Yang Pengantin untuk Lima Bersaudara

Drupada, Raja Pancala, karena jengkel setelah dikalahkan oleh murid-murid Drona, mengembara ke mana-mana dan menemukan seorang guru yang memberi nasihat tentang cara mendapatkan seorang putra yang suatu hari bisa membinasakan Drona.

Drupada lalu mengadakan upacara dan doa-doa, dan dari api pengorbanan muncul seorang anak lelaki dan anak perempuan. Anak lelaki itu muncul sambil membawa senjata dan berselubung perisai. Ia memiliki semua pertanda bakal menjadi seorang kestaria tersohor. Dia diberi nama Drestajumena, yang berarti “lahir dengan keberanian, senjata, dan perisai”. Anak perempuan itu hitam dan cantik dan dinamai Drupadi atau pancali.

Drupada telah mengumumkan sayembara tentang putrinya, dan bahwa dia telah mengirimkan undangan ke segala penjuru agar calon-calon pengantin laki-laki berkumpul di istananya pada suatu hari tertentu sehingga pengantin putri itu bisa menjatuhkan pilihannya.

Sayembara Drupadi adalah suatu kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, maka Pandawa bersaudara dan ibu mereka berangkat ke Pancala. Pada hari pelaksanaan sayembara itu, Pandawa bersaudara berangkat pagi-pagi dari rumah dan bergabung dengan orang banyak yang berjalan menuju istana. Hari itu dimulai dengan upacara keagamaan besar-besaran yang dipimpin oleh para pendeta kerajaan. Pada jam yang telah ditentukan, Drupadi memasuki arena dan memandang sekeliling, membuat jantung para pemuda berdegup kencang. Ia dikawal oleh Drestajumena, kakaknya.

Drestajumena mengumumkan bahwa mereka yang dianggap memenuhi syarat untuk dikalungi bunga oleh Putri harus menarik busur yang diletakkan di atas podium dan menembakkan lima anak panah ke arah sasaran berputar diatas, hanya dengan melihat pantulannya pada sepanci minyak di bawah.

Suasana jadi ramai ketika Arjuna bangkit dari kelompok brahmana. Ada yang berteriak protes, “berani beraninya seorang brahmana ikut sayembara yang hanya diperuntukkan kasta kesatria ini! Suruh para brahmana itu menekuni kitab suci saja!” Tetapi Raja Drupada menyatakan bahwa beliau tidak menyebutkan kasta dalam pengumumannya. Siapa saja boleh mecoba kemujurannya pada sayembara itu.

Arjuna mendekati busur itu. Ia tidak hanya menarik busur itu, tetapi membidik sasarannya berkali-kali, lima kali. Drupadi mendekati Arjuna dengan rangkaian bunga dan mengalungkannya pada leher Arjuna, dan mereka pun terikat dalam tali perkawinan. Arjuna mencekal tangan Drupadi dan membawanya pergi.

Kunthi sedang berada di dapur ketika lima bersaudara itu tiba. Bhima berteriak dari ambang pintu, “Ibunda, keluarlah, lihatlah bhiksa apa yang sudah kami bawa hari ini.”

Tanpa keluar Kunthi menjawab dari dapur, “Bagus sekali, bagi saja sendiri di antara kalian.”

Semua kaget dan berseru seru. Kunthi keluar , dan terkejutlah ia. Sejenak suasana terasa canggung dan Drupadi berdiri agak jauh dengan mata memandang ke lantai, sambil berusaha untuk tidak menatap kelima lelaki yang akan membagi dirinya di antara mereka, seandainya mereka harus menaati kata-kata ibu mereka.

Arjuna memecahkan suasana canggung itu, “Ibunda, kata-kata Ibunda selalu merupakan perintah bagi kami, dan kewenangannya tak bisa dihindari. Kami akan membagi Drupadi seperti yang telah diperintahkan Ibunda.”

Kata Yudistira, “Arjuna, kau ini bercanda ya? Itu saran yang tidak masuk akal. Seorang wanita menikah dengan seorang lelaki adalah seorang istri, kalau dengan dua, tiga, empat atau lima lelaki, namanya seorang wanita milik umum. Dia berzina! Apa ada yang pernah mendengar hal seperti itu?”

Arjuna memohon, “Kumohon Ibunda, jangan menjadikan aku seorang pendosa; tidak adil mengutukku agar menanggung dosa karena tidak taat pada perintah seorang ibu. Kau, kakak sulungku, kau seorang lelaki yang punya pikiran adil dan pengetahuan tentang salah dan benar. Kami empat adikmu dan gadis ini akan menaati kata-katamu. Kau harus memberi kami nasihat tentang apa yang baik dan adil. Beri kami nasihat, dan kami akan menaati kata-katamu, tetapi jangan lupa bahwa kita tidak bisa membatalkan perintah seorang ibu…”

Yudistira hanya merenung sejenak, mengingat-ingat apa yang dikatakan seorang petapa yang sudah meramalkan keadaan ini. Sambil memutuskan untuk menghindari amarah diantara saudara, ia menyatakan, “Makhluk jelita ini akan menjadi istri kita semua.”

 

Disadur dari : Mahabarata chapter 3 : Pengantin untuk Lima Bersaudara karya R.K Narayan

2 thoughts on “Yang Pengantin untuk Lima Bersaudara

  1. Saya selalu ingat cerita ini kalau memikirkan contoh akulturasi budaya. Setelah masuk di tanah Jawa, cerita ini diubah oleh para tetua Jawa sehingga Drupadi hanya menjadi istri Arjuna saja ‘kan Mbak?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s