Yang Patah Hati

Aku benci diriku sendiri.

Karena bersikap baik. Karena meminta maaf untuk hal yang tak pernah ku lakukan. Karena menjadikanmu hidupku. Karena membuang waktuku padamu. Karena memikirkanmu. Karena mengharapkanmu. Karena memaafkanmu. Karena berubah untukmu. Tapi terutama, karena aku tak mampu membencimu padahal aku tahu, aku harus.

Ya, saya tahu bagaimana rasanya patah hati.

Hampa, merasa dikhianati, tak ada kebahagiaan.

Anda tak ingin tertawa karena anda tahu itu tak kan membantu. Anda tak ingin menangis karena anda tahu itu hanya menjadikan anda merasa lebih buruk. Seperti kata pepatah, “the people who hurt you the most are normally the ones you love the most.” Seburuk apapun mereka memperlakukan anda, anda tak bisa membencinya. Dan seperti lingkaran setan, anda berusaha menerimanya, lega, move on. Tapi setelah itu, anda kembali pada fase penyangkalan, menghabiskan waktu lagi dengan air mata dan depresi. Dan seterusnya, hingga bahkan orang orang tak paham kenapa anda begitu jatuh ke dalam kenangan dan penyesalan.

Walau pada akhirnya anda lelah, anda sampai di titik di mana anda lelah dihantui penyesalan, dan mau tak mau berjalan maju. Walau sejuta orang berkata, “everything is going to be allright,you know it won’t.¬†And that’s the truth, it wont’t.

Anda masih terluka, tapi anda belajar untuk menyembunyikannya sehingga orang lain berpikir anda baik baik saja. Dan tiap kali anda melihat dia, anda sadar masih mencintainya dan hati anda dipenuhi rindu.

Yang Kopi Susu

Saya selalu benci Jakarta.

Entah karena Jakarta membuat saya lelah, entah juga karena dulu saat saya di Jakarta saya susah, atau entah karena Jakarta merubah pandangan saya tentang rumah, tentang mewah.

Saya teringat, ketika duluuuu sekali, hal hal “mewah” menurut saya adalah barang barang dari bingkisan parsel. Dan saat itulah saya merasakan kopi susu. Kopi nescafe biasa dengan creamernya, tapi buat saya itu mewah, dan yang membuat saya menunggu lebaran. Tapi jaman berubah, kami sekeluargapun berubah. Saya menjadi golongan anak muda pemuja kedai kopi. Pecinta kopi susu seharga lima belas ribu, yang padahal bisa dibeli sachetannya.

Jogja, ya.. Jogja. Ketika akhirnya roda kehidupan itu mulai bergerak ke atas, dan akhirnya kami sekeluarga bisa merasakan rumah yang tidak ada embel embel “dinas”nya. Saya pikir Jogja adalah rumah saya, rumah terbaik di mana saya mampu merasa aman karena bisa menjelajahi kota tanpa takut tersesat, di mana ada rasa aman walau pulang tengah malam ataupun menjelang subuh. Dan saya tetap membenci Jakarta, yang merebut waktu orang tua saya untuk membayar apa yang saya sebut mewah. Kopi susu lima belas ribu.

Maka saya menginjakkan kaki dengan malas malasan pada stasiun Gambir. Pada ibu kota saya menyapa dengan wajah lelah tujuh jam di kereta. Dan dengan senyum balas dendam, saya mengunyah sate ayam yang harganya empat kali lipat dari harga sate di Jogja. Balas dendam karena ini lah kemewahan yang dibeli dengan waktu orang tua saya. Waktu mereka bekerja dari jam enam pagi hingga jam enam sore. Sedikit tersendat pun akhirnya saya sampai di rumah. Rumah saya yang di Jakarta. Yang saya pikir saya tak akan betah.

Lalu, terciumlah aroma itu, kopi susu nescafe dan creamernya. Kopi susu hangat di dalam gelas melanin murahan yang saya beli dulu dan saya klaim sebagai gelas kesayangan. Di sana ibu saya menyambut dengan senyum rindu, dan sepiring nasi udang goreng sambal. Seakan seperti ditampar sebuah pelajaran. Ini bukan tentang urusan ibu kota dan kota biasa. Mungkin, ya, mungkin, rumah hanyalah kesederhanaan dalam kemewahan. Sesuatu yang murah namun sulit didapat. Murah, hanya perlu senyum hangat untuk merasa kembali ke rumah. Dan segelas kopi susu hangat dalam gelas melanin murahan kesayangan saya.

Yang Langit Malam

Seharusnya kamu membiarkanku mencintai orang lain selain kamu.

Sehingga aku tidak mempertanyakan mengapa kamu membuatku menangis? Mengapa kamu tak menemuiku untuk terakhir kalinya? Mengapa kamu bermain, menarik, mengulur, hatiku yang hanya satu satunya?

Padahal kamu selalu tahu, aku mampu menarik bintang dari langit malam dan menaruhnya di kakimu.

Padahal kamu selalu tahu, cintaku tak pernah melepaskanmu.

Karena, sama seperti langit malam yang luar biasa luas, hanya ada satu bulan di sana. Hanya ada kamu.

Yang To Women

To women, nice clothes are like armor, one strand of hair can determine her outlook for the day.

If she doesn’t have confidence in her appearance, she should try to become beautiful.

If she has confidence in herself, then she’ll be able to be courageous.

As she does, she’ll understand.. What sort of face she wants to present to the world as an adult.

~ choro, 2011