Yang Sendiri

Sekitaran 7 tahun lalu, saat saya masih kinyis kinyisnya (dan tetep kinyis sampe sekarang), saya sering sekali jalan jalan sendirian. Entah ngemall, nonton, belanja, lihat lihat buku (numpang baca gratisan), ataupun makan. Saat itu saya masih berada di sekolah menengah pertama.

Teman saya banyak sekali yang meledek, “kok mau maunya sih jalan sendiri“. Saya sih cuma bisa mesem, entah kenapa, sedari dulu, jalan sendiri itu nikmat, ga mesti diriwilin temen jalan. Apalagi saya paling lama itu window shopping di toko buku, bukan di toko baju. Dan kalau untuk menonton bioskop, saya lebih suka pemutaran siang menjelang sore ketimbang malam. Maklum, waktu itu punya jam malam jam enam sore. Eh, itu sih jam sore ya? Kalau makan, entah kenapa, saya kalo laper suka males nunggu nungguan, dan biasanya saya makan sambil baca komik, seolah tertutup dari dunia luar. Saya akui sih, saya kelihatan aneh saat itu.

Seorang teman malah berkata ekstrem, “lebih baik mati kelaperan deh daripada makan sendirian di luar.” Dan kalau saya makan sendirian dulu, sering banget digodain dengan kata, “kok sendirian aja mbak, temennya mana.. saya temenin ya?” Kebiasaan ini masih berjalan sampai sekarang, walaupun saya masih menikmati jalan sendirian, saya juga menikmati jalan bareng temen temen. Mungkin karena semakin berkembangnya interaksi sosial saya, saya lebih banyak menemukan orang orang dengan hobi atau selera makan yang sama.

Dan semakin berkembangnya jaman, sepertinya jalan sendirian ini pun tidak lagi dianggap keanehan. Makin banyak orang tidak lagi merasa malu berjalan (terutama makan) sendirian. Suatu siang saya pernah menjambangi foodcourt sebuah mall. Banyak sekali meja meja yang dihuni satu orang, mereka biasa saja menikmati pesanan mereka. Dari mbak mas kantoran, sampai pelajar sekolahan.

Perkembangan jaman, membantu sekali manusia untuk mengurangi cara interaksi langsung dengan manusia lainnya. Saya tidak tahu, apakah ini hal positif atau bukan. Ada banyak orang yang menikmati ditemani buku, laptop atau smartphonenya ketika makan siang. Selain lebih konsentrasi, mereka menemukan waktu untuk lebih menenangkan diri diantara kesibukan rutinitas mereka. Belanja sendirian pun rasanya jadi lebih fokus dan memuaskan. Menonton sendirian pun sepertinya jadi tidak terganggu dengan (kadang) teman yang riwil di sepanjang film. Bahkan, image orang yang jalan jalan sendirian sekarang bergeser menjadi orang yang sibuk dan tak punya waktu senang senang daripada orang kesepian. Jadi, masih ada diantara kalian yang masih anti jalan jalan sendirian?

 

 

 

 

One thought on “Yang Sendiri

  1. Ah saya sering. Dari jaman masih kuliah sampe sekarang. Emang banyak yg nganggep aneh sih, tapi emangnya saya peduli? Toh saya jalan2 sendiri ga pake minta duit sama yg nganggep aneh itu.πŸ˜†

    Ah ya, saya pernah jg kok nulis soal beginian di blog. Ntah berapa tahun yg laluπŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s