Yang Kotak Kotak Kecil

Saya punya kotak kotak kecil. Saya menyebutnya, Inner Circle. Yah, mungkin semua orang juga punya dan juga menyebutnya Inner Circle juga. Tiap tiap kotak saya, punya kepala, sifat, tradisi… Karakter-Yang-Berbeda.

Tiap tiap kotak adalah kotak yang berbeda dengan kotak lainnya. Benar benar berbeda, tidak tersinkron, bahkan tidak se genre. Ini adalah kotak ku bekerja, ini adalah kotak ku hura hura, ini adalah kotak ku mencintai musik, ini adalah kotak ku mencintai buku, ini adalah kotak ku mencintai menari, ini adalah kotak ku dan seterusnya. (Ah, mana kotak ku belajar?)

Saya mencintai semua kotak kotak saya. Saya menikmati setiap saat bersama kotak kotak saya. Maka saya tak pernah punya waktu sendirian. Kadang lelah sih, saya tak ada waktu memanjakan diri saya dengan “layak”. Tapi tak apa, karena saya menikmati setiap saat saya bersama kotak kotak itu.

Lucu, saya adalah orang yang paling anti berhubungan personal dengan orang dari kotak kotak saya (sudah pernah mencoba, dan tak bertahan lama, dan bukan pengalaman yang menyenangkan). Karena saya suka balance, jika saya memilih satu kotak secara berlebih, pasti saya akan kehilangan waktu saya untuk kotak kotak saya yang lain. Sayangnya, tak mungkin ada seorang Outer Circle yang mampu “membuang waktu”nya bersama saya. Karena saya begitu egois. Saya tak begitu suka mencampur kotak yang satu dan kotak yang lain. Percayalah, karena tak semua mampu bergabung dibanyak kotak yang benar benar berbeda.

Dan mungkin egois karena saya tak ingin kehilangan waktu saya bersama semua kotak kotak saya. Namun saya juga tak ingin “Sendiri”. Seorang teman pernah tertawa ketika saya berkata, “bisa ga ya, punya relationship cuma physical tapi tanpa sex. Dia ga perlu memahami aku, cukup bisa dipeluk, didusel dan diciumi saja. Tapi tanpa sex.”

Yang Shimatta

Saya lebih takut akan dilupakan daripada kematian. Makanya saya jarang dekat secara personal sama seseorang dalam konteks sahabat. Lebih baik pacar, atau hanya acquaintances. Karena, tidak ada ikatan personal terlalu dalam dan ketika kita saling “menjalani jalan masing masing” tak ada rasa kehilangan, atau penyesalan karena me/dilupakan. Egois ya saya, mencari sebuah zona nyaman untuk saya sendiri.

Lima tahun sembilan bulan yang lalu, saya masuk jogja. Sebuah komunitas jejepangan bernama Shimatta menjadi komunitas pertama saya, dan menjadi teman teman pertama saya di sini. Percayalah, kami tak punya banyak konflik, tapi saya selalu takut menjadikan salah satu dari mereka menjadi “sahabat” saya. Saya pernah mencoba, namun dikecewakan. Mungkin saya yang salah, mungkin tak ada yang salah. Tapi kami memilih “jalan masing masing”.

Ketakutan tak beralasan saya menjadikan saya antipati membuat ikatan baru dengan anak anak lainnya. Jujur, saya dekat, saya nyaman dengan mereka, namun itu juga membuat saya terkekang dengan perasaan ketakutan akan kehilangan mereka. Akhirnya, saya memilih mundur. Saya meninggalkan mereka dan “mencari” komunitas baru.

Tak hanya satu, saya loncat, masuk, nggabung, ndagel, nyari masalah dengan banyak komunitas. Hingga akhirnya, satu dari komunitas saat ini menghubungkan saya ke masa lalu. Kembali pada Shimatta.

Dan yang mengejutkan. Shimatta, masih menganggap, bahkan menerima saya. Agak rikuh awalnya, masa saya hilang dari peredaran justru menjadi masa paling “heboh” di sana. Beberapa kali saya kehilangan momen kebersamaan mereka. Tapi mereka tidak menyalahkan saya menghilang selama dua setengah tahun. Mereka tidak mengejek ejek saya yang terkesan tidak memperdulikan mereka. Mereka menerima saya. Apa adanya. Adanya apa.

Shimatta adalah komunitas tua, sedikit lagi usianya mencapai angka Enam. Ibaratnya, kami sudah lulus sekolah dasar. Pun generasi saat ini sudah berulang kali berganti. Beruntung saya dan beberapa generasi pertama masih bertahan di dalamnya.

Salah seorang kawan generasi pertama, angkatan saya, berkata tadi pagi..

Chor, kita udah berteman lima setengah tahun ya. Bentar lagi kita ini lulus SD ya chor.

Ini seperti menampar saya. Pada akhirnya saya sadar, ketakutan tak beralasan dulu memang benar benar tak beralasan. Pada akhirnya perpisahan memang mungkin harus dihadapi, tanpa harus lari. Toh, walaupun saya sempat meninggalkan Shimatta, mereka selalu menganggap saya seorang teman. Saya.

Saya tahu, dalam posisi saat ini, saya tak mungkin memprioritaskan Shimatta, saya sendiri saat ini menjebakkan diri dalam empat komunitas lain. Mungkin mereka bukan yang utama buat saya, tapi mereka adalah teman teman terbaik saya. Sekali lagi. TERBAIK.

Ibarat kata pepatah, jodoh tak akan lari kemana. Saya berharap, dan ingin percaya, teman teman Shimatta mungkin jodoh saya. Apa yang digariskan Tuhan, teman teman pertama saya di Jogja dan mungkin akan terus menjadi teman teman saya hingga saya menutup mata.

Saya sayang kalian. Saya sayang banget sama kalian.

Budhe yang  jadi jogja tour guide sejak dulu.
Sese yang tampan.
Rani yang lembut.
Kana yang merebut rani dan sese.
Babahe yang harus menjaga kana!
Pak RT yang selalu bijak.
Mbak Boni yang lucu.
Chiroh yang berhati nyaman.
Gay yang sekarang jadi wanita. Walau sithik.
Pakdhe yang suka memeluk.
Bebek yang mellow.
Dito yang pendiam.
Herlan yang cerewet.
Anata yang cantik.
dan semuanya yang saya ga bisa sebutkan lagi karena saya mbrambangi.

Saya sayang kalian. Menualah bersama saya. Tetaplah menjadi teman teman saya. Teruslah bersama…. Saya masih ingin menghabiskan tiap menit saya bersama kalian.

Ini kado yang terlalu cepat dari saya untuk ulang tahun Shimatta. Sekali lagi. Saya sayang kalian 🙂 Saya S-A-Y-A-N-G kalian!!!!