreaming.
Waking up to a sparrow’s song, on fresh-smelling clean sheets, next to someone you love.
Touching them, smelling them.
Feeling the warm water dropping on your face.
Your house smelling of freshly-baked cake.
Holding a warm cup when it’s cold outside.
Cutting a lemon from your tree.
Feeling the fresh winter breeze brushing your face.
Feeling light and empty of thoughts, in total calmnesss. Under the water.
To keep doing things you did when you were young.
When everyone is running under their umbrellas, you are standing in the rain.
Walking barefoot on wet grass.
Taking a baloon out for a walk.
Believing things that cannot be explained, that a ladybird is a good sign.
To have no fear.
Doing things that do not suit your age.
Hearing the waves hit the shore.
Feeling the earth under your feet.
Thingking of nothing.
Someone whispering a secret to you.
Watching the sunset…

even when others know…

that you can’t see it…

This video is beautifully sad.. Touching with their colors. But helping me to smile šŸ™‚

Have you thanked to God today? šŸ˜‰

Yang Official

Bandung mungkin tak akan sama tanpamu. Dan mungkin jika aku ke bandung nanti aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi, walaupun aku mau.

Mungkin frozen green tea rasanya akan berbeda, tapi tidak mungkin kan, karena mereka kan sudah di training untuk membuat green tea dengan takaran yang sama. Aku mulai berlebihan karena terlalu sedih.

Tapi tak apa, kita baik baik saja. Tak perlu caci maki, tak perlu pertengkaran berhari hari untuk menyelesaikan apa yang sudah di mulai. Mungkin hanya ke keras kepalaan saja. Dan mungkin, tak ada dan tak perlu ada yang salah di antara kita.

Sudah saatnya kita mencari masa depan yang lebih baik dari masa lalu yang sedang perlahan kita tinggalkan.

It’s official.

Yang Sepuluh Tahun

Sepuluh tahun yang lalu, usia saya sepuluh tahun (sebenernya sepuluh tahun kurang sih, sembilan tahun sepuluh bulan lalu, ah tapi ndak penting lah hihihi)

Saya kelas enam SD waktu itu. Biasanya usia sepuluh tahun itu kelas lima SD kan ya.Ā  Dan saya pindahan dari jogja. Saat itu baru dua tahun saya di Jakarta. Seperti jatah anak baru yang masuk di pertengahan sistem, keberadaan saya bisa dianggap minoritas dan biasanya korban bully. Misalnya, yang saya ingat, diludahi di depan kelas. But it actually does make me stronger, I’m not sad at all.Ā  Mungkin karena mikir beberapa bulan lagi lulus dan akan ninggalin sekolah ini kali ya. Hihihi..

But the hardest part I remember is I was lonely. Rumah saya di daerah jakarta coret coret, terletak di pojokan komplek yang segang itu ga ada yang tinggal, Emak dan Bapak kerja di kantor yang nun jauh dari rumah yang bikin kalo udah sampe rumah bawaannya pengen tidur aja. Dan ga ada temen satu sekolah yang rumahnya di sana. Ya iyalah, sekolah di daerah jakarta timur, rumah di daerah bekasi, naek angkot tiga kali, mau ngabisin waktu berapa jam di jalan, coba.

Waktu itu belum punya mobil. Yang bapak saya punya adalah mobil dinas, dan kita jaraaaaaaaaaaaaaang banget jalan jalan. Mol yang ada cuma deket sekolah ataupun deket rumah, tapi mol murah, bukan mol yang mid-high class seperti Plaza Indonesia atau Plaza Senayan. Hihi.. Ndak ada twentiwannya, ndak ada pizza hutnya saat itu.

Masih belum addicted sama internet, tapi udah beberapa kali ke warnet sih. Cuma saat itu harga internet enam ribu per jam, mahaaaaaaaaal banget buat anak SD. Hihi.. Kalaupun ke warnet dulu bukannya pasti mIRC šŸ˜› *semangat sok gaul bocah cilik, hihihi*

Sudah terobsesi sama komik dan novel, hihih. Suka banget sama novelnya Enid Blyton, komik detektif, komik Indonesia, pokoknya dulu kalo ke Graha Cijantung (mol deket sekolah, sekarang namanya Plaza Cijantung) selalu main ke Karisma (nama toko bukunya) atau kios komik di lantai tiga yang jadi langganan dan selalu ngasih diskon ke saya. Juga ke Gramedia Matraman yang deket sama rumah kakek dan kantor bapak, dan sering banget diajak bapak kesana.

Hmm, dulu belum baca majalah, bacaannya tabloid. Ada satu tabloid yang bagus banget tapi udah di putus penerbitannya (apa ya judulnya) sama Fantasia. Jaman SD itu, jajanan depan sekolahan banyaaaaaaaaaaaaaak banget, ada tahu gejrot (saya sukaaaaaaaaa banget), cakue, siomay, gulali warna warni, apa lagi ya.. rata rata masih bisa di temui sih sekarang.

Sepuluh tahun dari saat itu, here I am. Malah nunggu nunggu waktu kapan si emak ndak di rumah. Malah seneng ngenet dan baca buku jadi jaraaaaaaaang banget. Sangat beda banget, hihi.. Begitulah cerita saya ketika saya berusia sepuluh tahun šŸ˜‰ Gimana dengan kalian? šŸ˜‰

Yang Talaga Tahu

Kemarin ketika di Bandung (lagi) saya menyempatkan diri ke cihampelas walk, selain berkencan dengan pacar abang dvd langganan (itu loh, chelsea dvd yang di depan ciwalk sebelah persis bengkel honda *promosi*) saya juga menyempatkan mampir ke sebuah warung tahu yang selalu ramai di sini. Ada 2 warung tahu sebetulnya, yang 1 saya lupa namanya, yang 1 lagi adalah “Talaga”.

Berbentuk seperti sebuah angkringan, dengan bangku bangku dimana mana (tanpa meja), dengan 4 orang lebih pelayan yang siap membantu kita memesan dan juga menjelaskan menu, karena banyaaaaaaaak banget menunya baik yang tradisional maupun unik, dari tahu samosa, tahu bodo, tahu buntel, tahu crispy dan lainnya. Dengan harga sekitaran lima sampai sepuluh ribu.

Rekomendasi menu dari talaga adalah tahu bodo, tahu yang dikeluarkan isinya, di campur cabe rawit lalu di satukan kembali. Pedas dan kering *bukan sambel yang basah* tadinya mau pesan, tapi berhubung saya dan abang dvd MJ takut mules di ciwalk, maka kami memesan menu yang lain :

Tahu BULE adalah tahu yang berisi keju cair dan irisan salami. Perpaduan keju yang gurih, tahu yang digoreng renyah dan saus asam manis cukup memuaskan cacing di perut. Satu porsinya berisi 3 potong tahu dengan harga sepuluh ribu rupiah.

Tahu BUNTEL dibungkus dengan kulit pangsit seperti dimsum dengan campuran potongan dadu tahu kecil dan bawang bombai yang gurih. Anyhow, saosnya saya kurang tahu apa, tapi mirip dengan saus instan abc “sambal bangkok” *soale itu sambal botol langganan di rumah XD* Dengan sepuluh ribu rupiah, saya bisa mendapatkan 4 potong.

Anyhow, kami berdua memilih minuman es teh manis dan es teh kocok. Menurut MJ, secara kita mau mencoba spesialisasi mereka, lebih baik pesen minum yang murah biasa saja. Es tehnya bisa anda dapatkan seharga tiga ribu dan es teh kocoknya 6500. Semua harga diatas sudah termasuk PPN.

Sangat disayangkan kalau harus meninggalkan talaga tahu tanpa mencoba semua menu yang ada di sana. Semuanya unik unik. Samosa tahu misalnya, tahu berbentuk pastel yang juga di campur kari ayam. Dan jika ada kesempatan ke bandung lagi, saya pasti ke talaga lagi untuk memuaskan hasrat penasaran saya akan menu lainnya šŸ™‚

ps :Ā  adakah yang bisa membantu saya setting makro dari kamera w705, karena untuk jarak jauh malah fokus sedang jarak dekatnya buram, dan saya masih belum menemukan settingan makro di sini. Sankyu.