Yang Kamu

Aku, kamu, adalah asing pada mulanya. Tapi ini yang ingin aku katakan pada dunia, aku beruntung mencintaimu, aku beruntung dicintai kamu.

“Kita adalah manusia manusia pencari solusi!” Jeritmu bergembira sambil menggenggam tangan, menjalin hubungan. Aku adalah monster tanpa perasaan, kamu, adalah akuntan kehidupan. Yang kita lakukan, bersinergi menjalani hidup dengan rasionalitas. Walaupun cinta, merambatkan perasaan naik ke otak.

Kita tak pernah berdebat hal yang sama lebih dari dua kali, kita tak pernah bertengkar karena hal hal sepele, kita tak pernah menjadi pasangan normal bagi dunia, tapi kita adalah pasangan sempurna bagi masing masing kita. Aku dan kamu, menjalani hidup tanpa beban marah masalalu seperti pasangan pasangan yang katanya normal itu. Aku, kamu, bukan saling kesal hanya karena merasa tak didengar.

Karena kita manusia manusia pencari solusi. Kita bercinta dan berdiskusi. Di semua tempat, termasuk di udara.

Walau romantisme kekakak-kanakan kadang muncul di sela waktu ruang belajar kehidupan kita. Aku dan kamu yang berbinar binar menyeruput mi panas dalam satu mangkuk, ataupun kita yang melupakan fungsi obat penurun panas dan memilih saling berpelukan untuk menurunkan suhu badan. Tapi tetap, kita manusia pencari solusi.

“KAMU ITU HARUS MULAI JAGA MULUT KAMU!”

“KAMU ITU YANG HARUSNYA BELAJAR LEBIH TEGAS, MASAK KUDU AKU YANG LEBIH TEGAS DARI KAMU!”

Perasaan itu menggerogoti otak, kita saling bersaing menjadi orang yang lebih pintar dan tak ingin kalah, padahal kita hanya ingin diakui masing masing kita. Bahwa aku pantas untuk kamu, kamu sempurna untuk aku. Terlalu cinta, istilah mereka.

Asing, teman, kekasih, musuh, saingan, sahabat, pasangan jiwa, pasangan hidup. Lalu kita menjalani semua fase ini perlahan. Ditandai dengan lembaran hijau pastel (iya, ini warna kesukaanku), yang aku kirim padamu, bertuliskan “aku sayang kamu, aku senang disayang kamu, kita sayang sayangan terus ya.” dengan gambar jari kelingking, sisi kekanakan yang menggeliat merayu kamu, berbaikan.

Aku pecinta masa lalu, godamu, ketika aku mengingatkan cerita ini. Aku tertawa, dan kamu memelukku dari belakang dan berbisik pelan, “kalau aku pecinta masa sekarang. Kamu.”

Selembar biru pastel (kalau ini, ini warna kesukaan kamu) terselip di kantong celemekku barusan, “aku sayang kamu, aku senang disayang kamu, kita sayang sayangan terus ya.” dengan gambar jari kelingking, sisi kekanakan yang menggeliat merayu aku.

Dan romantisme kekanakan itu, ketika orang lain merayakan hari jadi pernikahannya ke sepuluh dengan bulan madu entah ke sekian, aku memilih memeluk dan mengecupmu, melompat girang dengan berbinar binar dan berkata “Rasa sayangku ini tak habis habis untuk kamu!”

Yang Pada Akhirnya

Pada akhirnya meninggalkan kamu adalah keputusan yang sangat tepat.

Aku tersenyum puas ketika tanpa sengaja mengintip masa lalu. Kamu tidak berubah. Kamu dan pikiran kekanakanmu yang akan terus membuatmu terjebak di zona nyamanmu.

Salah? Tentu tidak buatmu. Kamu adalah pengecut yang hanya akan bersembunyi di sana. Tanpa pengalaman mengasyikkan dan seru yang bisa kamu banggakan nanti. Kamu, dan kehidupan homogen mu.

Lalu aku, lihat aku sekarang, aku terbang menjauh, jauh dan punya banyak kesempatan yang bisa aku raih. Yang aku nyaris lewatkan karena menghabiskan waktuku denganku. Tidak, tidak terbuang percuma kok. Aku belajar dari kamu tentang rumah, tentang bersantai, tentang pulang. Sehingga aku pun, ketika keluar dan berpetualang, akan tetap pulang. Tapi aku bukan kamu yang akan menghabiskan waktumu membusuk di tempat yang sama. Di zona nyamanmu šŸ™‚

Dan setelah sepuluh tahun nanti, ah tidak, terlalu jauh. Lima tahun lagi, atau mungkin tiga tahun lagi, kamu mungkin masih berada di sini, membusuk, tanpa cerita seru. Sedang aku? Aku jauh sekali pergi, dan jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, aku akan bertanya sambil membayarimu, “hai, apa kabar kekeras kepalaanmu dulu? kamu sudah punya apa untuk diceritakan untuk anak cucu kamu nanti? seru? menyenangkan? atau malah membosankan seperti kamu yang aku kenal dulu?”

Yang Patung Patung di Jakarta

“Mbak, itu patung apa sih?” tunjuk supir saya pada sebuah patung yang terlihat seperti monyet lempar lembing (ya ya terdengar bodoh) ketika saya sedang berjalan jalan di Jakarta. Saya jujur bengong, dan ga tau, sudah lama saya meninggalkan Jakarta pun saat di sini dulu, saya jarang berjalan jalan.

Supir saya melengos, “saya pikir mbak tau e, kan mbak sekolahnya lebih tinggi dari saya.” Saya melongo. Ya gimana, saya tidak diajari di sekolahan, harusnya common knowledge, ya? Tapi apa daya, saya kan cuma numpang lahir di Jakarta.

Anyway, saya akhirnya googling tentang patung patung di Jakarta. Sayang, tak ada satupun artikel di internet yang memberikan daftar lengkap patung ataupun monumen di Jakarta.

Continue reading

Yang Sendiri

Sekitaran 7 tahun lalu, saat saya masih kinyis kinyisnya (dan tetep kinyis sampe sekarang), saya sering sekali jalan jalan sendirian. Entah ngemall, nonton, belanja, lihat lihat buku (numpang baca gratisan), ataupun makan. Saat itu saya masih berada di sekolah menengah pertama.

Teman saya banyak sekali yang meledek, “kok mau maunya sih jalan sendiri“. Saya sih cuma bisa mesem, entah kenapa, sedari dulu, jalan sendiri itu nikmat, ga mesti diriwilin temen jalan. Apalagi saya paling lama itu window shopping di toko buku, bukan di toko baju. Dan kalau untuk menonton bioskop, saya lebih suka pemutaran siang menjelang sore ketimbang malam. Maklum, waktu itu punya jam malam jam enam sore. Eh, itu sih jam sore ya? Kalau makan, entah kenapa, saya kalo laper suka males nunggu nungguan, dan biasanya saya makan sambil baca komik, seolah tertutup dari dunia luar. Saya akui sih, saya kelihatan aneh saat itu.

Seorang teman malah berkata ekstrem, “lebih baik mati kelaperan deh daripada makan sendirian di luar.” Dan kalau saya makan sendirian dulu, sering banget digodain dengan kata, “kok sendirian aja mbak, temennya mana.. saya temenin ya?” Kebiasaan ini masih berjalan sampai sekarang, walaupun saya masih menikmati jalan sendirian, saya juga menikmati jalan bareng temen temen. Mungkin karena semakin berkembangnya interaksi sosial saya, saya lebih banyak menemukan orang orang dengan hobi atau selera makan yang sama.

Dan semakin berkembangnya jaman, sepertinya jalan sendirian ini pun tidak lagi dianggap keanehan. Makin banyak orang tidak lagi merasa malu berjalan (terutama makan) sendirian. Suatu siang saya pernah menjambangi foodcourt sebuah mall. Banyak sekali meja meja yang dihuni satu orang, mereka biasa saja menikmati pesanan mereka. Dari mbak mas kantoran, sampai pelajar sekolahan.

Perkembangan jaman, membantu sekali manusia untuk mengurangi cara interaksi langsung dengan manusia lainnya. Saya tidak tahu, apakah ini hal positif atau bukan. Ada banyak orang yang menikmati ditemani buku, laptop atau smartphonenya ketika makan siang. Selain lebih konsentrasi, mereka menemukan waktu untuk lebih menenangkan diri diantara kesibukan rutinitas mereka. Belanja sendirian pun rasanya jadi lebih fokus dan memuaskan. Menonton sendirian pun sepertinya jadi tidak terganggu dengan (kadang) teman yang riwil di sepanjang film. Bahkan, image orang yang jalan jalan sendirian sekarang bergeser menjadi orang yang sibuk dan tak punya waktu senang senang daripada orang kesepian. Jadi, masih ada diantara kalian yang masih anti jalan jalan sendirian?