Yang Kopi Susu

Saya selalu benci Jakarta.

Entah karena Jakarta membuat saya lelah, entah juga karena dulu saat saya di Jakarta saya susah, atau entah karena Jakarta merubah pandangan saya tentang rumah, tentang mewah.

Saya teringat, ketika duluuuu sekali, hal hal “mewah” menurut saya adalah barang barang dari bingkisan parsel. Dan saat itulah saya merasakan kopi susu. Kopi nescafe biasa dengan creamernya, tapi buat saya itu mewah, dan yang membuat saya menunggu lebaran. Tapi jaman berubah, kami sekeluargapun berubah. Saya menjadi golongan anak muda pemuja kedai kopi. Pecinta kopi susu seharga lima belas ribu, yang padahal bisa dibeli sachetannya.

Jogja, ya.. Jogja. Ketika akhirnya roda kehidupan itu mulai bergerak ke atas, dan akhirnya kami sekeluarga bisa merasakan rumah yang tidak ada embel embel “dinas”nya. Saya pikir Jogja adalah rumah saya, rumah terbaik di mana saya mampu merasa aman karena bisa menjelajahi kota tanpa takut tersesat, di mana ada rasa aman walau pulang tengah malam ataupun menjelang subuh. Dan saya tetap membenci Jakarta, yang merebut waktu orang tua saya untuk membayar apa yang saya sebut mewah. Kopi susu lima belas ribu.

Maka saya menginjakkan kaki dengan malas malasan pada stasiun Gambir. Pada ibu kota saya menyapa dengan wajah lelah tujuh jam di kereta. Dan dengan senyum balas dendam, saya mengunyah sate ayam yang harganya empat kali lipat dari harga sate di Jogja. Balas dendam karena ini lah kemewahan yang dibeli dengan waktu orang tua saya. Waktu mereka bekerja dari jam enam pagi hingga jam enam sore. Sedikit tersendat pun akhirnya saya sampai di rumah. Rumah saya yang di Jakarta. Yang saya pikir saya tak akan betah.

Lalu, terciumlah aroma itu, kopi susu nescafe dan creamernya. Kopi susu hangat di dalam gelas melanin murahan yang saya beli dulu dan saya klaim sebagai gelas kesayangan. Di sana ibu saya menyambut dengan senyum rindu, dan sepiring nasi udang goreng sambal. Seakan seperti ditampar sebuah pelajaran. Ini bukan tentang urusan ibu kota dan kota biasa. Mungkin, ya, mungkin, rumah hanyalah kesederhanaan dalam kemewahan. Sesuatu yang murah namun sulit didapat. Murah, hanya perlu senyum hangat untuk merasa kembali ke rumah. Dan segelas kopi susu hangat dalam gelas melanin murahan kesayangan saya.

6 thoughts on “Yang Kopi Susu

  1. Oh bener sekali, Dik Chor. Dalem banget ini. A home not a house.
    “Mungkin, ya, mungkin, rumah hanyalah kesederhanaan dalam kemewahan. Sesuatu yang murah namun sulit didapat. “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s