Yang ~M~

You know, I want to die. But you know what, when I’m cutting myself… and I think how I’m going to die alone, somehow.. I get lonely and I can’t do it. So i tried to find a suicide partner, but no one was really right. It’s the person who I would spend my last moments with, so it’s not the sort of thing you want to just settle for, you know?

Why? Why do you want to die so badly??

Hmm.. No reason really… But we don’t have any real reason to live either, do we?

Say, have you ever felt like this? Your heart beats and it hurts. You breathe in and become sad. You want to erase yourself from the world.. You want to destroy… the root of that breath.

In memorial, M.

Advertisements

Yang Setahun Merapi

Chor, TTC besok “Setahun Mengenang Merapi”, dan sekaian reunian sama teman2 posko, terutama posko Merapi View!

Sebuah pesan muncul di layar monitor saya, (by the way, teng teng crit adalah tenguk tenguk crito, sebuah mini gathering dan mini talkshow di jogja), sebut saya sentimentil, mengingat waktu sudah berjalan setahun dari merapi membuat saya terharu. Sudah setahun saya mengenal teman teman baru saya, mengenal orang lain yang punya satu misi dan visi yang sama untuk membantu korban merapi.

It was a year ago, ketika saya dengan impulsifnya tengah malam naik ke merapi and have no idea seberapa rusak jalan yang akan saya tempuh. Modal cuma nekat, motor dan masker karena hujan abu yang tebal. Dan di sana saya merasakan betapa bergunanya teknologi internet, while kebanyakan dari kita masih menggunakan twitter  sebagai ajang apdet status “aku lagi makan” atau “aku cedih bangetz”, saya mampu menggerakkan orang orang yang mau naik untuk membawa barang lain selain masker dan obat tetes mata.

Lho kok?

Iya, awal pemberitaan dari radio dan televisi selalu menyebutkan mereka butuh masker, obat tetes mata dan obat batuk, kenyataannya sampai di sana barang barang itu sudah menumpuk dan jadi ga berguna. They need what we think they don’t, at that time. Kepikiran ga kalo pengungsi (yang baru mengungsi dua jam) butuh obat sakit kepala, minyak kayu putih, selimut dan pembalut? It was midnight, tapi karena berita itu, banyak orang dari bawah (merapi lokasinya di sisi atas jogja :D), yang akhirnya bawa macem macem yang lebih berguna.

Saya masih ingat sumpah saya setahun lalu (dan cerita pendek saya saat itu), saya akan kembali ke atas. I did. Gerakan merapi bersama teman teman online cukup panjang, kurang lebih hingga lebih dari 10 minggu. Bahkan setelah itu saya mendapat KKN berlokasi di sana, dan masih merasakan efek letusan kemarin.

Dan semua itu sudah terjadi setahun lalu, terakhir saya ke sana masih belum banyak perkembangan, tapi mereka sudah mampu berdiri, seolah letusan merapi kemarin tak ada efek apapun. Saya tahu saya bukan orang jawa, and it might be over react if I say these, “merapi itu membuat saya sentimentil.”

Setahun lalu, dan sekarang.

Jadi teman teman, silahkan datang ke teng teng crit besok tanggal 28 Oktober 2011 di AGK (Angkringan Gedong Kuning) informasi lebih lanjut monggo kontak @argamoja.

Please let me know what you discuss di sana yah. I really want to be there and reunited with people that help merapi year ago!

Yang The Thing Called God

I was thinking…
that perhaps this thing called God does not exist.

Because He cannot save any one of us
No matter how we pray, He doesn’t mend our wounds
No matter how we plead, He doesn’t strike down our enemies
There hasn’t even been an instance where He has cured our sick
Powerless, we can only wait to be tossed on dirt of a foreign land
He doesn’t have a thread of spiritual presence
If only there were a shadow, a whisper. But I haven’t felt Him once.

… and so…

… So, What is it that you want now?

… perhaps,

a demon?

 

~taken from Giglio.

Yang Keberadaan Orang Gila

Siang itu, ketika menyelinap diam diam dari kelas yang membosankan, saya tak sengaja membaca berita ini.

“We have 9,000 community health centers throughout the country, but only 70 establishments provide services for patients with mental problems,” she said during the commemoration of World Mental Health Day in Bogor, West Java.

There are only two mental hospitals in Jakarta — Duren Sawit Hospital and Soeharto Heerdjan Hospital — along with four mental health institutions and 44 community health centers that can handle patients with mental problems. 

Indonesia has one of the lowest psychiatrist-population ratios in the world. Currently, there are only 600 psychiatrists nationwide — approximately one psychiatrist for every 400,000 to 500,000 people.

The ideal ratio is one for every 30,000 people, which means Indonesia would need about another 8,000 psychiatrists.

Saya, entah kenapa, kesal membaca berita ini. Saya paham, naif jika tetiba saya berharap pemerintah atau masyarakat melirik masalah ini. Mungkin kita lebih khawatir populasi orang utan punah ketimbang bertambahnya orang orang gila. Kenapa tidak sekalian pemerintah membantai saja? Toh, tak ada yang mau mengurus dan merawat mereka.

Yang Yusuke Ono

It was a relationship like just out of a French movie…

It started.. In the first fifteen minutes, we met each other and had sex… 

And the rest of the one hour and forty five minutes were spent fighting and breaking up.

Really.. It was just like a French movie until the very end…

Yang Boys Love 2

Lho kok 2? Yang 1 mana?

Haha, saya nggak mau review yang pertama karena gregetnya kurang nih. Kali ini saya mau share a gay themed movie, Boys Love. Boys Love pertama dirilis langsung ke DVD pada tahun 2006, karena cukup terkenal, tahun 2007 sang sutradara, Kōtarō Terauchi dan bintang utama Yoshikazu Kotani diajak bermain lagi di Boys Love Theater Edition (Boys Love The Movie; Boys Love 2; Schoolboy Crush)

Can I love you, teacher?

Boys Love 2 dibuka ketika Aoi yang baru diputuskan pacarnya memilih tidur dengan Sora, pemuda yang menjual diri. Aoi sendiri adalah guru dari SMA yang cukup bergengsi. Tak disangka, keesokannya, Sora ternyata adalah murid baru di sekolahnya. Disaat Aoi berusaha menyembunyikan kenyataan dia “pernah tidur” dengan Sora, Sora malah gigih menggoda Aoi.

Terdengar simpel dan klise kan? Nyatanya ngga, Sora yang tampan dan bisa segala hal menjadi bintang di sekolah barunya membuat Ichiyo, seorang pemalu dan teman sekamar pertama Sora, tergila gila dengannya, dan Riku yang “penguasa” sekolah tersebut menjadi geram dengan Sora. Gara gara orang ketiga (dan keempat) gini, Aoi malah tidak bisa melepaskan matanya dari Sora.

Teacher, do you love me? | Maybe. | Then, would you kill me? I like this moment, I want to end it now.

Ketika menonton Boys Love yang pertama, tiga perempat film benar benar bagus, plot dan perkembangan karakter yang kuat bikin saya penasaran. Tapi ketika muncul klimaksnya, agak mengecewakan karena ternyata kurang nendang. Tapi Kōtarō Terauchi mampu memperbaikinya di film ke dua ini.

Cerita Boys Love 2 jauh lebih kompleks, dengan lebih banyak nya karakter dan perkembangan cerita ke arah yang.. lebih tidak terduga. Walau masih dengan bumbu yang sama, hubungan antara dua pria, obsesi, dan kecemburuan yang berlebihan. Namun, Boys Love 2 lebih dewasa, dan lebih matang dari pada film pertamanya. Hubungan antar karakter, dan tumbuhnya emosi juga lebih halus namun kuat. Satu hal yang saya suka dari Kōtarō Terauchi, dia memasukkan banyak kutipan untuk memperkuat emosi dan keadaan cerita.

Saya memang tidak banyak mengikuti gay movie, tapi tema hubungan sejenis di film Jepang kebanyakan bukan seperti menyembunyikan hubungan karena keduanya pria (dan hubungan mereka melawan moral). Entah kenapa, menurut saya, jika seandainya pemerannya diganti pria dan wanita pun, plot seperti ini masih bisa menjadi Drama Romantis yang menyentuh.

Oiya, selain hanya karena semua (iya, semua) tokohnya pria, ada adegan kekerasan dan backless, tak ada yang perlu ditakutkan dari film ini. Bahkan dalam Boys Love yang pertama ga ada kissing scenenya! Mwahahaha.

Yang Menyakitkan

Aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Sangat jauh. Bahkan terlalu jauh untuk mengenal kamu lebih.

Aku bukan siapa siapa kamu, pemuja belaka. Aku tak pernah jatuh cinta pada sesuatu yang jauh. Hanya kamu.

Lalu, ketika aku terpaksa melihatmu menangis terluka dari jauh – walau ingin berlari kesana lalu memelukmu – apa yang aku harus lakukan? Menyakitkan. Sesak. Aku tak ingin melihatmu terluka, pun tak ingin memalingkan wajahku sejenak untuk berhenti memperhatikan kamu. Karena aku tak mampu membuatmu tersenyum. Karena aku bukan siapa siapa kamu

Menyakitkan.