Yang enam puluh tahun

Kepada secangkir cokelat hangat kita bercerita. Tentang awal kita bertemu. Tentang bagaimana akhirnya kita sampai di sini.

Aku masih tergelak ketika teringat betapa lugunya, betapa kekanakannya, betapa egoisnya aku, ketika pertama bertemu denganmu. Aku, aku, dan aku. Hubungan ini harus selalu tentang aku, atau kamu boleh pergi dari kehidupanku seperti apa yang sudah dilakukan banyak orang dari masalaluku.

Dan ketika pertama bertemu denganmu, aku sudah yakin, “hei, hubungan ini tak kan bertahan lama.”

Tapi kamu begitu bertahan, mendengarkanku, mempercayaiku, mencintaiku, memahamiku, menjadikan hubungan kita bukanlah jalan dengan sejuta kemungkinan. Kamu lah yang menarik tanganku menuju sebuah kepastian. Dan janji yang selalu kamu pegang teguh, “apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama!”

Aku, kamu, sebuah keluarga! Aku tak kan menyangka akhirnya aku akan berkata “mau, nikahi aku!” ketika kamu melamarku. Lalu pada secangkir cokelat hangat ini, kita dan imajinasi kita yang melayang jauh. Enam puluh tahun dari sekarang, aku masih duduk di sampingmu, masih menjadi kita dan kedua tangan keriput kita saling bergenggaman, dan dengan sisa sisa suara yang ada, kita masih mampu berbisik, “aku masih mencintaimu, sayang.”

2 thoughts on “Yang enam puluh tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s