Yang Boys Love 2

Lho kok 2? Yang 1 mana?

Haha, saya nggak mau review yang pertama karena gregetnya kurang nih. Kali ini saya mau share a gay themed movie, Boys Love. Boys Love pertama dirilis langsung ke DVD pada tahun 2006, karena cukup terkenal, tahun 2007 sang sutradara, Kōtarō Terauchi dan bintang utama Yoshikazu Kotani diajak bermain lagi di Boys Love Theater Edition (Boys Love The Movie; Boys Love 2; Schoolboy Crush)

Can I love you, teacher?

Boys Love 2 dibuka ketika Aoi yang baru diputuskan pacarnya memilih tidur dengan Sora, pemuda yang menjual diri. Aoi sendiri adalah guru dari SMA yang cukup bergengsi. Tak disangka, keesokannya, Sora ternyata adalah murid baru di sekolahnya. Disaat Aoi berusaha menyembunyikan kenyataan dia “pernah tidur” dengan Sora, Sora malah gigih menggoda Aoi.

Terdengar simpel dan klise kan? Nyatanya ngga, Sora yang tampan dan bisa segala hal menjadi bintang di sekolah barunya membuat Ichiyo, seorang pemalu dan teman sekamar pertama Sora, tergila gila dengannya, dan Riku yang “penguasa” sekolah tersebut menjadi geram dengan Sora. Gara gara orang ketiga (dan keempat) gini, Aoi malah tidak bisa melepaskan matanya dari Sora.

Teacher, do you love me? | Maybe. | Then, would you kill me? I like this moment, I want to end it now.

Ketika menonton Boys Love yang pertama, tiga perempat film benar benar bagus, plot dan perkembangan karakter yang kuat bikin saya penasaran. Tapi ketika muncul klimaksnya, agak mengecewakan karena ternyata kurang nendang. Tapi Kōtarō Terauchi mampu memperbaikinya di film ke dua ini.

Cerita Boys Love 2 jauh lebih kompleks, dengan lebih banyak nya karakter dan perkembangan cerita ke arah yang.. lebih tidak terduga. Walau masih dengan bumbu yang sama, hubungan antara dua pria, obsesi, dan kecemburuan yang berlebihan. Namun, Boys Love 2 lebih dewasa, dan lebih matang dari pada film pertamanya. Hubungan antar karakter, dan tumbuhnya emosi juga lebih halus namun kuat. Satu hal yang saya suka dari Kōtarō Terauchi, dia memasukkan banyak kutipan untuk memperkuat emosi dan keadaan cerita.

Saya memang tidak banyak mengikuti gay movie, tapi tema hubungan sejenis di film Jepang kebanyakan bukan seperti menyembunyikan hubungan karena keduanya pria (dan hubungan mereka melawan moral). Entah kenapa, menurut saya, jika seandainya pemerannya diganti pria dan wanita pun, plot seperti ini masih bisa menjadi Drama Romantis yang menyentuh.

Oiya, selain hanya karena semua (iya, semua) tokohnya pria, ada adegan kekerasan dan backless, tak ada yang perlu ditakutkan dari film ini. Bahkan dalam Boys Love yang pertama ga ada kissing scenenya! Mwahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s