Yang Pesan Terakhir

Mengingat kamu, mengingat awal kita bertemu.

Di tengah kereta malam, dari Bandung menuju Jogja. Pacarku saat itu, baru saja mengecup keningku, berpisah.

Dan kita berkenalan. Singkat.

Tapi siapa sangka lalu kita bertemu lagi. Tidak ada yang bisa kuingat kapan, kenapa bahkan apa yang membuat kita dekat. Yang aku tahu, kamu, mata gelapmu memikat begitu dalam saat hatiku sedang limbung limbungnya. MJ, Kamu, Aku, Majikanku, Aku, serpihan hati yang lain, berputar, dan selalu ada kamu.

Selalu ada kamu.

Satu momen yang aku ingat, aku menjemput mu naik motor. Yang kamu sambut dengan tergelak gelak. “Aku punya mobiiiillll, deeeekkk…!!”

Entah bualan macam apa yang kubuat, lalu kamu ikut. Kita pergi jauh, ke puncak, dan mencari jalan curam turunan. Sambil tertawa dan menjerit jerit karena angin dingin menampar wajah, kamu melepas tangan dari setir dan berkata, “here, hold my hands.” Dan kita menggenggam, mengangkat tangan ke udara.

Seperti pasangan abege yang baru diracuni cinta, katamu. “padahal aku udah nggak semuda itu. aku nggak semuda kamu, dek.”

Apa yang kuingat tentang kamu selain gelak tawa itu?

Kamu yang selalu tenggelam dalam ruangan kerja, ruangan kita pernah sekali menjadi pimpinan dan tenaga lepas. Kamu dan buku buku bisnis mu. Kamu yang seperti ayahku.

Visi hidup. Manusiawi. Disela sela keseriusanmu pada pekerjaan, kamu mengajari aku perlahan, berubah menjadi manusia. Menjadi, memaafkan diriku sendiri.

Singkat. Harusnya singkat itu tidak mengesankan apapun. Kesalahanku menaruh hatiku dalam dalam disana. Dan ketika semua harus berakhir. Aku… kacau.

***

“Makasih ya dek, udah datang.” Sesosok wanita bermata teduh menepuk pundakku.

***

Hari ini, 26 Mei 2011

“Mas, aku sudah ketemu istrimu.” kataku menarik nafas berat,

“dan iya mas, dia pasti wanita yang luar biasa.”

Dan air mata itu turun perlahan, padahal aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis. Untuk berhenti menangisi kamu yang sudah kulakukan seminggu terakhir ini.

Lalu mungkin aku berhalusinasi, aku mendengar bisikmu (atau mungkin itu suara dalam kepalaku untuk menenangkan diriku sendiri?)

Setiap hari kita mendapat kabar kematian. Tapi tidak akan pernah kita siap menerima kabar kematian dari yang dekat kita, dek. Tapi dek, mati itu lebih baik. Karena kamu tahu, orang itu nggak mungkin balik, dan kamu harus move on. Dan kamu nggak perlu mengejar apapun. Sudah akhir, dek.

~ Spesial untuk Mas Elang, ayah, kakak, kekasih.

37 tahun, meninggal 19 Mei 2011.

8 thoughts on “Yang Pesan Terakhir

  1. setiap orang pasti pernah merasa kehilangan…
    kehilangan sesuatu, berarti memberikan kesempatan datangnya sesuatu yang lebih baik untuk kita….
    semoga begitu, amin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s