Yang Maha’lai Sayong Kwan (Haunted Universities)

Antologi film tampaknya memarak di Thailand, terutama setelah suksesnya Phobia dan Phobia 2. Haunted Universities yang di rilis Januari tahun 2010 kemarin pun merupakan sebuah antologi film, bercerita tentang 4 urban legends yang ada di kampus kampus. Dua sutradara muda, Bunjong Sinthanamongkolkul dan Sutthiporn Tubtim, memulai debut mereka dengan menjalin empat cerita horor ini dengan apik, sehingga benang benang halus yang menyambung satu cerita dan lainnya tidak meruwet.

The Toilet

Sebuah cerita pertama membuka tentang sekelompok gembong narkoba yang memaksa bandarnya mengambil narkoba, yang ditaruh di loker sebuah kampus angker. Namun karena rasa penasaran si bos, mereka menantang hantu di lantai lima yang mengerikan.

The Elevator

Cerita kedua juga tentang lift, tapi punya beda setting, seorang korban osepek kampus, dipaksa masuk ke “lift merah” sebuah lift angker yang berisi demonstran yang dibunuh massal ketika masa protes. Parah lagi, korban ospek ini adalah cucu dari komandan yang menugaskan pembantaian mahasiswa demonstran dulu.

Morgue

Sama seperti Phobia, selalu ada sisipan komedi dalam antologi filmnya. Morgue adalah setitik hiburan ditengah jeritan ngeri sepanjang 90 menit film ini. Lucu, iya. Serem juga iya. Seorang mahasiswa kedokteran gigi – yang takut dengan mayat – terpaksa menjaga sebuah kamar mayat disaat nyaris semua orang yang bekerja di rumah sakit mengambil cuti tahun baru. Sikap paranoidnya tentu saja hiburan dalam film ini, namun, halo, ini kamar mayat gitu loh, masa ga ada apa apa.

Stairway

Adalah cerita final, yang menegaskan benang benang halus penjalin cerita ini. Ibaratnya, kunci dari beberapa tokoh awal. Tentang sepasang gadis muda yang bermain web-cam chat, dan berakhir dengan pria pasangan chatnya bersumpah membunuh mereka. Yang mereka tidak tahu, adalah seberapa jauh si pria ini pergi menepati sumpahnya. Lalu kenapa judulnya harus stairway? Itulah saatnya anda untuk cari tahu.

Jika anda suka menonton Phobia, maka anda pasti bisa menikmati film ini, bisa dibilang, kualitas film ini diatas Phobia 2. Cukup memuaskan dan membuat anda menjerit jerit.

 

 

Yang enam puluh tahun

Kepada secangkir cokelat hangat kita bercerita. Tentang awal kita bertemu. Tentang bagaimana akhirnya kita sampai di sini.

Aku masih tergelak ketika teringat betapa lugunya, betapa kekanakannya, betapa egoisnya aku, ketika pertama bertemu denganmu. Aku, aku, dan aku. Hubungan ini harus selalu tentang aku, atau kamu boleh pergi dari kehidupanku seperti apa yang sudah dilakukan banyak orang dari masalaluku.

Dan ketika pertama bertemu denganmu, aku sudah yakin, “hei, hubungan ini tak kan bertahan lama.”

Tapi kamu begitu bertahan, mendengarkanku, mempercayaiku, mencintaiku, memahamiku, menjadikan hubungan kita bukanlah jalan dengan sejuta kemungkinan. Kamu lah yang menarik tanganku menuju sebuah kepastian. Dan janji yang selalu kamu pegang teguh, “apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama!”

Aku, kamu, sebuah keluarga! Aku tak kan menyangka akhirnya aku akan berkata “mau, nikahi aku!” ketika kamu melamarku. Lalu pada secangkir cokelat hangat ini, kita dan imajinasi kita yang melayang jauh. Enam puluh tahun dari sekarang, aku masih duduk di sampingmu, masih menjadi kita dan kedua tangan keriput kita saling bergenggaman, dan dengan sisa sisa suara yang ada, kita masih mampu berbisik, “aku masih mencintaimu, sayang.”

Yang BB Cream

Sekitaran pertengahan 2010 saya dikenalkan kantor sama BB Cream, sebuah product kecantikan yang ternyata sudah popular sekitar akhir tahun 2007, namun produk tersebut masih sukar dicari di Indonesia. Hingga sekitar dua bulan lalu, saya melihat Maybelline, sebuah brand kosmetik, meluncurkan produk BB Cream mereka.

BB Cream, atau Blemish Balm Cream, adalah sejenis foundation ringan atau tint moisturizer yang berfungsi melembabkan dan juga menyamakan warna kulit. Awalnya, BB Cream digunakan oleh para dermatologis sebagai soothing treatment balm pada pasien yang menjalani perawatan kulit dengan laser, karena mampu melindungi dan membantu regenerasi kulit. Tak lama, para artis korea menggunakan krim ini dan menjadikan BB Cream popular. Dan sejak saat itu, para ahli kecantikan korea mengembakan BB Cream dan menjadikannya lebih cocok untuk kulit Asia.

BB Cream juga mampu menutupi flek hitam, bekas jerawat dan warna kulit yang tidak rata dengan alami, juga memiliki oil control yang baik tanpa mengganggu kelembaban kulit. Walaupun berfungsi sebagai make up base, BB Cream punya fungsi jangka panjang untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan bekas jerawat. Jangka panjang di sini betul betul lamaaa, bukan instan menghilangkan, ya!

Karena setingkat di bawah foundation, BB Cream ini tidak setahan lama foundation, namun lebih ringan dan nyaman dipakai kemana mana. Selain sebagai make up base, ada beberapa BB Cream yang menyediakan fungsi lain, ada yang 4in1, 8in1, 6in1, silahkan perhatikan kotak sebelum membeli. Ada yang menyertakan fungsi anti-aging, whitening properties, acne cream, sun care, wrinkle repair, etc etc. Dan punya kandungan SPF yang berbeda.

Penggunaan BB Cream biasanya setelah skincare, pakai dulu moisturizer atau sunblock, baru BB Cream, tapi langsung dipakai ke wajah pun nggak masalah. Hanya, BB Cream bukan produk skincare jadi jangan di gunakan sebagai pelembab *misal, dipakai sebelum tidur*. Biasanya, setelah memakai BB Cream, tidak menggunakan foundation lagi karena fungsinya mirip.

Pada tahun 2007, Etude adalah merk pertama yang mengenalkan BB Cream di Indonesia dengan harga 240 ribu dengan ukuran 60ml. Lalu Missha Perfect Cover dengan harga 245 ribu ukuran 30ml, sedang yang 20ml 200rb. Nah jika memang agak kesulitan dengan beli di counter (karena harganya jadi jauh lebih mahal daripada aslinya), bisa membeli via online. Ada beberapa brand yang saya sarankan, seperti SkinFood yang memang terkenal bagus. A’pieau fresh, BRTC (kalau nggak salah 300-400ribuan untuk ukuran 50ml), Skin79, Hanskin, Mamonde, Isa Knox. Kebanyakan memang merk korea.

Kalo takut mencoba, beli yang ukuran mini atau sample aja, harga lebih murah dan bisa cari mana yang cocok untuk kulit. Selamat mencoba 🙂

Yang Berbuat Baik

Ada satu hal yang harus saya akui, saya punya self-esteem yang luar biasa rendah. Entah kenapa.

Saya selalu merasa tertinggal di belakang, tidak dicintai, dilupakan, insecure. Dan iya saya ini orangnya gak mau kalah dan maunya dikenal. Maka saya selalu berbuat baik. Untuk membuat diri saya sendiri nyaman.Untuk mendapat rasa dicintai, untuk… memperbaiki self-esteem saya.

Iya lho, egois ya? Teman saya soalnya pernah bertanya, kenapa saya segitu baiknya sama beberapa orang, dan saya ngga tau kenapa. Saya bukan orang yang berbakat untuk manfaatin orang lain, karena saya malah jadi berlomba untuk jadi lebih hebat dari orang lain, tidak menerima bantuan orang lain, malah sok sokan mau ngayomin orang lain.

Saya akui itu sifat jelek, dan saya ngga tau kenapa. Saya rasa, mungkin saya hanya ingin merasa nyaman dengan diri saya sendiri. Dengan menjadi orang baik. Walaupun saya tahu, menjadi baik saja tidak cukup, dan tidak akan pernah cukup.