Yang Arisan! 2

Delapan tahun lalu, saya jatuh cinta pada sebuah film Indonesia, arisan!, jujur saya berharap Nia Dinata mau membuat sequelnya, tapi tidak saya sangka ada dalam rentang waktu yang lama.

Arisan!2 menceritakan kisah Nino, Sakti, Meimei, Andien dan Lita delapan tahun kemudian. Dimana semua sudah berubah banyak, Sakti dan Nino yang berpisah, Lita yang menjadi single parent dan membesarkan puteranya Talu, Andien yang masih tetap eksis sebagai janda kaya dengan banyak pria berbeda yang menemani malam malamnya, dan Meimei yang berlibur ke sebuah pulau, namun ternyata sedang berterapi kankernya.

Dalam arisan!2 ada banyak tokoh baru, seperti dr. Joy, seorang dokter kecantikan,  dan Ara, rekannya. Mas Gery, pria paruhbaya pacar baru Sakti. Lalu Octa, brondong baru Nino. Talu, anak dari Lita dan lainnya. Cerita arisan!2 juga tidak berfokus pada semua tokoh seperti yang pertama, tapi lebih berfokus pada Meimei dan tentang kehidupan.

Namun disinilah menurut saya lemahnya arisan!2. Terlalu banyak cerita yang hanya dicolek sekilas lalu sudah. Andien masih belum kapok memilih pria pria lain. Lalu? Ya sudah. Lita merahasiakan siapa ayah dari anaknya, semua penasaran, tapi ya sudah. Octa berondong yang masih labil dan berpacaran dengan Nino, pria yang masih intense contact dengan mantannya, cuma menunjukkan sisi bocah yang sedikit dan tanpa klimaks yang ya sudah. Gak lebih.

Semuanya, buat saya, terasa ngambang. Pada akhirnya seperti kata Meimei di narasinya. Ini hidup, nikmati saja. Ini cerita kami, delapan tahun kemudian, nikmati saja, tak ada klimaks berarti.

Padahal buat saya ada buanyak biyanget yang bisa digali, seperti hubungan Sakti-Gery-Nino-Octa yang buat bisa lebih dramatis. Atau bagaimana kelima sahabat ini menerima kenyataan dan memaksa Meimei bercerita tentang penyakitnya. Atau tentang keluarga Gery. Atau tentang banyak hal lagi. Karena banyak sekali simbolisasi yang Nia Dinata lakukan di film ini dan sayang kalau hanya dinumpang lewatkan.

Apakah arisan!2 lalu menjadi jelek? Oh tentu tidak. Hanya kurang memuaskan ekspektasi saya yang dulu bener bener naksir dengan film pertamanya. Sindir sindiran masih ada di film ini, tapi jauh lebih eksplisit. Buat saya arisan!2 terlihat kasar dan ngambang namun dengan kualitas akting yang keren dan pengambilan gambar yang cukup indah.

Selain cerita, saya kecewa dengan bagaimana 21cineplex memberikan sinopsis yang terlalu berspoiler dan berantakan. Lalu, penempatan iklan yang kasar, saya pikir arisan yang pertama tidak sekasar ini. Dan Rio Dewanto. Maksud saya, dia tidak berakting jelek sih, dia memang berakting ala abege usia 21 *seusia saya* yang labil dan pecinta sugar daddy. Karakter Octa nya dapet, akting ngondek genggesnya dapet, tapi tetep ajaaaaaaaaaaaa.. Rio Dewanto masih terlihat terlalu macho! Jadinya dia dan gaya berpakaiannya agak gak sinkron, tapi ini personal aja. Selain itu gaya rambut Tora Sudiro juga mengganggu, berpikir delapan tahun lalu Sakti adalah gay-metropolis yang agak kalem, namun sekarang berubah menjadi pria yang agak kemayu. Tapi lagi lagi, ini personal 🙂

Anyway, jika dalam arisan! Tora Sudiro mampu mencuri mata dalam akting perdananya (Tragedi gak dihitung ya :p), maka di arisan!2 justru Surya Saputra menarik perhatian. Sarah Sechan tak bisa dipungkiri membuat film ini makin hidup dan yah, SarSeh gitu, aktingnya gak perlu diragukan lah. Tapi tenang saja, nyaris semua aktor dan aktrisnya bermain apik kok.

Lalu dalam skala 1-10 berapakah nilai arisan!2?

6.

Tidak jelek, tapi juga kurang spesial. Layak tonton? Jelas, tapi untuk wajib ditonton saat ini juga detik ini juga, saya rasa tidak.