Yang Permohonan Maaf @BNI46

Pagi ini saya ditelepon oleh seseorang yang ternyata pihak BNI, sang CS dengan pimpinannya datang ke rumah, adapun tujuannya adalah untuk mengklarifikasi tulisan kemarin serta mengajukan permohonan maaf. Kaget sih, saya langsung segera pulang dan mendapati ada pimpinan cabang UGM, pimpinan bidang, CS dan Customer Voice (CMIIW). Seperti kata mas @ryudeka, walau banyak oknumnya yang kacau, tapi handling complain @BNI46 memang termasuk cepat dibanding bank lain 🙂.

Adapun saya diberi penjelasan bahwa, mencetak baik rekening koran ataupun mencetak buku tabungan itu tidak ada batas maksimal, dan terserah nasabah untuk mencetaknya, ini dinyatakan oleh bapak Wisnaldi, pimpinan BNI cabang UGM. Bahkan kata pak Edwin Marpaung, selaku pimpinan bidang, menyatakan seharusnya Customer Service tidak menolak, karena “semakin banyak diprint (dan kena biaya, maksudnya) justru malah menguntungkan BNI kan.”

Saya sih, cuma bisa manggut manggut, karena jujur, informasi macam begini kan tidak sampai di Customer Service dan nasabah. Saya pikir, jika seandainya pun saya berada dalam posisi salah (misal jika seandainya ada ketentuan bahwa mencetak rekening koran pribadi terkena maksimal berapa bulan) customer service bisa menyatakan dengan senyum, atau minimal wajah biasa saja. Gak ada satupun yang suka digrundeli di depannya toh.

Nah, berhubung saya sendiri sudah menerima permohonan maaf tersebut, saya juga tidak ada keinginan memperpanjang masalah ini. Toh apa yang sudah saya rasakan sudah saya nyatakan. Adapun dengan ini, saya menyatakan masalah ini saya anggap selesai dan tidak akan diperpanjang lagi. Terima kasih Bank BNI.

 

Advertisements

Yang CS BNI, Hobi mengeluh

“Aduh mbak, banyak sekali yang harus dicetak.”

 

Percayalah, kalimat di atas bukan sekali dua kali saya dengar.

Siang tadi karena sebagai syarat membuat visa, saya diharuskan mencetak rekening koran sejak enam bulan sebelumnya. Awalnya mereka bilang untuk keperluan visa itu cukup mencetak tiga bulan saja, sayang pihak travel bilang enam bulan, jadilah saya mencetak lagi.

Sampai di BNI, saya dilayani oleh ibu Halimah N.H, dengan muka jutek, entah pengaruh jam makan siang tapi dia masih harus kerja, atau mungkin sedang datang bulan, atau memang dasarnya judes, saya tidak tahu dan tidak mau tahu juga.

Keluarlah kalimat itu.

“Aduh kok banyak sekali mintanya enam bulan.” dan perdebatan bahwa sebaiknya tiga bulan saja. Kalimat “iya bu, saya sudah cetak tiga bulan kemarin, tapi sama pihak travel dikembalikan” seperti tidak digubris, atau mungkin tiga kali saya ngomong gitu ga ada satupun yang didengar.

“Aduuuh, ini kena biaya cetak lho mbak, selembar dua ribu lima ratus.” Ouch, sakit rasanya saya seperti tidak dianggap mampu membayar dua puluh dua ribu lima ratus untuk biaya cetak. Yaya, muka saya memang kelihatan miskin, dan kesana pake tas kain murahan, wajar lah ya dianggap ga mampu sama ibu customer service.

Saya sering sekali mengalami dijudesi karena harus mencetak banyak, terutama ketika saya menyetor tunai. Maklum, majikan saya masih ngasih gaji dengan amplopan, dimana ketika saya harus setorkan ke bank saya bawa buku tabungan. Ya bisa aja sih ga usah saya setor, tapi bahaya kalo saya pegang cash agak banyak. Bisa norak terus kalap di pasar.

Saya pikir dulu cuma teller yang emang ditraining jadi judes, ternyata CS pun begitu, ketika saya harus ganti buku, saya harus menghadapi CS yang ketika terpaksa mencetak banyak juga tiba tiba melengos dan menatap saya dengan wajah hina “jarang ke bank ya mbak, nyetaknya banyak nih.”

Saya curiga, sepertinya ibu ibu BNI ini ditraining untuk menjudesi klien nya TEPAT di depan mukanya. Seakan saya salah kalo saya ga punya waktu buat ke bank untuk mencetak aja. Generalisasi? Memang, tapi sejak tahun 2007 jadi nasabah tetap BNI saya kenyang sih dan sampai kebal dijudesi mereka. Maka saya anggap ini bukan generalisasi, memang mereka ga dididik untuk nggak menghargai nasabahnya.