Yang Senin Hitam

Habituasi. Begitulah kira-kira apa yang saya pelajari dua hari terakhir ini. Gegernya ranah pekicau karena sebuah berita, penganiayaan, ah bukan, lebih pantas disebut pembataian, Ahmadiyah. Apa yang membuat gempar? Tak lain dan tak bukan karena pembantaian kali ini berbeda. Iya, berbeda.

Karena, entah kenapa, iya entah kenapa, ketika mendengar Ahmadiyah diserang, maka kita reflek bereaksi “Ooooh..”. Habituasi. Menjadi terbiasa, lalu ambang kemakluman menjadi lebih tinggi daripada awalnya. Sama seperti pada sebuah  hubungan, ketika awal awal bertengkar dengan ketika berapa tahun kemudian bertengkar, jangka waktu respon seolah memanjang. Kembali pada Ahmadiyah, kegemparan terjadi ketika media memberi tahu, bahwa kesadisan yang dilakukan warga benar benar… Tidak manusiawi lagi. Ketika selesai dipukuli, dibacok, dilempari batu, korban yang sudah tak bernyawa digantung. Iya, digantung bagaikan, entah lah, tak ada kata manusiawi yang mampu menggambarkan keadaan korban.

Lalu kegegeran itu seakan mereda, digantikan dengan rutinitas makan siang yang membosankan dan kemacetan yang mendarah daging. Sebagian mengingatkan, ini pembataian bung! Tersebarlah, sebuah video pembantaian tersebut di Youtube. Seperti trigger, lalu terciptalah gerakan ini. Senin Hitam. Ketika orang orang berkabung, bergerak, beraksi yang lebih daripada sekedar prihatin pada kejadian tersebut. Seperti melawan “putih” yang diagung agungkan para pembela Tuhan. Ah, apakah Tuhan sebegitu lemahnya, sehingga harus dibela oleh manusia yang Dia ciptakan?

I do believe in God… I’m just not psychotic about it Saya mungkin bukan ahli pentafsir Al-Qur’an, tapi saya rasa, Islam tidak pernah mengajarkan hal hal yang keji.

O you who have believed, do not kill yourselves [or one another]. Indeed, Allah is to you ever Merciful. [4:29]

Al Qur’an memang menjelaskan tentang Qishash (pembunuhan yang dibenarkan) :

Come, let me convey unto you what God has [really] forbidden to you:  do not take any human being’s life-[the life] which God has declared to be sacred -otherwise than in [the pursuit of] justice: this has He enjoined upon you so that you might use your reason [6:151]

Yang sayangnya ayat seperti ini “diperkosa” dan dijadikan pembenaran tindakan pembunuhan seperti apa yang dilakukan pada Ahmadiyah, sabda Rasul menyimpulkan, “alasan” yang dibenarkan untuk melakukan Qishash hanya tiga : “Tidak halal darah seseorang muslim kecuali sebab tiga hal: karena membunuh jiwa, seorang janda/duda berzina dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Akan tetapi hak melaksanakan hukuman terhadap salah satu dari ketiga hal ini, semata-mata berada di tangan waliyul amri (Penguasa), bukan di tangan perorangan. Sehingga tidak dibenarkan adanya main hakim sendiri. Malah justru, tindakan pembunuhan yang di sengaja dan menimbulkan permusuhan seperti yang dilakukan warga Cikeusik, akan membuat keluarga korban halal untuk membunuh pelaku. Tapi sekali lagi, harus dilakukan oleh Penguasa, bukan main hakim sendiri.

Hukum di Indonesia pun sebetulnya melindungi Ahmadiyah. Pada bulan Juni 2008, Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) yang berisi 6 butir peraturan yang memang membatasi ruang gerak Ahmadiyah, namun juga melindungi Ahmadiyah. Berikut isinya :

Kesatu: Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Kedua: Memberi peringatan dan memerintahkan penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga: Penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana
dimaksud pada Diktum Kesatu dan Diktum Kedua dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Keempat: Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan masyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Kelima: Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan atau perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum Kesatu dan Diktum Keempat dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keenam: Memerintahkan kepada aparat pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksaksanaan Keputusan Bersama ini.

Ketujuh: Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2008

Menteri Agama Muhammad M Baysuni
Jaksa Agung Hendarman Supandji
Menteri Dalam Negeri H Mardiyanto

Jelas semua harus diselesaikan dengan undang-undang. Saya tidak terlalu peduli siapa yang menyulut siapa duluan. Bagi saya, pembantaian atas nama agama, terutama agama saya, justru merupakan pelecehan. Maka Senin kemarin di Yogya juga ada aksi Bhinneka, yang menelurkan 7 Butir Pernyataan Sikap Solidaritas Yogya untuk Ahmadiyah :

1. Mengutuk keras aksi penyerangan & pembunuhan tersebut sebagai tindakan biadab dan anti kemanusiaan.

2. Kejadian ini menunjukkan bahwa pemerintah SBY tidak mampu melindungi hak-hak asasi warga sebagaimana diamatkan konstitusi.

3. Menuntut kepada pemerintah untuk mengusut tuntas & menyeret pelaku ke pengadilan.

4. Menuntut pemerintah untuk menertibkan kelompok-kelonpok pelaku kekerasan.

5. Meminta kepada media untuk lebih menunjukkan keberpihakkan pada hak-hak asasi warga yang dilanggar secara sewenang-wenang.

6. Kasus kekerasan yang berulang terhadap Ahmadiyah menunjukkan bahwa SBY telah bohong ketika menyatakan tidak ada pelanggaran HAM berat di Indo

7. Meminta kepada Komnas HAM untuk melakukan investigasi pelanggaran HAM terkait kekerasan terhadap Ahmadiyah

Demikian pernyataan ini kami buat demi tegaknya konstitusi dan Bhinneka Tunggal Ika. Tugu, Yogyakarta, 7 Februari 2011

 

One thought on “Yang Senin Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s