Yang Rumah Lebah

Ketika seekor ratu lebah menetas dia akan menjerit dengan lengkingannya yang kuat. Siapa pun lebah betina yang ikut menetas bersamanya menjawab lengkingan itu maka dia telah membuat kesalahan. Sama saja dia memanggil kematiannya sendiri. Hanya boleh ada satu ratu lebah. Dan sang ratu akan membunuhi siapapun saingannya.

Sangat sulit menemui novel bergenre thriller di Indonesia. Tapi beberapa novel thriller yang saya baca dan buatan lokal selalu membuat saya deg degan intensitas kata kata yang bikin saya haus untuk segera menuju halaman belakang. Sebut saja Joker, XX ataupun Pintu Terlarang yang walaupun saya sudah menonton filmnya tetap saja novelnya bikin puas.

Tapi tidak untuk Rumah Lebah.

Mala, seorang anak yang tidak jelas apakah autis ataukan indigo atau hanya jenius biasa, dapat melihat orang orang yang Nawai dan Winaya (orang tuanya) lihat. Wilis, beruang hijau basah. Tanta Ana Kayana, perempuan genit yang selalu sibuk dengan riasannya. Abuela, nenek perfeksionis yang selalu berbicara bahasa spanyol. Dua kembar yang bisu dan tuli. Dan Satira, lelaki jahat yang ingin mengontrol mereka semua yang tinggal di Rumah Lebah. Tapi siapa sangka, orang orang yang dianggap teman teman khayalan Mala justru menjadi sebuah kunci tentang pembunuhan yang nantinya akan terjadi di Bukit Mata Kaki.

Amat disayangkan, karena sebetulnya Rumah Lebah punya alur maju mundur yang apik dan pergantian point of view yang halus. Akan tetapi pergerakan nya terlalu lambat sehingga emosi untuk misterius berkesan menguap dan jadi membosankan. Terutama awal hingga tengah. Itupun saya bertahan membacanya karena terlanjur mengintip sebuah halaman pembunuhan. Saya langsung terkejut dan berpikir bagaimana memasukkan motif pembunuhan ke alur pembukaan yang selambat ini?

Untunglah Ruwi Meita tidak melakukan cacat dengan mengaduk terlalu banyak tokoh ke motif pembunuhan. Hanya saja setelah pembunuhan itu terjadi (yang tentu saja makanan utama novel ini) alur kembali melambat, dan ending langsung tertebak.

Saya tidak tahu apakah ending Rumah Lebah cukup bagus atau tidak. Saya berpendapat seperti ini, ending Rumah Lebah seperti sebuah lubang yang menganga. Ruwi Meita hanya menjabarkan dengan kembali ke belakang, tanpa memberikan epilog dan after-event-effect. Semua terkuak tapi ya sudah. Seperti lubang menganga dan kita hanya bisa melihat kebawah lalu berkata “oh, sudah? lalu kenapa?”

Advertisements