Yang Hampa

“Aku tak ingin tidur.”

“Eh, kenapa?”

“Entahlah, aku takut terbangun dengan rasa sakit di dada.”

“Asma?”

“Bukan, seperti ada lubang hitam di sana, lalu menghisap tenaga dan sisa sisa kebahagiaanku….

…Kamu tahu, aku lelah berpikir ‘bagaimana jika’, atau ‘seandainya saja’. Seperti memberikan persidangan imajiner dalam kepalaku, di mana terdakwa nya adalah diriku sendiri, penuntutnya pun diriku sendiri dan dihakimi oleh diriku sendiri. Mungkin ini yang namanya hampa.

…Sudahlah, aku tak ingin bicara, peluk aku.”

“Kamu masih ingat kan, apa yang kuajarkan padamu tentang kota ini?”

“Ya, karena aku dari kampung dan ibukota ini jahat, aku tak boleh mempercayai semua orang.”

“Kamu tahukan, aku termasuk dalam ‘semua orang’ itu?”

“Tahu, paham malah. Tapi aku tidak peduli, aku sedang tak ingin peduli. Peluk aku.”

One thought on “Yang Hampa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s