Yang Percaya

“Aku tak tinggal di dunia yang baik. Dunia kita berbeda. Dan kamu tak akan mampu memahami duniaku.”

Sekalimat terakhir kudengar darinya. Perpisahan kah? Tak tahu, setelah itu, dia tak bicara lagi. Terdiam, menatap kosong seperti orang orang yang ku benci di asylum ini. Mereka yang berteriak teriak, bukan kah itu pertanda mereka “hidup”? Walau berisik.

Tapi dia satu satunya yang kuajak dan mengajakku bicara dengan normal. Dengan konsekwensi tingkat depresi merambat membabi buta dan mencekik ku. Tapi tak pernah lagi, dan aku mulai linglung dan lupa kemanusiaanku setelah lama tak berkomunikasi. Apa bedanya aku dan dia? Karena aku pun menatap kosong ke arahnya. Selama dua tahun ini.

Suatu hari dia tiba-tiba mendatangiku, mengajak bicara setelah dua tahun membisu di pojokan dengan tatapan kosongnya.

“Kau tahu, mungkin hidupku tidak selalu kontrakdiktif, aku pun pernah bertemu orang orang baik. Aku pun pernah pecaya pada duniaku. Tak sekali. Berkali kali, aku percaya, dunia mengkhianati, aku terluka, lalu kembali percaya. Terus menjadi siklus setan.” Aku terdiam, menyimak dengan khusyuk, kubiarkan kupingku terbuka, dan menresapi suara yang kurindukan setelah aku memilih melumpuhkan indraku.

“Aku memilih percaya, karena seharusnya dunia itu baik. Walau kenyataannya tidak. Aku memilih menjalani, walau penuh ketakutan. Kau tahu, harusnya kau pun seperti itu. Mempercayai dunia lagi. Walau sakit, walau perih, walau terluka. Tapi menjadi hidup. Lalu dengan hidup, kau akan mampu mencari sisi baik dunia. Dan percaya. Dan kau, kau akan percaya padaku, karena aku akan membuat mu hidup. Malam ini. Maukah kau percaya?” Dia meracau, aku tak paham. Tapi tak ada depresi merambati kaki. Aku terambati rindu, mungkin aku rindu suaranya. Dia tersenyum, lalu bicara lagi, bukan, kami berbicara. Kembali jadi manusia. Walau dia mengulang ngulang kata “malam ini kau akan hidup.”

Lalu malam itu, dia, yang sampai sekarang aku tak tahu namanya, loncat dari lantai 10 asylum kami. Langsung mati.

Aku berteriak teriak kerasukan, dan aku mulai paham.

Aku.Menjadi.Hidup.

One thought on “Yang Percaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s