Yang Bola Ditukar Putri Yang Liar

Ouch baiklah, saya jayus sekali dengan judul diatas. Anyway, sudah kurang lebih seminggu sejak saya menuliskan tentang Putri Yang Ditukar. Ya, dan bola asumsi semakin liar berputar di ranah media, terutama blogger. Fenomena blogger renta™ mendadak hidup lagi dan menuliskan opini mereka tentang sinetron ini.

Sila buka :

  1. Absurditas di Putri yang Ditukar – Nonadita
  2. Antara Mamah, Diriku dan Putri yang Ditukar – Umenumen
  3. Itikkecil dan Sinetron – Itikkecil
  4. Barang Yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Dapat Ditukarkan – Joesatch
  5. Masygul – Aris
  6. Masih Mau Nonton Sinetron? – Leksa
  7. Belajar dari Nodame – Suprie
  8. Kualitas Buruk yang Terus Dipertahankan – Aankun
  9. Homo Sinetronosus – Pak Guru
  10. #41: Sinetron – Masova
  11. Ikutan Membahas Sinetron – Adhi Pras
  12. Sinetron Indonesia Miskin Cerita – Fudu
  13. Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole
  14. Balada Argumentasi Sinetron yang Tertukar-tukar – Amed
  15. Putri yang Ditukar – Mamski
  16. Pilih Sinetron atau si Bolang? – Memethmeong
  17. Jangan Tukar Isu Putri Yang Ditukar – Nonadita
  18. Sinetron Harus Mendidik – Mimit
  19. Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang DItukar – Momon

Saya menghela nafas berat, tak tahu harus ikut senang karena blog blog yang tadinya sekarat kembali bernafas, atau jadi ikut bosan karena mendadak ranah komentar menjadi ramai dengan debat yang, maaf, buat saya kurang penting.

Tapi, saya teringat dengan kata leksa :

Guna berdebat emang karena mencari solusi perbedaan kan?

Kalo beropini sama tapi berdebat, itu baru useless

Banyak orang berkata, kalau memang muak, kenapa nggak ganti channel saja. Toh remote ada ditanganmu. Lha, bukannya sama aja saya bilang “kalo lu gak suka postingan gue, gak usah komen sekalian. Kalo elu gak suka fanpage Koin Yang Ditukar, gak usah like dan komen disana.” Tapi setiap orang bebas berkomentar toh. Justru di sini kan, asyiknya berdiskusi. Bukan dengan kembali pada pribadi masing masing atau menutup mata tak peduli dengan fenomena apapun itu.

Bola asumsi liar pertama yang terlempar ke ranah publik adalah, kami (iya kami, para pendukung berhentinya Putri Yang Ditukar) dianggap pecinta sinetron Cinta Fitri. Walaupun tidak sekalimat pun kami bilang Cinta Fitri itu bagus. Oh please, Cinta Fitri sudah tujuh musim, aneh kalo mau dihina sekarang, Cinta Fitri itu so laaaaaassstttt decade deh. Saya sih ngakak abis abisan ketika pertama kali dituduh fansnya Cinta Fitri.

Lalu asumsi berubah, kami (iya lagi lagi kami, yang livetweet tentang sinetron ini) dituduh dibayar PH yang bersangkutan untuk menaikkan rating sinetron tersebut. Err.. Reaksi pertama saya speechless, dan ngangguk ngangguk mbok iya ya, seharusnya kita dibayar, hahaha!

Awalnya sih, saya bisa ngakak dan geleng geleng, sampai tiba tiba, diskusi berubah jadi lebih “berat”. Lalu dituntutlah perubahan, bahwa sebaiknya kami yang cuma bisa protes ini membuat PH baru, membuat sinetron baru, gak cuma nulis, gak cuma bacot. Begitu katanya.

Saya tak setuju. Saya tidak menginginkan sinetron berhenti, toh saya tak pernah menonton sinetron. Serius, saya jarang menyetel televisi. Lebih baik berkutat dengan DVD atau download serial serial luar. Masalahnya, Sinetron memang menjual mimpi, sejak lama sekali jarang banget ada sinetron berbobot yang tahan lama di televisi. Dan penikmatnya pun banyak, baik dari kalangan berpendidikan ataupun kalangan… asisten rumah tangga. Buat saya ini masalah selera, tak akan saya protes. Dan saya tidak peduli juga toh.

Lalu kenapa saya tetap menulis ini? Kenapa harus Putri Yang Ditukar? Kenapa saya mendukung Putri Yang Ditukar dihentikan?

Karena durasi.

Serius.

Dulu, sinetron hanya tayang seminggu sekali. Lalu bertambah menjadi senin sampai jumat. Lalu bertambah jadi setiap hari. Lalu sekarang, tiga jam sehari setiap hari? Sudah gila apa?

Menurut saya, adalah wajar ketika kita sudah menemui titik jenuh. Lalu juga menurut saya, wajar ketika beberapa orang meminta tayangan seperti ini dihentikan. Apalagi jika ada penonton setia yang “dipaksa” membuang waktu tiga jam di depan televisi. Tidak mungkin tidak ada yang keteteran. Bullshit kalo kita minta kesadaran diri sendiri untuk mengembalikan pada pribadi masing masing dan menahan diri untuk tidak menonton ini. Harus ada awareness yang disebarkan bahwa menonton Putri Yang Ditukar hanyalah membuang waktu.

Dan disinilah gerakan blogger menulis saya anggap penting. Menyebarkan untuk anti sinetron berwaktu tidak masuk akal, menurunkan rating lalu berhenti. Dan kita semua bahagia. Hore! Seharusnya, orang orang lebih kritis ketika gerakan semacam ini muncul. Kenapa setelah ratusan episode baru Putri Yang Ditukar ini diprotes? Kenapa tidak sejak awal. Berarti, bukan sinetronnya yang bermasalah toh? Buat saya, durasinya yang ga masuk akal dan ga punya perasaan ini yang memang harus dihapuskan.

Seharusnya bola bola asumsi di luar sana dikendalikan. Fokus harusnya kembali pada tujuan kenapa Putri Yang Ditukar harus dihentikan. Ya, buat saya sinetron memang pembodohan, tapi saya pun tak kan bilang semua yang anti sinetron adalah orang orang pintar. Ataupun mereka yang nyinyir sambil livetweet Putri Yang Ditukar adalah orang orang yang tidak punya kehidupan selain sirik. (oh, please) Debat panas yang tak berguna pasti akan melebar menuju topik yang semakin melenceng dari awal gerakan ini ada. Dan seharusnya para blogger tidak terpancing untuk meributkan tetek bengek seperti ini.

Yang Putri Yang Ditukar

Ranah media sedang heboh dengan datangnya sinetron yang cukup fenomenal, Putri Yang Ditukar. Bukan, bukan fenomenal karena cerita ataupun aktingnya yang bagus. Tapi fenomenal karena durasinya yang tidak punya perasaan. Bayangkan, dalam datu waktu, mereka merally tiga episode sekaligus dengan durasi tiga jam. Sejak setengah delapan hingga setengah sebelas malam.

Saya sendiri memang penggemar serial TV, tapi bukan serial TV Indonesia. Jadi saya kurang tahu bagaimana persaingan sinetron di Indonesia. Menurut saya sinetron di Indonesia tidak ada yang menarik, tidak mendidik dan membosankan. Saya pernah sekali, membuang waktu menonton Putri Yang Ditukar. Sungguh, benar benar tiga jam yang sia sia. Akting mereka jelek, ceritanya tidak masuk akal, tidak ada intinya dan membosankan.

Seseorang lalu membuat sebuah fanpage di jejaring sosial facebook : “Gerakan Koin untuk Artis Putri yang Ditukar” Tujuannya? Ya jelas sarkasme. Saya rasa semua orang cukup pintar untuk sadar bahwa ada banyak orang yang jelas muak dengan sinetron di Indonesia. Tapi saya salah, saya bahkan tidak tahu apa yang ada dipikiran penulis kolom kapanlagi ketika menurunkan berita ini, itu dan anu.

Lalu bergulirlah bola asumsi itu, seseorang dengan embel embel “berasal dari sumber yang terpercaya” menuduh pembuat fanpage ini sebagai orang dari pihak Production House sebelah yang berusaha menurunkan rating Putri Yang Ditukar. Oh please, mungkin orang orang yang tahu dan kenal si pembuat fanpage sepertinya bisa ngakak jumpalitan di depan layar. Tidak hanya asumsi, mendadak comment box kapanlagi serta dindin fanpage tersebut berubah menjadi ajang caci maki dan pembelaan yang fanatik atas masing masin sinetron.

Lalu, ketika membela sinetron sudah sama mengerikannya dengan membela agama, mau jadi apa negara kita? Bukankah seharusnya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk diributkan dengan kritis? Mungkin saya terdengar sok bijak, tapi jika hal sepele seperti ini saja mampu menyulut emosi sebagian orang, mengapa kita masih bertanya tanya kenapa masyarakat Indonesia cukup bodoh untuk diprovokasi? Tak heran kan, jika akan banyak sekali kekerasan terjadi karena mudahnya emosi tersulut dengan hal hal tidak penting.

Yang Senin Hitam

Habituasi. Begitulah kira-kira apa yang saya pelajari dua hari terakhir ini. Gegernya ranah pekicau karena sebuah berita, penganiayaan, ah bukan, lebih pantas disebut pembataian, Ahmadiyah. Apa yang membuat gempar? Tak lain dan tak bukan karena pembantaian kali ini berbeda. Iya, berbeda.

Karena, entah kenapa, iya entah kenapa, ketika mendengar Ahmadiyah diserang, maka kita reflek bereaksi “Ooooh..”. Habituasi. Menjadi terbiasa, lalu ambang kemakluman menjadi lebih tinggi daripada awalnya. Sama seperti pada sebuah  hubungan, ketika awal awal bertengkar dengan ketika berapa tahun kemudian bertengkar, jangka waktu respon seolah memanjang. Kembali pada Ahmadiyah, kegemparan terjadi ketika media memberi tahu, bahwa kesadisan yang dilakukan warga benar benar… Tidak manusiawi lagi. Ketika selesai dipukuli, dibacok, dilempari batu, korban yang sudah tak bernyawa digantung. Iya, digantung bagaikan, entah lah, tak ada kata manusiawi yang mampu menggambarkan keadaan korban.

Lalu?